
"Masuklah ki, ku antar kau"
"Bolehkah, maksudku apa kau tida keberatan"
Deff hanya melemparkan senyum seperti biasa, pertanda ia menyetujui dan menyuruh kiara untuk segera masuk kedalam mobilnya.
Kiara sangat gembira, wajahnya sumringah kemerahan, tida ada sesuatu yang dipikirkannya lagi, kecuali hanya kebahagiaan yang sekarang melintas dalam hatinya. Tentu saja karena dia bisa bersama dengan deff waktu ini. dengan cepat kiara menyetujui tawaran deff untuk segera masuk kedalam mobil.
"Apa kau menungguku"
"Ah, aku"
"Aku hanya bercanda. tentu saja tida mungkin bukan! Kau tau aku ini merasa bodoh, bahkan selalu bodoh jika di dekatmu. Dan pastinya selalu salah paham terhadapmu"
Kiara hanya tersenyum menjawab pernyataan yang di lontarkan oleh deff, dia berfikir bagaimana mungkin dirinya akan mengatakan 'ya aku menunggumu' walaupun kenyataannya memang seperti itu, kiara akan sangat malu dan canggung jika mengatakan seperti itu, tapi mengapa deff menanyakan demikian?
"Kita satu jurusan, juga sering di kelas yang sama, apa aku boleh menyimpan nomor ponselmu? Maksud ku aku kira aku akan menghubungimu jika ada tugas yang harus di selesaikan secara berkelompok"
"Eumh" *Bagaimana ini, apakah aku akan memberikannya atau tida* "Akan ku tuliskan jika begitu, berikan ponsel mu"
Dengan cepat deff memberikan ponselnya sambil tersenyum, beberapa kali deff melirik kiara dengan tatapan penuh kagum.
__ADS_1
Kiara dengan cepat mengembalikan ponsel deff setelah mengisi nomor ponselnya, karena Kiara pun sangat sadar deff selalu memandanginya diam diam.
"Pukul berapa kelas mu selesai"
"Aku akan mengikuti kelas tambahan"
"Bagaimana jika aku mengajakmu untuk makan malam"
*Makan malam* "Mh, terserah kau saja"
"Aku akan menunggumu jika begitu"
Setelahnya kiara turun dari mobil deff, dan ketika Kiara berjalan menjauhi mobil, namun terdengar deff memanggilnya kembali
"Ki. sampai jumpa"
Kiara benar benar merasa dirinya sedang terjun bebas dari sebuah jurang kekelaman menuju dasar kebahagiaan, walaupun dia merasa hidupnya sangat hancur di rumah, namun dia sadar ketika diluar rumah masih ada yang selalu membuatnya tersenyum.
Kiara berjalan dengan perasaan berbunga, dan dengan ceria, dia tida terlalu memperdulikan apa yang sedang di bicarakan orang orang di sekitarnya, sampai ada seseorang yang menyapanya.
"Kau bukankah kiara"
__ADS_1
"Ah benar, kau mencari ku"
"Ah ternyata kau memang kiara yang menjadi istri seorang konglomerat itu bukan? Gaun pengantin mu terpajang di sebuah majalah fashion, lalu cincin mu, aku sangat menyukai cincin mu"
Sontak orang orang yang berada di sekitarnya memandang dengan tatapan tida percaya, kiara langsung menyembunyikan cincinnya karena tersadar dia selalu memakainya dari pertama kali menikah dengan tuan yas.
"Aah, kau salah orang, itu bukan aku, mungkinkah namaku sama seperti seseorang yang kau kenal?"
"Tapi wajahmu mirip sekali dengannya"
"Mungkin itu hanya sebuah kebetulan"
Setelah menyelesaikan beberapa kalimat kiara langsung berjalan sedikit tergesa gesa menuju toilet, dia berencana menyembunyikan cincin pernikahannya agar tida ada orang yang gembar gembor mencari tau tentang setatusnya.
*Ah, benar benar merepotkan, kenapa aku ceroboh sekali, ini adalah hari pertama aku masuk kelas, kenapa mereka langsung menyadarinya, aku harus menyembunyikan ini*
Didepan cermin, kiara tersadar wajahnya masih memerah ketika deff mengatakan akan mengajaknya makan malam, apa ini pertanda deff sudah mulai menyukainya.
Kiara menyembunyikan cincin pernikahannya didalam tas yang selalu ia bawa ke kampusnya, dia segera keluar dari toilet setelah selesai dengan perkara cincin itu.
Bersambung ..
__ADS_1