HIDUPKU

HIDUPKU
Ciuman


__ADS_3

"Deff apa perkataanku kurang jelas terdengar olehmu?"


"Aku hanya ingin memastikan kembali apa yang kau sampaikan benar benar atas apa yang kau rasakan"


"Kau punya hak apa untuk tida percaya terhadap perkataan ku? Apa kau pikir karena aku dekat dengan mu selama ini kau merasa aku menyukai mu?"


"Benarkah? Apa ini jawaban yang pantas aku dapatkan, lalu kenapa kau menceritakan hubungan mu yang rumit dengan tuan yas kepadaku? Apa sekarang si baj*ngan itu telah memberikan beberapa rupiah kepada mu. Lalu kau merasa besar kepala dan akan tunduk padanya, dasar wanita murahan"


'Plaak'


Sebuah tamparan dari Kiara melayang tepat menempel pada pipi Deff. Menyisakan bekas merah yang pasti sangat pedih dirasakan.


"Kau sudah melewati batas Deff, aku sepertinya salah mengenalmu"


Deff tida berputus asa, setelah dirinya memaki Kiara dan mematahkan hatinya, Deff menarik lengan kiara dan memeluknya, mendaratkan satu ciuman pada bibir manis Kiara, yang membuat Kiara jadi terkejut dan tida dapat menghindari ciuman itu.


Ini benar benar membuat darah Yas mengalir naik keatas kepalanya. Kesabarannya telah habis melihat tindakan kedua manusia itu, namun dalam benaknya yang lain, dia merasakan bahwa dirinya telah kalah dan tida mendapat cintanya Kiara.


Yas memutuskan untuk menutup pintu kamarnya. Dirinya masuk meninggalkan balkon dan menarik tirai tebal untuk menutupi pintu kaca itu. Dia tida mau lagi melihat Deff dan Kiara melakukan lebih dari sekedar ciuman yang dia lihat.


"Apa kau benar benar tida waras deff, hah?"


Kiara telah mendorong tubuh deff menjauh darinya, untuk menghentikan ciuman singkat itu.


"Ya, aku memang sudah gila, jadi apa kau ingin menghentikan kegilaanku?"


"Aku tida ingin melihatmu lagi deff, pergi dari hadapnku"


"Besok kau akan melihat aku bertunangan, tepat pada acara pemasangan cincin, aku akan bicara dengan lantang apa yang telah terjadi pada pernikahanmu Kiara. Tentang kau yang bercerita bahwa kau selalu mendapat penyiksaan dari pernikanamu yang palsu, aku akan mempermalukan mu. Ingat itu"


Deff berlalu menaiki mobilnya, dengan tatapan marah dan keadaan kesal pada Kiara. Deff benar benar seperti ingin membunuh kiara malam itu, membuat dirinya merasa seorang laki laki yang tida pernah ada harganya dimata wanita.


Kiara segera mengusap air matanya yang jatuh menimpa pipinya, dia sadar tida harus memperlihatkan kesedihan ini pada seisi rumah.


"Nyonya apa kau baik baik saja"


Tanya Jen dengan nada cemas ketika Kiara berada di depan pintu kamarnya


"Aku baik Jen. Apa keadaanku terlihat kacau?"


"Sebaiknya anda istirahat, aku akan membuatkan jeruk panas terlebih dahulu untukmu. Masuklah kedalam kamar dan berbaring dengan tenang"


Jen ingin berlalu untuk membuatkan jeruk panas seperti apa yang telah dia katakan, namun Kiara ternyata memanggilnya lagi untuk menanyakan sesuatu.


"Jen!!"


"Saya nyonya"


"Apa tuan yas ada di kamarnya?"


"Tentu. Kurasa tuan Yas tida keluar kamar setelah makan malam"


"Baiklah terimakasih jen"


Kiara segera membuka pintu kamarnya, merebahkan tubuhnya yang merasa sangat lelah hari ini.

