HIDUPKU

HIDUPKU
Rencana besar


__ADS_3

Di lain tempat saat hari sudah siang, saat kiara hendak keluar rumah untuk pergi ke kampus, kiara menemui suasana rumah yang sudah sangat sepi dan seperti tida berpenghuni. Kiara berpikir karena Yas dan Hans sudah pasti ke kantor. Tapi di mana Jen? Kiara juga berpikir Jen mungkin sedang pergi keluar untuk sesuatu.


Kiara pergi dari rumah tida merasa ada sesuatu apapun, padahal keadaan benar benar sedang kacau. Dia tida mengetahui kekacauan apa yang sedang terjadi di perusahaan OT grup. Dia juga tida mengetahui yas pergi terburu buru untuk menyelesaikan masalah. Benaknya berpikir semua baik baik saja.


Kiara sudah sampai di dekat kampus. Seperti dugaan, dia tida akan melihat deff hari ini, mungkin dia telah mendapat hukuman dari keluarganya atas apa yang telah dia lakukan. Tapi kiara menjadi was was dia tida percaya bahwa keadaan akan baik baik saja setelah kejadian semalam.


Kiara melihat kenapa suasana kampus sangar ramai, rupanya banyak wartawan yang sedang menunggu dirinya, dan kiara menduga semua wartawan menunggunya untuk meminta keterangan tentang hubungannya dengan deff. Kiara ketakutan setengah mati, dia berpikir salah tentang hari ini, kiara mengurungkan niatnya untuk memasuki area kampus dan pergi menjauh dari keramaian. Cafe menjadi pilihan yang paling utama kiara pikirkan, di dalam suasana aga sepi, mungkin karena kampus sedang tida kondusif semua orang malah pergi mencari tau apa yang terjadi.


*Bagaimana ini? Kenapa situasinya jadi kacau! Apa aku harus menghubungi yas*


Kiara berkali kali memikirkan hal yang sama, yaitu menghubungi yas melalui hans. Dia sadar bahwa sampai detik ini dirinya tida pernah memiliki nomor ponsel yas. Tapi dia sendiri sadar situasi sekecil ini harusnya bisa dia hadapi.


*Yas mengajak aku berkencan malam ini, bagaimana mungkin aku merusak suasana dan moments pertama ini hanya untuk hal sepele. Lebih baik aku menunggu saja sampai sore tiba*


Kiara mengurungkan niatnya. Dia pergi dari cafe mencari tempat ketenangan baru. Dia ingat perpustakaan kota yang cukup besar. Dia tida akan bertemu siapapun di sana. Dia juga dapat menghilangkan rasa jenuhnya untuk menunggu saat sore tiba dengan membaca buku.


Di lain tempat Yas telah berusaha sangat keras dengan mengunjungi banyak orang dan rekan. Meminta sedikit bantuan agar mereka berpihak pada perusahaanya. Tida banyak yang biasa dia lakukan selain meminta dukungan dan meyakinkan rekan bisnisnya untuk percaya pada kata katanya. Yas hanya mampu menguatkan dirinya jika harus kalah dalam peperangan.


Yas kini duduk di kursi besarnya dalam sebuah ruangan yang megah. Banyak yang harus dia pikirkan untuk saat ini. Tapi hari sudah mulai sore. Dia cukup lelah untuk melakukan apa yang harus dia lakukan.


"Han apa pihak kita sudah cukup untuk melawan Riswan?"


"Kita telah berusaha semaksimal mungkin. Kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Kau juga tida menyerah dan tida diam. Jadi, jangan membuat dirimu merasa bersalah sepenuhnya"


"Aku yang membuat kekacauan ini. Seharusnya aku mengenal siapa Riswan. Dari awal dia tida menyetujui pernikahan ini, itu sebabnya dia memanfaatkan yohans untuk bekerjasama dan mengikuti perintahnya"


"Kau tida perlu terlalu cemas. Penyidik akan segera tiba. Jaksa akan menentukan yang terbaik"


Yas menengadahkan wajahnya dan bersender pada kursi putarnya, dia benar benar kacau dan penat harus bagaimana lagi menghadapi situasi ini.


