
Malam sudah semakin larut. Hans sudah mencoba menghubungi ponsel kiara, namun hasilnya tetap tida tersambung, nomor kiara sudah tida terdaftar lagi. Hans sangat bingung. Dia harus berkata apa pada Yas saat ini. Raut wajah Yas sudah sangat cemas saat menunggu kabar dari Hans yang telah menghubungi Kiara beberapa kali.
"Hans apa benar benar tida ada jawaban darinya?"
"Tenanglah. Jen kau boleh pergi dari sini. Aku hanya ingin bicara berdua saja dengan tuan Yas saat ini"
Hans tida bisa jika harus bicara formal di depan Jen saat ini. Dia harus berbicara santai dan memberi banyak pengertian pada Yas. Jen kemudian mengikuti apa yang di katakan Hans. Jen pergi meninggalkan Yas dan Hans dengan pintu yang di tutup rapat rapat di sebuah ruangan.
"Yas sepertinya ponselnya sulit di hubungi"
"APA! Jangan bercanda Hans. Ini sudah sangat larut, apa yang sedang terjadi dengannya?"
"Tenanglah. Kau butuh waktu untuk istirahat. Ini sudah tengah malam. Kita tunggu samapi 24 jam, dan jika tida kembali segera hubungi polisi"
"Apa kau gila? Mana mungkin aku bisa tenang dan istirahat disaat seperti ini. Hubungi teman temannya. Atau kita datangi mereka jika tida ada yang menjawab"
"Tapi ini sudah tengah malam. Siapa yang akan memperdulikan sebuah panggilan. Universitas pun sudah tida ada orang untuk waktu sekarang. Kita cari Kiara besok. Kau jangan gegabah"
"Aku akan tetap mencari dia Hans. Terserah jika kau tida akan membantu"
Yas pergi dengan emosi yang meledak ledak. Dia tida sabar dan tida bisa jika harus berdiam diri tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi. Hans tida bisa mengehentikan kecemasan Yas malam ini, dia juga terpaksa harus mengambil tindakan dan secepat mungkin menemukan kiara.
Yas dan Hans terpisah mencari kiara, Hans benar benar harus berpikir jernih agar menemukan titik terang. Tapi Yas tida bisa berpikir seperti itu. Dia pergi menyusuri jalanan dan mencari kiara di setiap sudut kota.
Hans mengambil tindakan mengubungi teman teman kiara dan untungnya mereka menerima panggilan tengah malam begini.
Bella:
'Selamat malam. Apa ini dengan nona bella?'
'Benar. Siapa di sana?'
'Aku sekertaris tuan Yas. Namaku Hans'
'Ah baik. Ada yang bisa saya bantu?'
'Apa akhir akhir ini nyonya kiara bertemu dengan mu?'
'Kiara? Tida. Sudah hampir 5 bulan ini kami tida saling bertemu. Kupikir kita akan saling bertemu di wisuda nanti'
'Ah begitu rupanya. Jika kau mendapat kabar tentangnya bisakah kau menghubungiku'
'Baiklah aku mengerti. Tapi apakah ada sesuatu yang terjadi saat ini?'
'Aku tida bisa menjelaskan secara rinci. Tapi kumohon kerjasama diantara kita hanya kita yang tau. Kau adalah teman dekatnya, tolong jangan memberi berita yang bukan bukan pada wartawan'
'Tenanglah. Aku mengerti maksudmu'
__ADS_1
'Baiklah nona. Selamat malam'
'Selamat malam'
Sana:
'Selamat malam. Apa ini dengan sana?'
'Selamat malam. Benar. Siapa disana?'
'Aku adalah sekertaris tuan Yas'
'Ah tuan Hans rupanya. Ada yang bisa saya bantu'
'Saya ingin bertanya, apa akhir akhir ini nyonya menemui mu?'
'Maksudmu Kiara'
'Benar'
'Sudah setengah semester aku tida bersamanya. Aku sering melihat dia datang ke kampus, namun kami sama sama sibuk dan tida bisa mengobrol bersama'
'Jadi apakah maksud mu kau tida dengannya akhir akhir ini'
'Ya kau benar'
'Baiklah. Akan aku beritahu jika aku menemukannya'
'Terimakasih. Maaf mengganggu waktumu. Selamat malam'
'Selamat malam'
Disisi lain Yas sedang ketar ketir memasang wajah panik mencari sosok wanitanya, bahkan Yas mendatangi universitas dan mendapatkan hasil yang nihil. Di sana hanya ada satpam penjaga, dan mengatakan bahwa kampus sudah tida mempunyai kegiatan selain menunggu acara wisuda minggu besok.
Hans sudah tau hal ini, maka dari itu dia tida mendatangi universitas dan hanya mengandalkan ponselnya. Hans bahkan telah menghubungi Arka untuk memastikan apakah Kiara mendatanginya atau tida.
Yas berkeliling taman kota. Dia masih memikirkan janjinya yang pernah dia tawarkan pada Kiara malam itu, Dia teringat bahwa mungkin Kiara kecewa dan membencinya untuk sekarang karena hal itu, Maka dari itu Yas mencoba menyusuri tiap tiap tempat ramai untuk memastikan jika Kiara berada di antara mereka. Namun lagi lagi Yas harus menelan kekecewaan. Sampai waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari yas masih belum menemukan Kiara.
Dering ponsel Yas berbunyi, dia langsung menerima tanpa melihat siapa yang tengah menghubunginya saat ini.
'Halo'
'Pulanglah'
'Apa kau menemukannya?'
