HIDUPKU

HIDUPKU
Kesedihan dua pria


__ADS_3

Sesampainya di rumah yas benar benar kacau, dia langsung beranjak memasuki kamarnya, dirinya termenung berdiam diri di dalam kamar, lalu hans yang melihat keadaan ini benar benar menyesal, apa karena perkataanya kiara yas jadi semakin murung, hans benar benar merasa bimbang pada saat itu.


Jen yang melihat keadaan itu seperti sangat cemas, jen telah menganggap hans dan yas adalah kedua adiknya yang perlu di bimbing, di perhatikan dan di beri nasihat.


jen mendekat menghampiri sekertaris hans yang masih melihat jejeran anak tangga yang baru saja di lewati oleh yas menuju kamarnya.


"Sekertaris hans apa yang terjadi"


"Aku memarahinya jen, karena dia berdebat di ruang rawat dan hampir membunuh kiara dengan mencekiknya"


"Astaga, benarkah itu, duduklah, aku akan memberimu air madu, kau nampak kelelahan"


"Terimaksih jen"


Jen membuatkan segelas air madu agar hans kembali bertenaga.


"Minumlah"


"Terimaksih jen"


"Bagaimana kondisi nyonya, apa keadaanya sudah membaik"


"Yah, dia baik baik saja, mungkin 2 hari lagi kakinya sudah benar benar sembuh dan dia dapat pulang"

__ADS_1


"Sekertaris hans, kau tida salah, jangan mencemaskan apapun, biarlah tuan yas sendiri dahulu untuk saat ini"


"Aku takut jen, aku sangat cemas"


"Apa yang kau cemaskan sekertaris hans"


"Kau tau, aku tida pernah menolak apapun permintaan yas, aku selalu mendampinginya layaknya saudara kandungku, aku selalu memberikan yang terbaik selama hidupku, tapi aku mencemaskan sesuatu, suatu hal yang yas perintahkan dan hatiku menolaknya tapi diriku harus mematuhinya"


Hans mulai menetaskan air mata saat itu, membiarkan semua bebasnya terlepas dengan menceritakan pada jen


"Kau tau jen, diriku tida pernah bisa menolak yang sudah yas perintahkan, aku tida akan bisa, bukan karena dia adalah bos ku, namun ini lebih dari sekedar pekerjaan, aku ingin seluruh hidupku hanya ingin berada disisinya membantunya"


"Tenanglah sekertaris hans"


Jen mencoba menenangkan hans dengan menepuk nepuk lembut punggungnya, tangisan hans benar benar tida dapat tertahankan lagi kala itu.


"Sekertaris hans jangan memikirkan hal yang belum terjadi, biarlah masalah ini terselesaikan dahulu, kau bisa bicarakan ini besok setelah tuan yas sedikit tenang, kau tenangkan juga pikiranmu, jangan sampai tuan yas melihat matamu sembab besok, pulanglah, aku akan pergi ke kamar tuan yas untuk membawakan sesuatu"


"Baiklah jen, terimakasih kau sudah mendengarkan aku"


Hans kembali ke kediamannya dengan perasaan sedikit lega, dia selalu tida tahan jika yas berada di kamar mengunci dirinya dan tida mau satu orang pun mengganggunya termasuk hans. Hans selalu merasa terpukul juga jika yas benar benar menderita seperti yang dia lihat.


Tida lama jen membawa nampan berisi perasan jeruk nipis dengan sedikit gula dan lemon, serta dia sajikan dengan keadaan hangat.

__ADS_1


"Tuan aku membawakan air untukmu, minumlah agar kau kembali segar besok"


*clik*


Suara itu menandakan bahwa sandinya telah terbuka, dan jen segera masuk untuk memberikan air jeruk itu pada yas.


"Apakah hans sudah pulang"


"Sudah taun"


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu"


"Sekertaris hans mengatakan dia menyesal terlalu banyak bicara pada anda tuan"


"Dasar anak bodoh, harusnya aku yang menyesal telah membuat dia begitu marah tida seperti biasanya, tapi dia berlaga dia yang menyesal, dasar licik"


Yas menyeringai kan bibirnya tanda dia benar benar geli dengan tingkah hans kala itu.


"Minumlah air jeruk ini, anda tida mungkin akan terlihat sakit di hadapan sekertaris hans, dia akan sangat cemas"


"Baiklah terimakasih jen"


"Saya permisi tuan"

__ADS_1


Jen kembali turun meninggalkan kamar yas dengan perasaan lega, ternyata kedua laki laki itu benar benar menggemaskan, mencemaskan satu sama lain dan selalu menjaga perasaan satu sama lain, tapi selalu bersikap so baik baik saja jika bertemu.


Bersambung ..


__ADS_2