HIDUPKU

HIDUPKU
Sebuah penantian manis


__ADS_3

Hari itu berawal dari Yas percaya akan menemukan kiara lagi di lain waktu, dia benar benar bangkit dari keterpurukan dan masa paling sulitnya. Hari hari yang kelam penuh dengan kesesakan dalam hatinya, harus dia tepis jauh jauh demi seseorang yang barangkali sedang menunggunya.


Satu tahun Yas terpuruk dari rasa kehilangan, dan satu tahun berikutnya dia bangkit dengan gagah dan berani, menentang setiap rasa sakit dan rapuh sampai pada akhirnya Yas kembali menjadi orang yang seperti semula sebelum mengenal CINTA.


2 tahun sangatlah lama bila dirasa, Yas masih tetap bertahan dengan kesendirian tanpa kabar dari pujaan hatinya. Hans selalu mencoba memberi yang terbaik, tapi dengan hati yang masih ingin menepi, Yas masih setia menyendiri.


"Bagaimana hubunganmu dengan sofia Hans"


"Semua berjalan dengan baik"


"Kau harus menjaganya. Jangan pernah melakukan kesalahan atau kau akan menyesal nantinya"


"Sofia bukanlah Kiara. Dia tida akan punya keberanian untuk memilih sesuatu"


"Kapan acara pertunangan mu?"


"Minggu depan. Aku merasa waktu benar benar singkat. Aku tida berencana sampai sejauh ini, tapi sofia benar benar menghadapi ku dengan apa adanya. Aku beruntung memilikinya"


"Aku turut bahagia untuk mu"


"Bersenang senanglah nanti di pesta. Kau sudah sangat jarang menghadiri acara seperti ini. Mungkin jika bukan aku yang bertunangan, kau akan melarikan diri lagi. Mulailah mencari hati yang baru Yas, banyak yang menginginkan posisi Kiara di hatimu. Jangan buat kecewa sahabat mu ini. Kita sudah sangat lelah dengan perusahaan. Waktunya menghabiskan waktu untuk seseorang bukan"


Yas hanya tersenyum menanggapi obrolan Hans.


Mungkin bagi sebagian orang waktu memang sangat cepat bergulir, disertai kebahagiaan dan tawa dari orang orang yang sangat kita cintai membuat hari hari semakin singkat dan jelas. Bahwa hidup layak untuk di dinikmati.


Sekali lagi, hanya Yas yang tida berubah, masih menganggap putaran waktu sangat lambat dan menyesakkan. Masih menunggu seseorang dengan sabar dan ramah. Dia tida ingin beranjak dan pergi meninggalkan, hatinya masih tetap milik Kiara seorang, tida akan terganti dan tida akan pernah.


Hidup memang seperti itu, ada yang mendapatkan dan ada yang kehilangan. Ada yang berbahagia dan ada yang terpuruk menunggu. Ada yang masih bertahan dan ada yang harus menyerah. Semua hanya soal keberanian, harus berani akan memulai sesuatu yang baru.

__ADS_1


Kenangan yang singkat dengan Kiara membuat Yas sadar, merindukan itu bukan soal berapa lama mereka berpisah, tapi berapa banyak cinta yang sudah mereka berikan.


--**--


Satu minggu kemudian


"Selamat Hans, selamat juga untukmu Sofia"


"Terimakasih sahabatku"


"Bersenang senanglah"


Pesta sangat ramai malam ini, tida di sangka Sofia memiliki beberapa koneksi dengan beberapa orang. Banyak sekali tamu penting yang dilihat Yas malam ini. Tapi, benar benar tida ada yang menyenangkan hatinya. Banyak dari mereka yang menawarkan diri untuk menemani dan sekedar mengobrol. Namun Yas lagi lagi menolak dengan sopan, dia tida nyaman dengan sikap para tamu yang menganggap dirinya berlian.


Yas ingin menyudahi dan lari dari pesta malam ini. Namun, dirinya harus mempertimbangkan bagaimana hati Hans jika melihat sahabatnya kacau dan tida nyaman. Maka dari itu Yas memilih untuk diam dan seolah menikmati pesta ini.


Yas memegang segelas anggur hitam di tangannya. Beberapa kali anggur itu ia teguk untuk menghilangkan rasa bosan karena tida nyaman berada di sekelilingnya. Lalu entah mengapa untuk beberapa saat, seketika matanya tertuju dengan seorang wanita yang tengah berbincang dengan beberapa orang. Wanita itu memakai gau mewah hitam yang membuat Yas berfikir kalangan papan atas mana yang tengah hadir di tengah tengah pesta ini.


“Black Diamond” sebuah nama yang di berikan oleh perancangnya untuk gaun hitam mewahnya kali ini. Yas sudah mengingatnya, mengingat mengapa dia mengenal gaun itu, yaitu ketika dia menghadiri acara fashion show bulan lalu di London. Karena effort yang luar biasa, gaun seberat 1,45 kg tersebut pun diberi harga yang tak main-main oleh perancangnya. Sekitar 78 miliar Rupiah untuk membelinya. Yas pikir, apa wanita itu seorang model yang sedang mempromosikan karya Debbie Wingham, atau dia yang sengaja membelinya untuk pesta malam ini.