*Apa aku benar benar sudah melakukan yang terbaik?*


--**--


Kiara sudah keluar dari perpustakaan sejak pukul 5 sore. Dia melakukan perjalanan ke tempat yang dia tuju sesuai kesepakatan bersama yas. Butuh waktu 30 menit untuk sampai ke tempat dimana mereka memilih tempat. Kiara merasa bahagia dan jantungnya benar benar berdebar. Sebentar lagi dia bertemu dengan sosok yang sangat dia rindukan.


Setelah kiara turun dari bus, dia mendapat panggilan dari nomor yang tida dia ketahui siapa itu. Kiara berpikir itu adalah nomor Yas yang akan menghubungi dirinya bahwa dia sudah sampai di Taman Kota saat ini. Tempat dimana mereka berjanji akan bertemu.


'Halo siapa disana?'

__ADS_1


'Ini aku, bisa kita bertemu sebentar. Ada suatu hal yang harus aku bicarakan dengan mu'


'Tapi aku sudah memiliki jani. Mungkin lain kali kita akan bertemu'


'Ini sangat penting. Kumohon jangan menolaknya. Ini tida akan lama'


Kiara berpikir sejenak, dia tida mengerti apa yang harus dia putuskan. Mungkin Yas sedang menunggunya saat ini. Tapi seseorang disana sedang mengharapkan jawaban dan mengatakan ini adalah hal penting.


'Baiklah. Kebetulan aku sekarang berada di taman kota. Kau bisa menemui ku disini'


'Baiklah. Aku akan segera menemui mu'


Kiara menutup panggilan itu dan segera berjalan menuju tempat dimana dia dan Yas akan bertemu. Kiara merasa mungkin ini akan jauh lebih penting dari yang dia pikirkan.


Kiara duduk termenung menunggu seseorang yang tadi sudah menghubungi. Dengan rasa resah dia tetap bersabar untuk menunggunya.


"Kau sudah lama menunggu?"


"Tida juga"


"Bagaimana jika kita berbicara di cafe dekat sini. Udara di luar sangat dingin. Aku ingin memesan minum juga"


Kiara mengikuti langkah kaki laki laki yang telah menghubunginya tadi. Sekali lagi dia melihat kursi yang sudah dia duduki tadi, Kiara memastikan tida ada Yas yang menunggunya disana. Dia tida akan tega membiarkan Yas kedinginan di cuaca seperti ini karena dirinya.


Kiara telah sampai di sebuah cafe, dia juga telah duduk memesan tempat dan minuman. Mereka tampak saling menatap dengan serius.


"Maaf aku mengganggu waktumu"


"Tida masalah Arka. Aku kira kau sangat serius kali ini. Jadi aku tida keberatan jika kau ingin menemui aku"


Ya, ternyata laki laki yang menghubungi dirinya adalah Arka, si pemiliki rumah lama kiara. Arka dengan tergesa dan serius harus menemui kiara selagi dia mampu.


"Keadaan sangat kacau. Apa kau sudah mengetahuinya"


"Yas pergi dari rumah seperti biasa. Dan aku tida mendapati Jen untuk meminta informasi darinya. Aku tida mengetahui apa apa hari ini"


Arka menghembuskan nafasnya pelan dan tersenyum.


"Apa yang ingin kau sampaikan"

__ADS_1


"Ku kira kau sudah mendengarnya. Aku akan jelaskan dulu jika begitu. Keadaan perusahaan Yas sangatlah kacau, rekan bisnisnya meninggalkan dia karena berita yang telah deff sampaikan, Yohans melakukan korupsi di perusahaan dan mencuri data penting untuk keuntungan hotel RINET, dan semua ini menyebabkan perusahaan sangat kacau dan sedang di selidiki. Riswan membalikan keadaan karena ketidaksukaannya pada Yas. Dan kini Yas dalam bahaya"


Kiara terperangah, tubuhnya bergetar hebat dan nafasnya terpenggal karena merinding. Dia tida berkata apa apa setelah sesaat Arka bercerita dengan singkat mengenai keadaan yang kacau hari ini. Kiara benar benar tida menyangka dengan apa yang telah dia dengar. Bagaimana mungkin Yas menyembunyikan kekacauan yang begitu besar padanya.


