
Hari sudah sore, kiara masih di tempat persembunyiannya, UKS menjadi ruang andalan kiara dengan dalih sedang tida enak badan, dia seharian berbaring dan menangis tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Dia datang ke kampus tapi tida satupun kelas yang dia masuki untuk belajar, dirinya malah memikirkan banyak hal yang membuat matanya terus bercucuran mengeluarkan air mata.
"Apakah ini sebuah kutukan untukku, hidupku harus berliku liku menjalani takdir yang tida seberapa ini. Kenapa Dia mempermainkan aku sesuka hatinya dan membuat aku menderita semau Nya. Apakah sedikit kebahagiaan tida pantas menghampiriku walau sebentar saja. Setidaknya sampai aku mati aku ingin sedikit kebahagiaan"
Lika liku kehidupan yang dialami oleh kiara benar benar seperti sebuah badai yang tida pernah berlalu. Apapun yang dia inginkan dengan mudahnya dirampas kembali, entah itu oleh takdir ataupun manusia. Kiara telah menyerah dengan apa yang dia impikan dan dia inginkan, sekarang dia hanya akan berpasrah menunggu keajaiban bahagia datang menghampiri.
Langkah kaki dari pintu depan ruangan tida membuat kiara berhenti dari tangisannya, patah hatinya sudah terlanjur menyarang sampai berakar.
"Hei siapa di dalam"
Suara itu terus saja bersautan sembari menyeimbangkan langkah kakinya, ternyata dia menangkap sosok kiara yang sedang menahan tangisnya.
"Heii, ada apa denganmu"
Sosok pria itu datang menghampiri dan bertanya.
"Siapa kau"
__ADS_1
Tanya kiara pada laki laki yang mendekatinya.
"Ah perkenalkan, namaku aldo, aku di jurusan ekonomi, dan kau"
"Aku kiara"
"Apa kau baik baik saja, apa kau ingin aku menghubungi seseorang untuk menjemput mu"
"Tida terimakasih, aku akan segera pulang"
"Tapi wajahmu terlihat pucat"
Kiara bangun dari ranjang tempat dia berbaring, lalu laki laki yang mengenalkan dirinya sebagai aldo hanya memperhatikan takut terjadi sesuatu padanya. Dan benar saja, kiara kehilangan keseimbangan ketika bangkit dari ranjang, dia jatuh tersungkur karena kepalanya terasa berat, mungkin karena dia banyak menangis.
"Nona kau baik baik saja, biar aku bantu"
"Terimakasih. Kepalaku, sakit sekali rasanya"
__ADS_1
"Aku akan menghubungi seseorang untuk mu"
Kiara tergeletak tida sadarkan diri, aldo semakin panik dan mencari bantuan diluar, namun nihil hasilnya, orang sudah tida terlalu ramai di kampus dikarenakan hari sudah mulai beranjak gelap. Beruntung ponsel kiara berbunyi dan aldo menyadarinya, segera dia mengangkat panggilan itu tanpa ragu.
"Hallo, siapa di sana"
"Maaf siapa kau, bukankah ini ponsel milik nyonya kiara"
Ternyata sekertaris hans yang menghubungi, dia diminta yas untuk mencari keberadaan kiara sejak tadi sore, dan yas semakin cemas saat hari mulai gelap kiara tida kunjung datang ke rumah.
"Hallo, tolong jawab aku, kau jangan macam macam padanya atau aku akan menghabisi mu"
"Ah maaf tuan, ini bukan seperti yang anda pikirkan, dia pingsan di UKS sekolah, aku coba mencari bantuan atau ingin menghubungi keluarganya tapi ponselnya berdering terlebih dahulu, kurasa dia menangis seharian, sebab hidungnya memerah seperti tersumbat"
"Baiklah, aku akan segera ke sana untuk menjemputnya, kau tolong jaga wanita itu, jangan sampai terjadi apapun padanya, jika sedikit saja kau membuat kesalahan ku pastikan hidupmu tida tenang"
Hans segera menutup obrolan dengan cepat, aldo yang mendengar ancaman dari Hans sedikit bingung dan sangat kaget, kenapa ini jadi semakin rumit pikirnya. Tapi aldo adalah pria yang baik, dia berencana akan menunggu kiara sampai ada seseorang yang menjemputnya seperti yang di katakan oleh seseorang yang ada di telfon.
__ADS_1
Kala itu hans segera memberitahu yas bahwa terjadi sesuatu pada kiara di kampusnya, dia terlihat sangat cemas dan marah karena hans lambat mengetahui kejadian itu. Lalu hans dengan cepat mengantarkan yas menuju kampus kiara dengan perasaan panik. Sampai sampai yas tida menyadari bahwa dirinya hanya memakai kaos lengan panjang santai dan celana training serta sandal untuk di pakai di rumah. Yas terlalu panik dan hans tida memberi tahu cara yas berpakaian pada saat itu karena sejujurnya Hans juga ikut merasakan kepanikan.
Bersambung ...