__ADS_1


Berbeda dengan Yas yang terlihat sangat gelisah di tempat tidurnya yang nyaman. Matanya tida mampu terpejam dengan tenang setelah melihat kejadian berciuman itu. Hatinya bergejolak ingin menanyakan hal ini pada Kiara, namun hatinya yang lain berbicara jangan ikut campur.


"Aku benar benar gila jika terus memikirkan kejadian memalukan itu. Apa yang sebenarnya ada dipikiran Kiara pada saat baj*ngan itu menciumnya? Apa dia juga menyukai aksi itu? Tapi bukankah sebelumnya dia menampar baj*ngan Deff dengan keras? Lalu suasana apa yang sedang terjadi sebenarnya"


Yas terus sajah bertanya tanya pada dirinya sendiri walaupun jelas sekali dia tida menemukan jawaban disana.


Yas bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil mantel tebal yang telah menggantung di ring pakaian dan mengambil salah satu kunci mobil pribadinya di laci. Dia berencana akan menghirup udara segar sejenak dengan mengendarai mobil tanpa seorang supir.


Yas membukakan pintu kamarnya tanpa ragu, ingin melangkah keluar dengan harapan mampu melupakan kisah cinta antara Deff dan Kiara, namun betapa kagetnya dia yang telah melihat Kiara berdiri mematung tepat dihadapan wajahnya kala itu.


"Kau"


"Apa aku mengagetkan mu?"


"Sudah berapa lama kau berdiri disini? Kenapa tida bersuara agar aku membukakan pintunya?"


"Kupikir kau sudah lelap, jadi aku mengurungkan niat untuk bersuara"


"Ada apa? Apa kau ingin bicara denganku?"


"Apa kau akan keluar?"


"Aku ingin menghirup udara segar, aku sulit tidur malam ini. Tapi jika kau ingin berbicara masuklah"


"Bisakah kau membawaku pergi keluar untuk menghirup udara segar juga?"


Yas tertegun mendengar ucapan Kiara, dia juga melihat kesedihan dimata Kiara ketika dia berbicara. Bibirnya mungkin tersenyum manis, namun mata itu penuh dengan kecemasan menurut pandangan Yas.


Kiara tida ingin menatap Yas ketika di dalam mobil, dia terus sajah memalingkan wajahnya menatap keluar jendela Padahal dia juga menyadari bahwa Yas beberapa kali melirik dirinya dengan ekor matanya, itu terlihat jelas di kaca jendela.


"Apa kau ingin turun untuk membeli sesuatu?"


"Tentu. Jika kau menginginkannya aku akan menghentikan mobilnya di depan"


"Baiklah terimakasih"


Entah Yas harus senang atau kesal pada Kiara, namun kali ini dia merasa Kiara berbeda. Dia lebih banyak diam dan tida banyak protes untuk hal hal kecil. Tentu Yas senang karena ini pertama kalinya kiara menawarkan diri untuk ikut serta di dalam mobil dengannya.


"Tunggulah sebentar, aku tida akan lama"


"Baiklah"


Kira tersenyum tipis dan melihat yas berjalan menyebrang untuk membeli beberapa makanan.


'Aku harus bicara padanya. Tapi harus dimulai dari mana pembicaraan ini, aaaah aku merasa lelah memikirkannya, kepala ku serasa akan meledak kali ini, seharian aku benar benar lelah, dan sekarang duduk santai pun rasanya amat tegang'


Yas telah kembali, membawakan beberapa makanan dan minuman untuk dinikmati malam itu bersama Kiara. Dan yas menyodorkan cup capucino panas pada Kiara.


"Minumlah, cuacanya benar benar dingin, kau akan terserang fulu jika sampai perutmu kosong"


"Terimakasih"


"Ini makananmu, makanlah selagi panas"


"Baiklah"

__ADS_1


Kiara menerima semuanya tanpa ragu, karena sebenarnya pun dia tida sempat makan malam karena langsung menemui Yas di depan pintu kamarnya.


