
Yas selalu menginginkan moment ini terjadi, dirinya bersama kiara dalam satu tempat tidur yang sama, membicarakan berbagai hal yang telah terjadi hari ini, lalu mendengarkan setiap keluh kesah yang setiap hari selalu menghampiri.
Yas mendaratkan bibirnya mengambil kesempatan yang romantis ini, dia memejamkan mata menikmati ciuman yang akan dia berikan pada kiara. Namun kiara segera menyadari hal itu dan menempelkan tangannya didepan bibirnya, sehingga yas tepat mencium punggung tangan kiara karena ketidak sandarannya. Mata yas kembali terbuka, tida mengerti apa yang sedang kiara lakukan.
"Kenapa kau menghalangi aku"
"Kita sudah berciuman 3 kali semenjak 8 bulan terakhir, dan aku merasa kalau aku sebenarnya kaku jika sedang melakukan itu denganmu, apa kau menyadarinya"
Yas tersenyum lembut, mendengar pertanyaan konyol macam apa yang diutarakan oleh kekasih hatinya.
"Pejamkan matamu, jangan buat jarak diantara kita maka setelah itu rasa kaku itu akan hilang"
"Kau pandai sekali melakukan dan membuat teorinya, apa kau juga sering melakukannya?"
"Yah"
"Astaga, benarkah? Apa kau tidur dengan banyak wanita? kau pasti senang menciumi mereka? Dan pasti mereka sangat pandai dan menggairahkan bukan"
Yas benar benar tersenyum lebar, dirinya masih berbaring memeluk kiara di atas tempat tidur, ekspresi kiara saat ini sebenarnya ingin lepas dari pelukan itu, tapi yas benar benar tida mengizinkannya karena dia merasa inilah saat terbaik yang tida akan pernah dia rasakan kembali setelah kiara sadar.
"Kau merasa dirimu tersaingi umh"
__ADS_1
"Tentu saja tida"
"Bagaimana dengan deff, apa kau pernah melakukannya"
"Ya, aku pernah melakukannya. Memangnya kau saja yang pernah melakukannya dengan banyak wanita"
"Kenapa wajahmu terlihat berbohong. Jadi benarkah kau hanya pernah melakukan sebanyak 3 kali, dan itupun hanya denganku"
Yas tertawa lepas kali ini, mengejek kiara yang pipinya sudah merah karena merasa kesal.
*Bagaimana mungkin aku hanya berciuman 3 kali, dan itupun hanya dengan dia, 2 kali di antaranya saat kami sedang dibawah pengaruh obat, dan sekali itu saat aku sadar aku ingin menciumnya, dasar memalukan*
Yas menatap wajah kiara yang sedang berfikir dengan kepolosannya, membiarkan kiara banyak berargumen dengan dirinya sendiri, yas sudah benar benar mengantuk, dia tidur begitu nyaman dengan mendekap kiara.
*Sudahlah percuma saja membangunkan dia, sepertinya dia tida membiarkan aku pergi kali ini*
Kiara Pun akhirnya ikut tertidur dalam dekapan hangat suaminya.
Jam menunjukan pukul 03.45
Kiara terbangun mendengar yas yang seperti sedang mengalami mimpi buruk, kiara membukakan matanya dan melihat keadaan yas, wajahnya pucat dan berkeringat, dia tida bersuara tapi terlihat jelas ketakutan diraut wajahnya yang terpejam.
__ADS_1
"Yas bangun, hei kau baik baik saja. Ada apa denganmu yas, hei bangunlah. Sadar lah. Tenangkan dirimu"
Yas membukakan kedua matanya, dia melihat sekeliling menyadarkan dirinya bahwa masih ada di tempat yang sama, yas menelan ludahnya sendiri dan meneteskan air mata setelah sadar, dan dia melihat kiara yang ada di sisinya kemudian napasnya kembali tenang saat ini.
"Minumlah"
Kiara menyodorkan gelas berisi air mineral untuk menyetabilkan keadaan yas malam itu, kiara sebenarnya juga ketakutan, apa yang terjadi dengan yas karena kondisinya sangat serius ketika dilihat.
"Kau sering seperti ini"
Yas menatap kiara dan mengangguk pelan.
"Apa yang terjadi dalam mimpi itu"
Yas hanya terdiam, tida menjawab pertanyaan kiara, dia menyandarkan kepalanya dalam dekapan dada kiara.
"Tenang lah, kau akan baik baik saja"
*Aku ketakutan, aku sangat takut ki, tapi mulut ini terus kaku tida bisa berbicara apa yang aku takutkan*
"Tidurlah, kau butuh banyak waktu untuk istirahat"
__ADS_1
Yas melingkarkan tangannya memeluk pinggang kiara, dan tentu saja kiara tida menolak, kiara berfikir ini bukanlah trik yang sedang yas lakukan untuk bisa memeluknya, ini real kejadian yas mengalami trauma dalam mimpinya. Kiara juga merasa kasihan dan tida habis pikir, yas yang terlihat kaku dan menakutkan sepertinya sering menangis dalam kegelapan malam.
Bersambung ...