HIDUPKU

HIDUPKU
Menunggu sebuah janji


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 :15. Kiara sudah selesai menemui Arka dan membahas banyak hal malam ini. Kiara sudah menunggu sekitar 2 jam setelah bertemu dengan Arka, berharap Yas akan mengingat janjinya dan datang pada Kiara walau keadaan sedang tida baik sekalipun. Kiara masih menunggu di tempat yang sama, di kursi taman dengan cuaca yang begitu dingin malam ini. Kiara masih bertahan dengan kepercayaan dalam hatinya akan menunggu sampai akhir dan menepati apa yang sudah dia janjikan kemarin malam.


--**--


Kantor OT grup.


"Kami memberikan surat gugatan untuk mu tuan Yas. Besok kau harus mempersiapkan diri"


"Baiklah. Aku akan datang dan mengikuti prosedur yang ada"


"Jika begitu terimakasih atas waktunya. Tugas kami telah selesai. Kami harus pamit"


"Baiklah. Terimakasih"


"Senang bisa bekerjasama dan tida mendapat kendala"


Semua orang yang melakukan penyelidikan di kantor sudah selesai dan pergi meninggalkan ketegangan di kantor OT. Yas bisa bernapas untuk beberapa saat. Besok adalah persidangan antara kedua perusahaan, yas harus mempersiapkan bukti sebanyak mungkin untuk benar benar membuat Riswan menyerah dengan keadaan.


"Hans apa menurutmu aku bisa menang melawan peperangan ini?"


"Kau akan tau hasilnya setelah kau menghadapi mereka. Sekarang yang terpenting kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk perusahaan. Bagaimanapun hasilnya, kau tida perlu menyalahkan dirimu sendiri"


"Aku sangat takut Hans. Hanya kali ini aku benar benar tida percaya akan diriku sendiri. Entahlah semua terasa berat aku hadapi"


Wajah Yas terlihat pucat, tubuhnya sudah amat lelah. Hari ini dia banyak sekali berpikir dan terkejut. Apa yang akan terjadi esok dia masih memikirkan hal itu. Akankah dia melihat kehancuran yang tida pernah dia perbuat sendiri.


Benak Yas kini tida karuan. Bom waktu kapan saja dapat meledak. Riswan jauh lebih kuat darinya kali ini, dia benar benar telah di khianati oleh seseorang yang sudah dia tolong sejak lama. Yohans menjadi musuh dalam selimutnya kali ini.


Hari semakin larut. Setelah Yas dan Hans menyelesaikan beberapa hal yang penting mereka memutuskan untuk pulang, mungkin saja lelah ini akan bisa hilang setelah di istirahatkan.


"Kita harus pulang Yas. Istirahatlah agar besok kau siap dengan segala kemungkinan yang terjadi"


"Baiklah. Ini sudah tengah malam. Aku benar benar penat jika harus berada di kantor terus. Mari kita pulang"

__ADS_1


Kedua laki laki itu menaiki mobil menyusuri jalanan yang masih sedikit ramai. Muda mudi yang berada di luar masih menikmati moments yang mereka buat untuk di kenang. Hans dan Yas terlalu banyak berpikir sehingga malas untuk menyaksikan kejadian itu.


Taman kota masih cukup ramai. Mobil Yas melaju dengan cepat untuk segera sampai di rumah. Taman kota memang terletak diantara kantor OT dan juga universitas kiara, maka dari itu kiara memilih taman kota untuk mereka bertemu agar bisa menjadi solusi jarak tempuh.


Singkat waktu yas sudah sampai di rumah tanpa memperdulikan apapun lagi, dia tida ingat dengan janjinya dan juga kiara. Yas terlalu lelah dengan situasi yang telah dia hadapi. Hans juga tida menanyakan perihal Kiara pada Jen, karena dia segera pergi meninggalkan rumah Yas dan bergegas ke paviliun untuk beristirahat. Disisi lain Jen tida berani memberitahu perihal Kiara yang belum kembali karena melihat keadaan Yas dan Hans yang begitu kelelahan. Jen takut ini akan malah memperburuk keadaan.


--**--


Kiara sudah menyerah, dia melihat ponselnya dan ini sudah pukul tengah malam lebih. Dia benar benar kedinginan dan seperti terserang flu jika tida segera pulang. Kiara menahan tangis dalam batinnya. Dia pikir dengan sebuah kesabaran dan kepercayaan,


disana akan ada janji yang di tepati. Namun sepertinya kali ini kiara merasa kecewa pada Yas. Kiara memang mengerti dengan kekacauan yang telah terjadi, namun sebagai seorang wanita tetap saja dia masih mengharapkan satu janji yang dapat di tepati oleh seorang laki laki yang mengatakan dia mencintainya dan akan menjaganya sepajang hidupnya.


