HIDUPKU

HIDUPKU
Awal yang manis


__ADS_3

Pagi itu yas turun dari kamarnya dengan perasaan malu, tentu saja ini tida seperti yang di bayangkan kebanyakan orang. Dengan pandai nya yas menempeli semua kecupan yang terlihat di atas kerah bajunya dengan plaster, dia mencari tahu di internet apa yang bisa menghilangkan bekas itu dengan cepat namun nyatanya akan hilang setelah 3-4 hari setelah di obati, yas tida kehilangan akal dia mencoba menutupi bagian bagian yang terlihat saja agar dirinya tida ditertawakan oleh orang lain, namun ala hasil dia tertawa sendiri melihat dirinya dalam pantulan cermin dengan begitu konyolnya memakai banyak plaster yang menempel di lehernya. Tapi inilah cara satu satunya yang yas setujui dan dia mulai keluar kamar menuruni anak tangga.


Yas sudah mendapati kiara sedang membereskan meja makan membantu jen, dan kiara telah duduk untuk menemani sarapan tuan yas pagi itu.


Hans dan jen berdiri seperti biasa di depan tangga dengan bermaksud menyapa yas, tapi yas melihat senyum geli kedua orang itu seakan yas mengetahui mereka mentertawakan tuannya.


"Selamat pagi tuan"


Sapa keduanya dengan lembut.


Yas melonggarkan dasi dan menarik nafas.


"Benar benar keterlaluan, plaster ini membuatku susah melihat ke arah kanan dan kiri seperti yang aku inginkan, ini juga membuatku malu di hadapan orang orang nantinya"


Yas berbicara sendiri padahal, tapi kiara, jen dan hans segera menatapnya. Mereka mendapati tuannya sedang membuka plaster plaster itu dengan sangat kesal. Sontak membuat kiara membelalakkan matanya dan menutup mulutnya yang sudah membuka. Hans dan jen tentu saja ikut kaget dengan apa yang di lakukan tuannya, namun yang membuat hans dan jen lebih kaget adalah semua tanda kecupan yang terlihat jelas dan besar di atas kerah baju yang tepat berada di dekat telinganya.


Semua mata memandang terkejut ke arah yas, saat mereka menyadari tuannya melihat, sontak membuat jen dan hans langsung menundukkan kepalanya tanda meminta maaf. Kiara yang melihat kejadian itu langsung bangkit dari duduknya dan menarik tangan yas untuk ikut ke dalam kamarnya pagi itu.


"Ikut aku"


Yas menurut dan patuh kali ini, yas sangat penasaran apa yang akan di lakukan kiara padanya karena semua orang mengetahui perbuatannya malam tadi.

__ADS_1


Pintu kamarnya di tutup rapat rapat, agar orang orang tida mengetahui apa yang akan mereka perbuat, jen beserta hans yang melihat kejadian itu terkekeh sendiri menyaksikan sepasang suami istri yang kikuk karena malam pertama mereka.


"Duduklah, aku akan menutupi bekas merah yang terlihat itu"


"Maksudmu kecupan yang kau buat"


Yas sedikit menggoda kiara, tida tahu mengapa kalimat itu yang muncul untuk mengolok olok kiara, dan sudah jelas kiara kesal dengan apa yang yas bicarakan.


"Aku akan menutupinya, jadi diamlah dan jangan mengatai ku lagi"


Kiara segera membantu yas, mengambilkan mosturaizer, priemer, fondation, dan juga bedak padat.


"Kau bisa diam tida, dan jangan banyak bicara, aku tida akan memakaikan ini untuk wajahmu, hanya untuk lehermu saja, dan hanya untuk menutupi bekas bekas merah yang terlihat di atas kerah bajumu"


Kiara mulai kesal dengan ocehan ocehan yas yang selalu memprotes dirinya, tapi dengan paksa kiara menyuruh yas diam dan segera mengaplikasikan satu persatu barang yamg kiara pilih.


"Jadi kau sering menggunakannya"


"Tentu, siapa yang tida akan menggunakannya, memangnya wajahku terlahir dengan sudah bagus"


"Bukan, maksudku, untuk menutupi kecupan yang kpsering terlihat"

__ADS_1


'Plak' pukulan itu mendarat di kepala yas dengan sempurna, kiara sudah geram dengan celotehan yang di lontarkan yas kala itu.


"Heii, kenapa kau memukul kepalaku"


"Aku juga akan membunuhmu jika kau terus berbicara"


Yas menarik lengan kiara agar sejajar dengan dirinya yang sedang duduk, lalu menatap kiara dengan lekat dan berbicara.


"Benarkah"


Wajah mereka semakin dekat, semakin tida berjarak, bahkan mereka saling tatap, kiara merasa adegan ciuman akan segera berlangsung bagi dirinya dan yas, maka dari itu kiara langsung memejamkan mata dengan manis menanti kecupan mesra dari yas pagi itu.


'Cup'


Sebuah kecupan mendarat untuknya, tapi bukan di bibir kiara yang manis melainkan di keningnya, yas berbisik dengan lembut ;


"Terimakasih, semuanya sudah tertutupi"


Yas bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan kiara yang masih mematung dengan keadaan masih tida percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2