
Obrolan masih berlanjut dikamar, yas yang membelakangi kiara seakan tida perduli dia sedang berbicara dengan siapa di kamar besarnya.
Lalu kiara mencoba mengimbangi posisi yas yang berada di luar kamar tidurnya, kiara melangkahkan kakinya mendekatkan diri pada pintu kaca yanv memisahkan antara kamar dan teras balkon. Lalu dengan nada datar kiara mulai berbicara.
"Jen mengatakan ada hal penting yang ingin kau sampaikan, katakan"
"Benar, aku ingin menanyai mu sesuatu"
"Baiklah, aku akan mendengarkan, jika aku mengetahuinya aku akan memberi jawaban"
"Kau sungguh akan jelas lebih tau, karena ini tentang perasaanmu dan deff"
"Apa maksudmu, katakan dengan lebih jelas"
"Jadi jika aku memberikan angka 10 sampai 100, berapa % kau menyukai deff"
__ADS_1
"Kau bergurau!" decak kiara kesal.
"Kenapa? Kau tida bisa menjawabnya!
Apa itu terlalu sulit untukmu?"
"Maksudmu?"
"Aku sudah mengatakan dengan jelas apa pertanyaan ku, tapi kau sepertinya tida bisa menjawabnya. Jadi akan kutanyakan hal lain untuk mempersingkat waktu.
"Kau benar benar tida waras, aku seharusnya tida datang ke kamarmu untuk mendengarkan ocehan yang tida jelas dan kurang masuk akal ini, jelas ini hanya membuang waktu ku saja"
Kiara berlalu dengan hati kesalnya, dia merasa di permainkan oleh yas pagi itu, dirinya membalikan badan memunggungi yas yang sedang asik menghirup udara segar di balkon, dengan santai di berjalan menuju pintu bermaksud meninggalkan yas yang sedang melantur pikirnya.
Namun yas tida membiarkan kiara pergi begitu saja, yas tida mendapat jawaban yang dirasa cukup untuknya, dia berjalan mengikuti langkah kiara dengan sempurna, dan saat tiba di depan pintu, ketika kiara memegang gagang pintu, yas menempelkan tangannya pada pintu bermaksud akan memberikan sidik jarinya agar pintu dapat terbuka sandinya.
__ADS_1
Tapi yas tida buru buru melakukan hal itu, dirinya menempelkan bibirnya dekat dengan telinga kiara sampai kiara kaget karena ketidaksadarannya yas berada di belakang punggungnya.
Yas berbicara dengan pelan dan suara lembutnya ;
"Aku sungguh sungguh bertanya padamu, aku memberikan angka padamu agar kau mempertimbangkan tentang apa yang kau rasakan. Aku juga ingin mendengar apa kau begitu menyukai deff daripada aku? Tolong buat semuanya sederhana agar aku sadar dan dapat menunggumu layaknya pria sejati. Atau, jika aku harus bersaing dengannya aku akan melakukannya sebagai suamimu yang berhak atas dirimu. Jika kau memberinya angka lebih dari 50, tolong buat semuanya jadi sama, buatlah dirimu menyukainya 50 dan beri aku 50, karena jika seperti itu aku akan lebih mudah memastikan hatimu untuk siapa ketika aku sudah berusaha"
Kiara benar benar kehilangan kesadaran, dia seperti sedang berada di sebuah sirkus yang di pengaruhi oleh seorang pesulap dengan mantra nya. Kiara pun tida sadar jika yas sudah menempelkan sidik jarinya agar pintu terbuka, kiara masih melamun dengan apa yang disampaikan yas, dirinya tida percaya dan merasa sedang di bodohi.
Yas yang menyadari kiara masih melamun dan mematung padahal pintu sudah terbuka, dia melakukan tindakan yang membuat kiara terperanjat kaget, dia mencium pundak kiara dengan sengaja.
Setelah kesadarannya kembali sepenuhnya kiara melangkahkan kaki keluar dari kamar dengan perasaan kacau, dia tida memperdulikan yas berbicara hal konyol apa pada dirinya, satu persatu anak tangga dilalui dengan perasaan tida karuan, seperti mendapat sebuah undian yang masih di rahasiakan apa isinya, antara tida percaya, senang, dan takut. Dia tida mungkin bisa terlalu berharap pada seseorang seperti yas, jauh rasanya ketika dia mendengar kenyataan bahwa yas mulai menyukai dirinya yang selalu di anggap sampah.
*Kurasa ini hanya sebuah lelucon baginya, dia tida akan mungkin benar benar dengan perasannya, kutahu dia seorang pria yang akan melakukan semua cara agar tujuannya tercapai, kita lihat seberapa pandai dia menggoda ku, dasar manusia gila*
Bersambung ...
__ADS_1