
Entah mengapa Yas tida bisa memejamkan matanya walaupun dia benar benar lelah dan penat hari ini. Yas merasakan dirinya telah melakukan kesalahan. Dia terus saja susah untuk memejamkan matanya yang sudah berat mengantuk. Lalu beberapa saat dia melirik sisi kiri tempat tidurnya, Yas mengingat kejadian kemarin malam dan membayangkan kiara ada di sisinya. Yas ingat bahwa dia juga mempunyai janji kencan dengan kiara malam ini. Setelah sesaat dia tersadar dari bayang bayang wajah kiara yang manis kemarin malam Yas terperanjat dan bangun terduduk di tempat tidurnya.
"Apa yang aku lupakan hari ini? Apa aku sudah gila huh?"
Yas bergumam di tengah ketegangan saat dirinya benar benar melupakan janji yang telah dia buat dengan kiara malam ini. Yas bahkan tida menanyakan kabar kiara pada Jen maupun Hans hari ini. Yas terbangun daru duduknya dan mondar mandir beberapa saat untuk berpikir keras.
"Aku sudah benar benar gila hari ini. Sudah jam berapa ini? Dia pasti menungguku sangat lama di tempat itu"
Yas bener benar membelalakkan kedua bola matanya, dia hampir putus asa dan tida tau apa yang akan terjadi pada hubungannya dan kiara.
"Apa dia baik baik saja sekarang? Udara diluar sangat dingin hari ini. Bagaimana aku harus meminta maaf padanya. Uh ini benar benar membuat aku semakin sakit kepala. Kenapa kejadian ini bersamaan dengan kekacauan besar yang telah terjadi"
Yas memutuskan untuk keluar kamarnya dan menuruni anak tangga. Berkali kali Yas mengumpulkan keberanian agar dirinya mendekati kamar kiara, namun saat ini dia masih melihat kamar itu dari kejauhan.
*Apa yang akan aku katakan nanti. Apa dia baik baik saja di dalam?*
Yas mendekati kamar kiara, berdiam diri di depan pintu untuk mengetuknya. Hatinya ragu, takut jika kiara tida bisa memaafkan dirinya yang telah lalai menepati janji. Dan akhirnya Yas memutusakan untuk membuka pintu kamar itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Yas melihat kiara sedang terduduk di depan cermin meja riasnya. Kiara menundukkan kepalanya dan mendekap kakinya dengan erat. Entahlah apa yang membuat dia masih terbangun sepagi ini padahal dia sendiri merasa lelah. Bahkan Kiara tida sadar yas telah berada di belakangnya mematung melihat semua kesedihannya.
Yas memeluk kiara dari belakang kursi dan menempelkan dagunya tepat di pundak Kiara. Kiara terkejut bukan main, pikirannya buyar dan merasa bahwa Yas adalah hantu yang mengganggunya. Kiara memukul kepala yas dengan sangat kencang menggunakan bodylotion yang telah ada di hadapannya. Dengan sigap Kiara telah berdiri dan siap melihat siapa yang telah meringis kesakitan dengan keras di belakangnya.
"Apa kau sudah gila"
"Uh Yas"
Kiara terkejut untuk kedua kalinya karena ternyata yang memeluknya bukanlah hantu melainkan si tuan rumah.
"Kenapa kau mengagetkan aku. Kau bahkan tida mengetuk pintunya. Bagaimana aku tida terkejut"
Kiara mengeluarkan suara sedikit berisik karena benar benar kesal dengan sikap yas yang seenaknya. Yas masih meringis kesakitan, kepalanya merasa sedikit pusing setelah menerima pukulan dari kiara.
"Apa kau baik baik saja"
__ADS_1
"Kau memang melihat aku baik baik saja huh"
"Kau kesakitan. Duduklah dulu. Aku akan mengompresnya dengan es batu. Biar ku ambilkan dulu"
Yas menghentikan kiara saat akan melangkah untuk mengambil es batu, Yas malah memeluknya dan membuat kiara kebingungan.
"Maafkan aku"
Yas bersuara menyesal pada kiara.
"Kau pasti menungguku sangat lama di sana. Aku tida menepati janjiku dan mengabaikan hari penting kita. Maafkan aku terlalu sibuk dan tida bisa memberimu kabar bahwa aku tida akan datang. Maafkan aku karena aku tida memperhatikan apa kau ada di dekatku atau kau sedang sendirian menungguku. Maafkan aku yang tida bisa menjaga hatimu untuk bahagia. Maafkan aku, Maafkan aku kiara"
Yas menetaskan air matanya, betapa menyesalnya dia saat ini. Betapa dia menyalahkan dirinya sendiri karena tida bisa menepati janji. Yas sangat kacau hari ini, bahkan dirinya sendiri tida tau hal besar apa yang akan terjadi di detik selanjutnya. Tapi entah mengapa kiara selalu berhasil membuat Yas menangis dengan tenang didalam pelukannya. Yas selalu merasa ada tempat untuk kembali saat dia merasa tersesat.
"Apa kau menangis?"