'Pulanglah dulu, kita cari lagi besok. Aku akan membawamu ke kampusnya besok, untuk mencari informasi tentang keberadaanya. Jadi tolong pulanglah dulu. Ini sudah hampir pagi'
__ADS_1
'Tida Hans. Aku tetap akan mencarinya. Aku harus Hans. Aku tetap Harus mencarinya. Mungkin dia sedang marah padaku karena kemarin aku tida menepati janji ku, dan hari ini mungkin saja dia ingin aku mencarinya dan membuktikan keseriusanku padanya'
'Kau jangan bodoh Yas, ini sudah dini hari, mana mungkin Kiara berkeliaran menunggumu di cuaca yang dingin seperti ini'
'Aku akan tetap mencarinya Hans'
Yas menyudahi panggilan dari Hans dengan tiba tiba. Suaranya terdengar gemetar dan seperti menangis saat Hans mencoba menyuruhnya untuk kembali, sekarang Hans malah mengkhawatirkan keadaan Yas ketimbang Kiara. Dia merasa Yas tida akan kembali jika Hans tida bertindak.
Dengan cepat Hans segera mencari keberadaan Yas lewat ponselnya, Hans tida ingin menambah keadaan semakin kacau, Hans berpikir kiara sudah pergi jauh meninggalkan kota, karena semua petunjuk tida ada yang mengetahui keberadaanya. Hal terpenting sekarang adalah Hans harus menenangkan Yas dan menyuruhnya berfikir jernih.
Yas masih berusaha mencari kiara, cuaca semakin memburuk, awan hitam sepertinya mengiringi kecemasan dalam lubuk hati Yas. Kini gemercik air perlahan turun dan membasahi seluruh jalanan kota. Cuaca seperti ini tida dapat di hindari, tapi Yas tetap dengan pendiriannya mencari kekasih hatinya. Yas sudah mencari ke berbagai tempat, Taman kota sudah ia kunjungi, universitas, tempat makan, mall, bioskop dan juga beberapa tempat nongkrong anak muda yang bisa saja kiara bisa di temukan disana. Namun kenyataan pahit harus Yas telan bahwa malam ini dia tida dapat menemukan kekasihnya.
Hans melihat Yas yang sedang berjalan gontai tida karuan mencari seseorang tampa arah dan tujuan, Hans segera keluar dari dalam mobil untuk membawa Yas pulang. Payung di bukakan Hans untuk menghindari jalanan yang basah dan hujan, perlahan Hans mendekati Yas dan berbicara.
"Pulanglah. Dia mungkin tida ada disini"
"Jika kau tida mau membantu ku, setidaknya jangan mengacaukan keadaan. Aku akan tetap mencarinya Hans"
Yas mengeluarkan nada marahnya, tapi dia benar benar menangis ditengah derasnya suasana Hujan. Hans tida menyangka Yas akan sekacau ini, dia terus membujuk sahabatnya agar mau untuk kembali ke Rumah.
"Kau yang sudah gila Yas. Kau tida memikirkan dirimu sendiri untuk saat ini. Apakah jika Kiara melihatmu seperti ini, dia akan senang dan tertawa. Pulanglah selagi aku memintanya baik baik"
"Aku tida mengerti kenapa dia bisa meninggalkan aku. Aku katakan bahwa kebahagiaan akan segera kita dapatkan. Tapi kenapa dia membiarkan aku terluka kembali Hans"
Yas benar benar menumpahkan emosinya di jalanan yang penuh genangan air malam itu. Dia sangat sangat kecewa dan menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya Kiara saat ini. Tapi Hans juga tida bisa membiarkan Yad terus seperti ini.
"Jika kau tida ingin pulang dengan kemauan mu. Aku terpaksa akan memaksamu Yas"
"Jangan halangi aku Hans. Kau tida pernah tau apa yang aku rasakan saat ini. Aki baru saja ingin mengatakan padanya, bahwa aku sungguh sungguh akan menjadi laki laki yang baik untuknya. Tapi dia benar benar telah pergi Hans"
Hans tida tahan melihat Yas yang seperti kehilangan kesadaran dan menyalahkan dirinya sendiri. Hans sampai harus menyingkirkan payung yang melindungi dirinya dari derasnya hujan untuk membawa Yas masuk kedalam mobil.
"Lepaskan aku b a j i n g a n aku akan tetap mencarinya"
"Dasar b r e n g s e k"
'Buk'
Satu pukulan mendarat mengenai wajah Yas yang sudah kacau. Hans terpaksa harus melakukan ini. Bagaimana pun, mencari kiara disaat seperti ini bukanlah hal yang baik.
Yas melawan, dia juga akan memukul Hans dan melampiaskan amarahnya, tapi entah mengapa tubuhnya gontai kelelahan. Dia masih memikirkan keberadaan kiara dan tida dapat melakukan satu pukulan yang dapat mengenai Hans.
'Buk'
Lagi lagi Hans memukul Yas untuk membuat Yas hilang kesadarannya kali ini, Hans benar benar harus melakukan ini agar Yas bisa di bawa pulang untuk beristirahat. Dan benar saja, kali ini Yas tumbang seketika setelah menerima pukulan kedua dari Hans.
Yas tergeletak tida sadarkan diri. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan babak belur. Hans segera menggendong Yas masuk kedalam mobil dan membawanya pulang ke rumah, Sebelum yas sadar dari pingsannya dan akan semakin mengamuk pada dirinya.
__ADS_1
Bersambung ...