
Semua telah di lakukan oleh kiara, dan tuan yas bersikap seperti biasa, tida ada apapun yang terjadi setelah kiara melakukan semua tugasnya, semua baik baik saja, kiara disuruh keluar dari kamar dan di perintahkan untuk membawa tas kerja tuan yas, lalu kiara melangkah dengan raut muka keheranan serta banyak pertanyaan yang di pikirkan olehnya.
*Apa dia akan segera menceraikan aku? Apa itu artinya dia telah sadar bahwa menindas wanita miskin seperti ku begitu kurang menyenangkan? Tapi tunggu dulu, dia mengatakan aku akan selalu memakaikan dasinya setiap hari, apa artinya dia sudah menyukaiku, apa artinya rencana jen berhasil, tapii*
"Nyonya apa ku baik baik saja"
"Ah, jen mengapa kamu mengagetkan ku"
"Saya mengagetkan anda? Mm tapi saya berbicara pelan, dan hanya menanyakan keadaan anda"
"Ah, maafkan aku jen, pagi ini aku benar benar merasa tegang"
"Apa semua berjalan lancar"
"Ya, semuanya baik, tapi ini sedikit aneh, sikap tuan yas semakin membuatku takut"
Disaat kiara sedang berbicara dengan jen hans menyela pembicaraan itu dan menanyakan kabar Yas.
"Nyonya apa tuan yas baik baik saja"
"Hei, dasar sekertaris sialan, seharusnya kau menanyakkan keadaanku"
Secara tida sadar ternyata yas sudah menuruni tangga, dia berada di jarak sekitar 7 anak tangga dari kiara.
__ADS_1
"Jadi maksudmu aku tida perlu di cemaskan"
*Aah, dasar sekertaris ini, akan aku habisi kau nanti*
Karena telah menyadari keadaan ini, kiara langsung pergi meninggalkan jen, sekertaris hans, dan juga tuan yas. KIara berjalan sedikit lari karena ingin menghindari amukan tuan yas pikirnya, namun suara itu kemudian terdengar lagi dengan jelas di telinga kiara.
"Hei"
*Hiis, apa lagi yang akan terjadi, baru saja aku dapat bernafas dengan lega*
"I,iya tuan"
"Kau membawa tas kerjaku, berikan pada hans"
*Ah, dasar bodoh, kenapa aku mempermalukan diriku sendiri kali ini*
Dengan raut muka yang merasa dirinya memalukan, kiara berjalan mendekati arah yas dengan bermaksud akan memberikan tas kerja tuan yas pada hans, melihat pemandangan itu hans dan jen sedikit tersenyum tipis, mengapa kiara konyol sekali pikirnya.
Wajah kiara memerah mengetahui dirinya di tertawakan oleh hans dan jen, sementara yas hanya keheranan melihat tingkah kiara saat ini.
Kiara memberikan tas itu pada hans, sementara yas sudah menuruni anak tangga dan sudah bersiap untuk sarapan.
"Jen ajarkan dia untuk membuat bubur, kau tau bukan aku tida ingin yang lain"
__ADS_1
"Baik tuan"
Setelah yas selesai dengan semangkok buburnya dan segelas jus orangenya dia bergegas untuk pergi ke kantornya.
Tida ada hal yang di bicarakan lagi setelahnya. Jen lebih terheran pagi ini dengan sikap tuan yas begitu sangat santai dengan emosinya, jen bertanya tanya apa yg telah membuatnya demikian.
"Nyonya tuan yas memintaku untuk mengajarkan anda membuat bubur"
"Ah, aku akan belajar nanti setelah kelasku usai jen, ini sudah kesepakatan kita, jika tuan yas tida ada di rumah aku akan pergi ke kampus, aku benar benar harus mengejar dosen pembimbingku"
"Saya paham nyonya, silahkan anda selesaikan urusan anda, dan setelah kembali anda bisa belajar di rumah untuk urusan rumah"
"Terimakasih jen, kau memang sahabat terbaik ku"
Kiara segera bersiap siap untuk pergi dari rumah, dia berencana hanya akan masuk kelas dan menemui dosen pembimbingnya sesuai apa yang jen katakan, dirinya sudah di jadwalkan akan belajar membuat bubur untuk sarapan tuan yas.
*Melelahkan sekali hidupku, aku harus menjadi seorang pelajar di luar rumah, dan harus jadi pelayan ketika berada di dalam rumah, sungguh sulitnya hidupku*
Kiara berjalan santai sesekali menengok ke arah belakang, dia mengharapkan seseorang akan menyapanya seperti waktu sebelumnya, dan menawarkannya tumpangan untuk segera tiba di tempat tujuan, namun berkali kali kiara melihat, tida ada sosok yang di tunggunya.
"Lagi lagi aku kecewa pada org yang memang tida mengetahui perasaanku, lagi lagi aku kecewa dengan yang bukan milik ku, sulit sekali menjalani hidup"
"Benarkah? Apakah memang sesulit itu hidup mu"
__ADS_1
Kiara kaget bukan main, dirinya menggerutu dengan cukup keras karena kiara pikir tida akan ada orang yang mendengarnya.
Bersambung ...