Kiara menyadari yas benar benar menyesal hari ini. Walaupun kiara juga sangat sadar bahwa Yas melupakan janjinya bukanlah hal yang disengaja.
"Maafkan aku"
Kiara harus mengalah dan tida mengacaukan suasana. Dia sudah senang Yas masih mengingat kesalahannya dan meminta maaf dengan tulus. Kiara tida seharusnya marah dan menganggap Yas laki laki yang ingkar. Sebisa mungkin dia akan menenangkan Yas dan mendukung apa yang ingin dia lakukan.
"Duduklah dulu. Aku akan mengambilkan es batu untuk mengompres kepala mu"
Kiara sudah sangat lembut mengatakan hal itu. Dia memaafkan Yas dan tida merasa menyesal telah menunggunya berjam jam dengan kedinginan. Yas semakin erat memeluk kiara, dia mengisyaratkan tida mau lagi meninggalkan kiara untuk yang kesekian kalinya.
"Hari ini benar benar sangat melelahkan. Dan pelukanmu membuat aku merasa, semua yang benar benar melelahkan akan mudah hari esok. Dengan memelukmu seperti ini, aku sedang menebus waktu disaat aku tida bersamamu. Jadi tolong biarkan aku seperti ini untuk sekarang"
Kiara memberanikan diri untuk membalas pelukan Yas yang hangat dan menenangkan. Kiara benar benar membalas pelukan yas dengan erat dan bahagia. Dia merasa hari hari seperti ini tida akan bisa dia dapatkan hari esok.
Yas merenggangkan tubuhnya untuk melihat wajah kiara dan memastikan kiara agar tersenyum disaat saat seperti ini. Mata mereka akhirnya bertemu, saling menatap dalam dan merasakan cinta antara satu sama lain.
Yas mengulurkan tangannya, mencoba memegang kedua pipi kiara dan memejamkan matanya, suasana romantis akan segera dia ciptakan malam ini. Kesempatan ini sudah sangat lama Yas tunggu, saat hati mereka sama sama menerima sebuah cinta.
__ADS_1
Yas memejamkan matanya mendaratkan ciuman manis pada bibir Kiara. Kiara ikut terpejam merasakan hangatnya sentuhan bibir Yas malam ini. Nafas mereka saling memburu, melepaskan kerinduan yang sepertinya telah lama mereka pendam. Yas semakin dalam melakukan ciuman manis itu, yang menjadikan kiara merasa Yas akan melakukan sesuatu terhadapnya malam ini. Kiara memeluk Yas erat, merasakan nafas memburu yang menyeruak mengibas seluruh sanubarinya. Kiara semakin mendekap Yas dikala yas seperti sudah kehilangan kesadaran dan akan melakukan hal lebih dari sekedar ciuman malam ini.
Kiara mendorong tubuh Yas dan melepaskan ciuman panas itu, Yas terkejut dan merasa malu. Pipinya merah dan panas. Merasa tertampar bahwa kiara menolaknya malam ini.
"Ma. Maaf Yas"
Kiara salah tingkah, merasa dirinya bodoh dan tida berperasaan. Bagaimana mungkin dia melakukan ini pada seseorang yang dia cintai. Yas pasti sangat kecewa padanya malam ini. Pikir kiara dalam hatinya.
Yas menghembuskan napasnya dan merasa kecewa. Terlihat jelas dalam raut wajarnya yang kesal pada kiara. Dia juga seperti tida memperdulikan kiara yang sedang banyak berpikir.
"Aku harus memberi tau sesuatu padamu"
*Dasar menyebalkan. Apa dia tida bisa memberikannya nanti setelah aku melakukannya*
"Arka memberikan ini padaku"
Kiara mengangkat amplop coklat besar yang telah dia dapatkan dari Arka malam ini. Dia menyodorkan pada Yas agar Yas membukanya dan memeriksanya.
"Apa ini?"
"Aku juga tida tau. Dia hanya mengatakan itu akan membantumu"
Yas duduk di kasur kiara dan memeriksa amplop apa yang telah di berikan pengacara keluarga Riswan tersebut.
Betapa terkejutnya Yas saat dia membuka amplop yang ternyata adalah bukti bukti kejahatan yang dilakukan oleh kelurga Riswan pada semua pihak. Yas terkejut bukan main, tubuhnya merasa lemas dan hatinya bahagia, bagaimana mungkin keajaiban ini terjadi. Yas merasa sebuah kemenangan ada di hadapannya saat ini. Dengan wajah sumringah Yas bertanya pada kiara.
"Bagaimana kau mendapatkan ini?"
"Arka yang memberikannya"
"Apa dia mengatakan sesuatu atau mengancam mu. Atau dia meminta kau kembali pada deff? Tapi itu tentu tida mungkin. Saat bukti ini ku serahkan Yohans akan ikut terseret dan deff tida mungkin akan melakukan itu untuk dirimu. Dia masih sangat waras dan akan memilih keluarganya"
Kiara menarik napas dalam, betapa kesalnya saat Yas menyangkutkan itu pada deff padahal kiara belum berkata sepatah katapun padanya.
__ADS_1
Bersambung ...