"Lalu apa yang terjadi sekarang dengan Yas? Kenapa semua bisa seperti ini?"


Kiara hampir meneteskan air matanya. Dia tida sanggup lagi berpura pura tegar di hadapan Arka. Bahkan mungkin Arka sudah menduga Kiara akan seperti ini.


"Yas akan masuk penjara jika dia tida mempunyai bukti yang cukup kuat"


"Kenapa bisa seperti ini? Dia bahkan tida melakukan apapun"


"Ini tida berkaitan dengan hubungan kalian. Ini benar benar pertarungan antara dua perusahaan. Riswan memiliki banyak rekan yang siap mendukungnya. Dan Yohans benar benar melakukan kekejaman pada Yas dengan memanipulasi data data kantor Yas agar penyidik menemukan kecurangan di sana"


Kiara semakin tida tahan. Hatinya benar benar berkecamuk tida percaya. Kenapa semua bisa seperti ini akibat dari pesta semalam.


"Aku harus bagaimana jika seperti ini? Aku bukan orang yang berarti yang dapat di dengar oleh orang. Bahkan mungkin orang lain tida akan percaya dengan perkataan ku. Dunia memang sangat kejam untuk seseorang yang hidupnya seperti aku"


"Tenanglah. Aku ada disini untuk membicarakan ini dengan mu"


Arka menyodorkan amplop coklat besar pada kiara dengan perlahan. Dia juga menggenggam tangan kiara agar kiara merasa lebih baik.


"Aku memang pengacara keluarga Riswan. Bahkan bisa dibilang aku tameng untuk Risti putri semata wayangnya. Aku siap bekerja keras memikirkan apa yang terbaik untuk Risti ketika dia berada di posisi terancam melawan lawannya. Tapi sejujurnya aku tida akan suka bila aku bekerja untuk orang yang telah banyak berbohong dan melukai banyak orang. Terutama kebahagiaanmu"


Kiara hanya menangis sendu tida tau apa yang harus dia katakan pada Arka.


"Ambilah bukti bukti ini untuk menyelamatkan Yas, pastikan dia menang dalam peperangan ini. Buat keadaan menjadi baik"


"Tapi bagaimana denganmu? Apa kau akan baik baik saja setelah Yas memenangkan peperangan ini"


"Kau tenang saja. Aku tida akan mendapat masalah karena ini. Keluarga riswan yang menyerahkan ini kepadaku dengan sangat percaya. Jika aku harus di selidiki karena kemungkinan bekerjasama dengan Yas, mereka tida akan menemukan bukti apapun. Aku akan baik baik saja saat keluarga Riswan dan keluarga Yohans kacau pun"


"Terimakasih Arka. Aku tida tau lagi harus berkata apa padamu. Aku sungguh berhutang padamu"


"Selamatkan suamimu kiara. Kau berhak bahagia dengannya" *Karena kutahu sekarang kau sudah sangat mencintainya*


"Aku akan melakukan yang terbaik. Sekali lagi terimakasih untuk kebaikan hatimu"


Arka hanya tersenyum saat kiara mengutarakan rasa terimakasihnya yang begitu dalam. Kiara hanya mampu menangis tida berdaya dengan apa yang sekarang dia dengar dari Arka. Dia menganggap Arka adalah malaikat yang dikirimkan tuhan untuk membuat hidupnya bahagia, kebaikannya yang begitu besar tida mampu dia anggap sebagai kebaikan manusia. Kebetulan saat bertemu dengannya di rumah lama itu ternyata bukan semata mata kebetulan biasa. Tuhan benar benar telah menyiapkan seseorang ini dengan sempurna disaat kekacauan menerpa.

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2