
Hari beranjak siang. Waktu menunjukkan pukul 09.00. Hari ini Yas memang sengaja tida ke kantor, dia harus mendatangi persidangan tempat pukul 10.00.
Yas membuka kedua matanya, memastikan sekitar agar sepenuhnya tersadar dari mimpi indahnya semalam. Yas melihat tempat di sebelahnya, rupanya Kiara sudah tida ada di dalam kamar entah pergi kemana.
Yas bangkit dan keluar dari kamar kiara, mencari orang di sekeliling dan ternyata Hans belum sampai di rumahnya. Mungkin Hans masih bersiap dan mengurus hal lain di paviliunnya. Yas hanya menemukan Jen seorang yang tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya, Yas juga tida menemukan Kiara berada di ruangan lain saat ini. Namun dia enggan bertanya pada Jen perihal Kiara. Yas berpikir kiara mungkin telah tiba di kampusnya untuk mengurus hal lain, karena wisuda akan dilakukan tepat seminggu lagi.
"Selamat pagi tuan"
"Pagi jen"
Yas menaiki tangga menuju kamarnya. Dia akan segera bersiap dan menyerahkan bukti yang telah di berikan oleh kiara pada Hans.
Yas pergi ke kamar mandinya untuk membersihkan tubuh, disisi lain dia juga berpikir keras, kenapa Arka berbaik hati memberikan dukungan padanya? Yas masih gusar jika Arka memiliki suatu hubungan dengan Kiara. Entah itu untuk dirinya sendiri (arka) ataupun untuk orang lain (deff).
Singkat waktu Yas telah bersiap, dia membuka dokumen penting yang dianggap sebagai tanda bukti, dan tida lama Hans telah berada di depan pintu kamarnya.
"Masuklah"
Hans memasuki kamar Yas, dia sedikit gugup karena bukti yang dirinya pegang masih belum sempurna untuk melawan Riswan.
"Kau terlihat gugup Hans"
"Memangnya kau tida?"
"Aku memiliki wanita keberuntungan. Maka dari itu, tuhan selalu berpihak kepadaku"
Hans melirik Yas heran, kenapa di situasi segenting ini dia terlihat santai dan malah menyombongkan diri.
"Apa kau sudah gila. Ini bukan waktunya untuk bermain main. Kau sedang menghadapi situasi dimana perusahaan mu di ambang kehancuran"
"Tenanglah. Lihat file dan dokumen dalam kertas coklat yang ada di atas tempat tidur. Kau akan menemukan jawaban disana"
Hans mendekat, menggambil dan membuka apa isi amplop coklat yang diberikan Yas pada dirinya. Lalu Hans sama kagetnya dengan Yas saat dia membuka isi dari amplop tersebut, ini benar bena keajaiban yang sesungguhnya pikir Hans. Semua solusi telah ada di depan mata.
"Apa kau sungguh sungguh menyembunyikan ini dariku huh?"
"Aku baru mendapatkannya semalam. Wanitaku yang memberikannya"
"Cih. Kau benar benar sedang di mabuk cinta huh?"
"Kau tida percaya?"
"Benarkah?"
"Tentu saja. Sejujurnya aku lebih tida percaya ketika itu. Tapi sepertinya tuhan selalu menyayangi dia. Wanitaku mendapat perhatian dari laki laki lain karena kebaikan hatinya. Tapi entahlah apa maksud dari itu, aku tida akan memikirkannya terlalu jauh"
__ADS_1
"Siapa yang telah memberikan ini?"
"Arka. Pengacara keluarga Riswan?"
"Benarkah. Pantas saja. Hanya orang dalam yang akan seberani ini"
"Kita harus melindunginya saat dia terancam. Dan itu perintah dari wanitaku"
"Apa sekarang Kiara benar benar telah menjadi wanita mu?"
"Terserah saja jika kau tida percaya. Tapi semalam kami" (Yas memonyongkan bibirnya tanda ia telah melakukan sesuatu sesuatu semalam bersama kiara)
"Sudahlah lupakan. Aku juga tida terlalu peduli dengan urusanmu"
"Hei, kau juga nanti akan merasakan betapa bahagianya ini"
"Aku? Jangan gila kau"
"Memangnya kau tida akan melakukannya ketika sofia benar benar menggoda mu?"
"Kau banyak bicara ya hari ini. Segeralah bersiap, aku akan menunggu. Cepat"
"Baiklah baiklah. Jangan sampai aku melihat telingamu memerah karena membahas sofia"
Hans kemudian mendaratkan sebuah pukulan kecil di kepala Yas, sampai membuat Yas tertunduk kepalanya.
"Aku hanya ingin"
Yas tida lagi memperdulikan Hans yang mengganggunya. Karena Yas sedang fokus untuk bersiap.
