HIDUPKU

HIDUPKU
Keheranan


__ADS_3

*Apa yang sebenarnya di rencanakan olehnya, ini benar benar mengerikan.


aku kira dia akan membunuhku, tapi syukurlah aku masih dapat bernafas untuk saat ini dengan bebas*


Di waktu yang bersamaan, jen benar benar cemas akan keadaan kiara, apa yang ada di pikiran jen yaitu tentang kiara yang melakukan kesalahan sehingga dia tida dapat keluar tepat pada waktunya. Jen menunggu kiara hingga waktu sarapan tuan yas akan tiba, namun mereka tida kunjung keluar dari kamar, jen menakutkan akan terjadi sesuatu di dalam sana.


Hans datang seperti biasa, dia akan menyapa jen dan langsung menuju kamar tuan yas, namun jen segera menghentikannya dengan sigap.


"Selamat pagi sekertaris hans"


"Jen, mengapa wajahmu terlihat sangat cemas"


"Ah, memang, aku mencemaskan nyonya yang sedang berada di dalam kamar tuan yas"


"Benarkah? Mengapa nyonya bisa berada di kamar tuan yas"


"Maaf sekertaris hans, tapi apakah kau lupa bahwa sekarang semua keperluan tuan yas akan nyonya yang melakukannya"


"Ah kau benar jen, tapi bagaimana mungkin nyonya masih ada di kamar tuan yas, ini sudah pukul 07.00"


"Itu yang aku cemaskan, apakah terjadi sesuatu pada nyonya di dalam"


"Aku akan segera naik jen, kau tunggu saja"


Hans segera mengambil langkah terburu buru menaiki tangga, dia ingin segera melihat hal apa yang akan terjadi di dalam kamar itu, pikiran hans mulai membayangkan akan ada sesuatu yang terjadi seperti kekejaman tuan yas yang belum tersalurkan tadi malam.

__ADS_1


Hans mendekatkan wajahnya pada mikrofon di dekat pintu itu, seperti biasa dia akan memanggil tuan yas dari luar dan meminta tuan yas membukakan pintu.


"Selamat pagi tuan, saya telah tiba"


Hans bersuara seperti biasa tanpa ketegangan, se santai mungkin hans mengontrol rasa khawatirnya, namun di sisi lain yaitu persis di dalam kamar tuan yas, ada kiara yang sedang melihat pemandangan luar biasa, dia melihat tuan yas yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan titikan air persis jatuh dari rambut itu membasahi piyama handuknya. Tuan yas memang tida bertelanjang dada, namun kiara benar benar merasa jantung nya berdebar, apakah ini naluri seorang wanita yang memang karena belum pernah melihat pemandangan seperti ini?


"Itu hans, aku akan menyuruhnya untuk menunggu"


"Ah, bukankah tuan hans akan menemanimu seperti biasa"


"Aku ingin kau yang memakaikan dasi untuk ku, apakah ada yang salah?"


"Ah, tida tuan, semua keputusan ada di tanganmu"


Kiara benar benar merasa mendapat hidayah pagi ini, yas benar beanr tida menunjukan suara yang keras dan kekejamannya, dia hanya berbicara santai tanpa penekanan.


"Aku akan membantumu tuan"


"Ah tida hans, kau tunggulah di bawah aku segera turun"


Hans hanya menganggukkan kepala karena mengetahui tuan yas dapat melihat dirinya dari dalam, dengan heran sekertaris hans memikirkan apa yang terjadi, tapi sepertinya tida ada sesuatu yang serius di dalam.


Hans segera berlalu dan menunggu taun yas di bawah seperti apa yang telah di sampaikan sebelumnya.


*Hah dia bilang akan berpakaian, apakah dia akan melakukan itu di depanku, dasar gila, dia pikir karena dia sudah melakukannya denganku dia berani berbuat hal semacam itu*

__ADS_1


"Aku akan memakai kemejaku, kau boleh memejamkan mata dan memunggungi ku"


"Ah baik tuan"


Kiara segera menuruti apa yang yas katakan, kiara sangat lega mendengar tuan yas sangat berbaik hati pagi ini.


Setelah sekitar 5 menit, tuan yas telah selesai dengan pakaiannya dia meminta kiara untuk memakaikan dasinya.


"Em, aku sudah selesai, kau boleh memasangkan dasi untuk ku"


"Ah, baik tuan"


Kiara merasa jantungnya kembali berdegup setelah memegang dasi yg akan di lingkarkan menuju leher indah yang tegap itu. Hatinya berkecamuk, takut jika dia melakukan kesalahan nantinya, ternyata tuan yas hanya diam dan malah memperhatikan kiara melalui sorot matanya.


*Apa ini, mengapa ini terasa canggung, apa yang sedang dia perhatikan, sungguh menggelikan*


"Kau akan melakukan ini setiap hari, jadi biasakan dirimu, kau yang selalu menganggap ku aneh dari pertama kita bertemu, jadi kau yang harus menanggungnya"


"Tapi tuan, bukankah anda akan merasa lebih nyaman ketika ini semua sekertaris hans yang melakukannya"


"Tida, bagaimana kau bisa mengatakan itu dihadapan ku, lihatlah betapa lancangnya dirimu"


Kiara hanya terdiam dan menunduk ragu, tuan yas memang benar, kiara yang selalu mengatainya gay, kini ia harus menanggung akibatnya.


Selanjutnya kiara melakukan step memakaikan kaos kaki dan sepatu, lalu jam tangan dan terakhir memakaikan jas yang membalut tubuh indah tuan yas.

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2