Yas lagi lagi memperhatikan punggung wanita itu, entah mengapa Yas merasa ini benar benar menarik baginya. Bahkan Yas sempat berpikir akan menghampiri dan menyapanya.


Ketika Yas mencoba melangkahkan kaki, berniat ingin sekali menyapanya, tiba tiba wanita itu melangkahkan kaki terlebih dahulu untuk keluar ruangan, karena menerima sebuah panggilan telfon. Yas melihatnya sendiri, dia menjauhi gedung pesta dan keramaian. Dan entah mengapa dengan perasaan yang benar benar penasaran, Yas jadi mengikuti wanita itu dari belakang, hanya untuk sekedar memastikan akan kemana dia pergi dengan panggilan itu.


Yas memperhatikan wanita itu dari kejauhan. Dia masih menerima sebuah panggilan rupanya, namun setelah beberapa saat, wanita itu menyudahi dan berdiam diri sembari menatap langit dengan perasaan Resah. Ingin rasanya Yas segera menyapanya, namun sepertinya Yas sadar akan situasi. Wanita itu butuh waktu untuk sendiri dan harus menghirup udara segar.


*Siapa dia* benak hati yas berdesir.


Saat Yas sedang asik mengintai mangsanya, tiba tiba sebuah panggilan masuk berdering mengagetkan suasana penasarannya kala itu. Rupanya Hans telah kehilangan dirinya di dalam pesta.

__ADS_1


"Sedang apa kau? Sungguh kau ingin mengecewakan aku, apa kau benar benar pergi saat ini ....


Hans masih berbicara disana, tapi Yas samasekali tida memberikan suara pada Hans yang menanyakan dirinya, Yas sibuk dengan debaran jantungnya kala wanita yang ia ikuti melihat ke arahnya karena sebuah suara telfon. Ya, wanita itu melihat Yas dengan jelas, dan Yas melihatnya dengan benar benar jelas saat ini, bukan hanya punggungnya saja, tetapi wajahnya. sampai Yas hanya mampu mengucapkan satu kata.


"KIARA"


Hans yang mendengar suara Yas mengatakan hal seperti itu sungguh sangat geram dan jengkel. Lagi lagi sahabatnya dalam suasana yang kacau.


"Hei kau dimana. Jangan membuat ulah. Apa kau tida punya perasaan huh? Aku ini di anggap apa olehmu, lagi lagi dalam suasana ramai begini kau mengigau memanggil namanya. Apa kau mabuk. Apa kau baik baik saja. Yas. Katakan sesuatu"


Yas menjatuhkan gelas yang sedang di genggamnya, lalu mengabaikan suara Hans yang masih mengomel di telfon. Yas merasa dadanya sesak seketika, merasa dunia sedang bercanda dengannya malam ini. Mana mungkin wanita yang sedang menatapnya dan sedang dalam pandangannya saat ini merupakan kekasihnya.


Dua manusia itu masih saling mematung, masih saling menatap dan tida ada yang memulai pembicaraan. Sampai saatnya, wanita tadi berjalan mendekat ke arah Yas dan mengatakan.


"Selamat malam tuan"


Yas tida merespon, masih dengan ketidakpercayaan bahwa wanita yang ada di hadapannya benar benar menyapanya kali ini. Tapi entah mengapa Yas malah menjadi lemah, sekujur tubuhnya kaku dan dingin, dadanya semakin sesak dan tida terkendali, bahkan Yas meneteskan air mata.


"Apa anda baik baik saja?"


Lagi lagi wanita itu bertanya. Dia seperti tida mengenal Yas, seperti hanya mengenal orang baru.


"Apa anda banyak minum? Apa perlu saya menghubungi seseorang?"


Suara hati Yas bergemuruh, dia sungguh tida sanggup menerima takdir yang seperti ini. Disaat dia menemukan wanitanya, disaat dia berencana akan marah besar dan meminta Kiara untuk bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi, tetapi keadaan berbalik, lagi lagi sosok Kiara menghantam pondasi hati Yas yang sudah sekian lama dia pertahankan dengan susah payah.


"Baiklah sepertinya anda tida membutuhkanku. Jadi aku akan meninggalkanmu sendiri dan kembali kedalam untuk berpesta. Sepertinya kau juga butuh waktu untuk sendiri"


Tida. Yas ingin sekali menahannya. Tapi mengapa susah sekali untuk mengangkat tangan itu dan menahan wanitanya, mengapa sulit sekali berkata kata dan bertanya. Mengapa Yas hanya bisa membayangkan hal apa yang sebenarnya terjadi saat ini pada dirinya dan kekasihnya. Sampai pada akhirnya wanita itu pergi dari pandangannya dan Yas kehilangan satu kesempatan.

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2