--**--
Singkat cerita Yas sudah berada di ruang dimana dirinya akan berperang dengan Riswan. Semua saksi dan bukti telah keduanya siapkan. Suasana semakin memanas saat Yas menunjukkan bukti bukti yang sah dan failed kepada sang Jaksa. Semua berjalan sesuai prosedur hari ini.
Yas melihat Arka hari itu. Dia mungkin tida akan dapat kepercayaan lagi dari kliennya. Dan Yas bermaksud untuk menemuinya hari ini.
"Apa kau keberatan jika aku mengajak mu minum kopi hari ini"
"Tuan Yas. Senang bertemu dengan anda. Baiklah saya akan menerima ajakan anda"
Kedua laki laki itu berjalan menuju salam satu kedai terdekat. Hans tida ikut serta karena ada banyak hal yang harus dia selesaikan.
"Terimakasih, berkatmu aku menyelamatkan banyak pihak"
"Bukan masalah. Anda terlalu memuji"
__ADS_1
"Jangan sungkan. Panggil aku Yas. Usiaku dibawah mu"
"Baiklah jika itu yang membuatmu nyaman"
Keduanya saling melempar tawa seakan mereka sudah lama saling mengenal.
"Kurasa aku berhutang padamu!"
"Aku hanya menjalankan tugasku"
"Tapi kau akan mendapat masalah karena ini"
"Seorang pengacara di tuntut untuk selalu melindungi rekannya dengan baik, tentu agar siapapun yang menyakitinya bisa kalah dengan memalukan. Tetapi rasanya itu bertolak belakang dengan apa yang aku pikirkan. Aku benar benar membenci kejahatan dan menginginkan keadilan. Ternyata seharusnya aku menjadi seorang Tentara saja"
Yas lagi lagi tertawa. Ternyata Arka adalah seorang yang Humoris dan hangat.
"Bagaimana kau mengenal istriku dan percaya padaku"
"Aku membeli rumahnya dari seseorang bernama Jen. Dan ternyata dia adalah kepala pelayan di rumah mu. Bumi memang terlalu sempit untuk sebagian orang. Mereka selalu dianggap sebagai takdir jika bertemu untuk membantu. Rumah kiara adalah rumah yang dia sebut sebagai tempat ternyaman sepanjang hidupnya. Dan beberapa kali dia mendatangi rumahku untuk sekedar melepas kerinduan dengan kenangan masa lalunya"
"Benarkah? Apa dia tida percaya ketika kau menempati rumahnya"
"Bagaimana kau tau?"
"Dia seperti orang gila dan mengomel terus menerus sebab dia tida tau siapa yang menjual rumahnya itu"
"Aku bahkan melaporkan dia ke polisi saat dia memaksa aku untuk keluar dari rumah ku sendiri. Sampai dia harus di tahan semalaman"
"Dan tentu aku marah. Tapi aku tetap mengeluarkannya dari sel tahanan itu"
Kedua laki laki itu benar benar bahagia membicarakan kekonyolan kiara saat dahulu. Mereka membayangkan kiara sosok yang benar benar menyenangkan dan lugu sebenarnya. Mereka juga asik mentertawakan apapun hal hal konyol yang selalu kiara perbuat.
"Jadi apa keputusanmu setelah ini"
"Mungkin aku akan berhenti menjadi seorang pengacara"
"Benarkah. Mengapa? Aku bisa membantumu jika kau mau"
"Terimakasih. Tapi ibuku sepertinya merindukan kampung halamannya. Aku akan pergi ke Jepang untuk waktu yang cukup lama. Dan keluargaku mengolah beberapa bisnis di tokyo. Sepertinya aku akan kembali menggeluti usaha itu. Entah bagaimanapun, aku akan mengutamakan kebahagiaan seseorang yang sangat berarti dahulu untuk hidupku"
"Kau benar. Mereka yang selalu menenangkan kita, sudah sepantasnya mendapat hak penuh dari kita. Aku iri karena kau masih memilki seorang malaikat di sisimu"
"Aku lebih iri padu. Mendapatkan seorang bidadari sepanjang hidupmu"
Yas tersenyum memikirkan perkataan Arka. Dia benar, Yas tida perlu cemas dan ragu. Ada kiara yang sekarang bersamanya sepanjang hidupnya. Namanya akan selalu dia sebut sepanjang helaan nafasnya, dan bayangan wajahnya akan selalu ada terkunci dalam sorot matanya. Hatinya benar benar di penuhi dengan hanya satu nama yaitu kiara.
__ADS_1
Yas mengakhiri obrolan yang menyenangkan itu bersama Arka. Dia harus kembali menemui Hans dan berbicara. Juga dia harus kembali ke rumah untuk beristirahat karena hari mulai gelap.
Bersambung ...