Kiara pulang dengan hati yang hampa. Ini adalah kencan pertama yang akan dia lakukan dengan seorang laki laki. Namun lagi lagi dia harus kecewa dan menyerah dengan keadaan. Sepanjang perjalanan pulang kiara mencoba menahan isak tangisnya, tapi tetap saja perasaan seorang wanita sangat rapuh dan sensitif. Berkali kali dia mencoba menghapus air matanya dan tetap meyakinkan diri bahwa dia baik baik saja dengan semua ini.


Kiara telah sampai di rumah dengan keadaan kacau karena kedinginan. Hanya Jen yang cemas dan menunggunya sampai kini, Kiara melihat Jen setengah berlari menuju arahnya di depan pintu.


"Nyonya, apa kau baik baik saja"


Jen benar benar terlihat cemas dan gelisah. Terlihat dari bagaimana dia berbicara dan menyambut Kiara.


"Masuklah dulu ke kamar mu. Aku akan membuatkan susu panas untuk mu"


"Baiklah. Terimakasih jen"


"Jangan lupa. Ganti pakaianmu dengan yang lebih tebal. Aku cemas kau akan demam juga"


Jen berlalu meninggalkan kiara menuju dapur, kiara merasa cukup tenang karena dia sudah sampai di rumah. Entah kapan dia akan menemui yas, kini dirinya hanya mampu menatap anal tangga yang menuju akan kamar yas.


Kiara tersadar dari lamunannya. Dia bergegas pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan istirahat.


'Tok tok tok'


"Masuklah Jen. Aku telah selesai mengganti pakaian"

__ADS_1


Jen membawa susu panas dan semangkuk bubur beserta sup untuk kiara santap.


"Makanlah dulu. Kau bisa sakit jika tida segera memakan makanan panas"


"Baiklah Jen. Hari ini kau bawel sekali"


Kiara menggoda jen sambil menarik nampan yang telah jen sodorkan. Dia duduk lalu menyantap makanan itu. Kiara Pun merasa perutnya benar benar keroncongan. Dia sengaja tida makan hanya karena menunggu Yas yang akan mengajaknya makan malam.


"Bagaimana bisa kau pulang dini jari begini? Tuan Yas bisa cemas jika dia sadar kau tida ada"


Kiara terdiam. Dia mengingat kejadian dimana dirinya benar benar kedinginan menunggu janji dengan yas di taman kota.


"Aku keluar menemui teman lama ku. Kita berbincang serius dan cukup banyak. Sampai aku lupa waktu dan tida sadar ini sudah dini hari"


"Keadaan kantor sangatlah kacau hari ini. Sekertaris Hans dan tuan Yas terlihat kelelahan dan tida menanyakan mu. Padahal aku sudah ketakutan setengah mati ketika kau belum kembali. Aku juga meminta orang mencari mu. Tapi itu tida berhasil"


"Tida apa. Sekarang aku baik baik saja bukan. Tapi, apa keadaan Yas juga baik baik saja?"


"Tuan terlihat sangat cemas. Aku harus memberitahumu karena kau adalah istrinya. Kau juga bertanggung jawab dan berhak tau. Tuan Yas akan menghadiri persidangan besok atas tuntutan dari keluarga Riswan"


Kiara tertegun, dia benar benar merasa sekarang berada di ruang hampa, pikirannya melayang entah apa yang harus dia perbuat. Nampaknya semua akan sama walau kiara bertindak.


"Untuk saat ini biarkan tuan yas tenang terlebih dahulu. Dan aku memohon padamu nyonya, jangan tinggalkan dirinya apabila dia mengalami kesulitan. Hidupnya benar benar berat semenjak dia di tinggalkan oleh tuan Gunawan. Sekarang jika kau tida mencoba memegang tangannya, aku takut tuan Yas akan menyerah pada hidupnya.


"Tenanglah Jen. Semua akan baik baik saja setelah kekacauan ini berakhir"


Kiara menyudahi aktifitas makannya dan menaruh nampan di atas meja. Dia memegang tangan Jen memastikan agar Jen tida perlu terlalu cemas akan Yas saat ini. Di sisi lain kiara juga dilema, saat ini dia ingin menemui Yas namun jen berkata biarkan Yas beristirahat dengan tenang. Kiara merasa perkataan Jen ada benarnya. Kiara tida harus mengganggu Yas untuk saat ini.


"Aku akan kembali. Kau istirahatlah nyonya"


"Baiklah. Terimakasih Jen"


Jen pergi meninggalkan kiara sendirian di kamar dengan perasaan bimbang. Kiara malah tida bisa memejamkan mata walau kini dirinya berbaring di kasurnya yang nyaman. Entahlah, kenapa hari hari berat selalu datang begitu cepat.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2