HIDUPKU

HIDUPKU
Waktu yang singkat


__ADS_3

Jen kembali kedalam rumah, dia sudah tida melihat Kiara menangis di sana. Jen mencari keberadaan kiara namun tetap tida di temukan di manapun, seluruh pelayan di instruksi kan mencari Kiara di seluruh sudut rumah ini namun tetap saja tida menemukan nya. Kiara menghilang dengan cepat, dan Jen pun tida kalah cepat menghubungi hans.


"Sekertaris hans, nyonya tida ada di rumah, sepertinya dia pergi"


"Biarkan jen, nanti aku yang akan menjemputnya, kau kembalilah dengan tugas mu"


"Ah baiklah sekertaris hans, ku tutup telfonnya"


Jen sangat lega karena sekertaris Hans membiarkan Kiara pergi begitu saja, padahal Jen sudah sangat panik setengah mati karena takut di salahkan oleh tuan Yas.


"Apa dia pergi dari rumah Hans"


"Sepertinya begitu tuan"


"Benar benar wanita tida tahu diri"


"Aku akan menjemputnya nanti untuk pemotretan tuan"


"Terserah kau saja Hans, aku tida pernah perduli dengan dia"


Hans kemudian fokus pada kemudinya, dia menyetir dengan cepat sampai tepat pada waktunya. Tuan Yas berada di depan gedung dengan selamat.


Disisi lain Kiara berjalan dengan isak tangisnya, dia benar benar sudah tida tahan dengan apa yang dia hadapi, seperti berada di jurang kehancuran tida akan ada kesempatan untuk selamat. Namun tiba tiba, sebuah mobil berjalan beriringan dengan langkah kaki Kiara. Dirinya menoleh dan sangat kaget ternyata dalam mobil itu terdapat seorang laki laki yang dia kenal.

__ADS_1


"Kamu Kiara kan?"


"Ah benar, kau mengenal ku?"


"Ayo masuklah, ku antar kau"


"Benarkah, apa tida merepotkan mu"


Mobil merah itu kemudian berhenti dan seseorang di dalam membukakan pintunya.


"Masuklah"


"Ah terimakasih"


"Apa kau baik baik sajah, kau terlihat sangat pucat, apa kau sakit"


"Ah tida, aku hanya sedang bingung saat ini, maaf aku sedang dalam keadaan kacau"


"Ah tida apa, aku memahaminya"


Kiara merasa canggung dan tida banyak bicara, dia hanya menjawab pertanyaan dari seseorang di dalam mobil dengan kaku dan seadanya. Lalu kali ini Kiara mencoba memberanikan diri untuk bertanya terlebih dahulu.


"Apa rumah mu di arah yang sama saat aku berjalan tadi"

__ADS_1


"Ah itu, benar. Rumahku di sekitaran sini. Kau sendiri apa rumah mu ada di arah yang sama juga?"


"Tida rumahku tida disini"


"Benarkah, pantas aku baru melihat mu. Lalu darimana kamu dalam keadaan seperti ini"


"Mmh, aku, mm, semalam, ah semalam aku menghadiri sebuah acara temannya temanku. Lalu karena rumahnya sangat jauh ku putuskan untuk menginap, lalu paginya temanku sudah pergi di jemput kekasihnya. Aku merasa tida nyaman jika harus merepotkan tuan rumah, maka dari itu aku berjalan untuk mecari angkutan umum"


"Ah begitu rupanya, senang bisa berbincang dengan mu"


"Ah, senang juga bisa berbincang dengan mu Defan"


Ternyata laki laki yang menawarkan tumpangan pada kiara adalah Defan. Seseorang yang telah dia sukai sejak 4 tahun yang lalu, sejak saat pertama Defan berada di pentas sebuah acara drama kampus, dan Kiara menjadi sutradara dari sebuah acara tersebut. Kiara menyukainya sebagai seorang perempuan, namun dirinya samasekali tida pernah menyapa Defan walau Defan adalah seorang laki laki yang ramah dan hangat.


"Panggil aku Def, kau terlalu berlebihan masih memanggil ku defan seperti dulu"


"Ah benarkah, apa boleh aku memanggil mu begitu. Def"


Kiara merasa teralihkan dari dunia kelamnya bersama yas dalam suatu hubungan perjanjian itu, debaran jantung kiara sangat terdengar jelas saat ini, hatinya sangat berbunga melihat seseorang yang berada di sampingnya tersenyum dengan sangat ramah dan hangat.


Rasa suka membuat semua orang terbuai dalam lamunan cinta, merasa akulah orang yang paling bahagia karena telah bertemu seseorang yang berharga di bagian dunia ini.


Mereka saling melempar tawa dalam candaan di mobil itu, membuat beberapa jam ini indah di hiasi kemesraan dua insan yang baru di pertemukan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2