Mobil di lajukan kembali mengikuti jalanan yang sudah cukup sepi malam itu


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan"


Kiara terdiam membelalakan kedua bola matanya mendandakan dirinya merasa kaget, kenapa Yas masih mengingat perkataanya, pikir kiara dalam benak hatinya.


"Lupakan sajah, aku tida bermaksud untuk serius"


"Benarkah? Kukira kau akan menceritakan tentang Deff pada ku!"


"Deff? Kenapa harus dia?"


"Karena beberapa jam yang lalu kau barusaja menemuinya bukan?"


Kiara tercengang mendapati Yas berkata bahwa dirinya telah bertemu dengan Deff, karena memang itu adalah faktanya. Kiara semakin gemetar dibuat Yas, dia takut jika Yas akan melakukan sesuatu yang begitu mengerikan padanya kali ini.


"Maafkan aku, aku tida bermaksud untuk ...."


Kiara menoleh melihat yas kali ini, dia ingin memastikan ekspresi apa yang sedang Yas tunjukan. Ternyata tatapannya begitu tajam memandang jalanan, Yas begitu serius dan seperti meredam amarahnya.


"Apa kau melihatnya?"


Tanya kiara pada Yas yang tiba tiba membuat Yas benar benar merasa kesal dan menghentikan laju mobilnya dengan menginjak rem secara mendadak.


Sontak kiara merasa sangat kaget dan ketakutan, kenapa situasi dulu benar benar harus terulang kembali pada saat tida ada seorangpun yang dapat menyelamatkannya.


"Maksudmu apakah aku melihat kau dengan ******** itu seperti ini .."


Yas mendorong tubuhnya mendekati wajah Kiara, dia melihat dengan teliti satu persatu bagian dari wajah Kiara, sorot matanya yang penuh dengan kegelisahan membuat yas merasa iba, hidungnya yang lancip membuat yas semakin bergairah untuk membenamkan matanya saat itu. Namun pada saat Yas melihat bibir itu, Yas melihat suatu hal yang membuat dirinya kesal pada keadaan dimana dia harus mengingat kejadian antara Kiara dan Deff berciuaman. Yas kemudian menjauhkan tubuhnya kepada posisi semula agar kiara dapat bernafas dengan tenang kembali setelah ketegangan yang dibuat oleh yas barusan.


"Kau benar benar melihat semuanya?"


Tanya Kiara kembali secara terbata dan gemetar.


"Jangan katakan apapun, aku tida suka mendengarnya, biarkan yang sudah terjadi saat itu menjadi kebencianku pada saat itu"


"Apa sebab itu kau ingin mencari udara segar?"


"Kau terlalu percaya diri mengatakan itu"


"Kau mengatakannya dengan gugup kali ini, itu artinya kau benar benar marah dan cemburu, apa aku benar? Apa kau keluar untuk melupakan apa yang telah kau lihat"


"Hentikan, aku muak mendengar kau bicara seakan akan kau orang yang aku cemburui"


"Lihat aku sekarang jika begitu. Kau tau, seseorang yang berbicara tanpa menatap lawan bicaranya adalah bohong, matamu mengatakan kau sedang berbohong dan kesal"


Yas kemudian menatap kiara dengan lekat, wajahnya kembali berdekatan dengan kiara agar kiara tida lagi banyak bicara tentang kejadian tadi.


"Maafkan aku, aku benar benar tida melakukannya pada Deff, aku ingin mengatakan itu sebenarnya. Kukira kau tida mengetahuinya, dan walaupun begitu, tetap aku merasa aku ingin meminta maaf padamu"


Kiara menarik mantel Yas dengan cepat, dia memejamkan matanya dan mendaratkan ciuman pada bibir Yas yang sexy. Kali ini sorot mata Yas menjadi luluh dibuat Kiara, dia merasakan kehangatan yang tulus dari ciuman itu bersama Kiara, mereka hanyut tenggelam dalam suasana malam yang dingin.


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2