
"Hei apa kau baik baik saja"
"Ah, iyah, aku baik baik saja"
Kiara benar benar kehilangan kendali, dirinya hanya mampu menatap kekosongan yang tida dapat di mengerti.
"Namaku arka, aku adalah seorang pengacara, dan aku belum sempat mengetahui namamu"
"Ah, namaku kiara, aku seorang mahasiswi semester akhir"
"Ah benar aku hampir lupa, setelah aku pindah ke rumah ini, ada seseorang mencari mu, sepertinya dia adalah seorang mahasiswa sepertimu"
"Ah benarkah, mungkin itu kedua temanku"
"Tida, dia selalu seorang diri, dia seorang laki laki tampan bermata coklat dengan postur tubuh tinggi, dia tampan, dan membawa mobil, dia menanyakan keberadaan mu, namun 5 hari ini dia tida pernah berkunjung lagi, apa dia kekasih mu?"
"Aah, bukan seperti itu, itu hanya seorang teman, lalu apa yang kau katakan tuan"
__ADS_1
"Aku mengatakan tida mengenalmu, tapi jika ada seseorang bernama kiara aku akan memberitahunya bahwa dia mencarinya. Kira kira hanya seperti itu aku menjawabnya"
"Dia hanya kebetulan mampir mungkin"
"Jadi kau adalah kiara, dan sebelumnya kau pemilik rumah ini"
"Sejujurnya aku tida pernah punya tempat tinggal di manapun kecuali rumah ini, semenjak 10 tahun lalu aku sudah berada disini dengan ayahku, ayahku meninggal sekitar 3 bulan yang lalu, dan ibu tiri ku dia"
Kiara berfikir sejenak, apakah yang menjualnya adalah ibu tirinya, tapi bukankah dia mengatakan ini adalah rumah milik kiara, apa mungkin benar dia yang menjualnya.
"Tuan apakah seorang wanita sudah berumur yang menjualnya, maksudku seperti seorang wanita yang sudah memiliki suami"
"Ah, benar mungkin ibu tiri ku yang menjualnya. maaf aku sudah berfikir yang tida tida terhadapmu"
"Lupakan, aku tida terlalu pendendam, jika kau merasa rindu rumahmu, kau boleh sering kesini, ada ibuku yang akan menemanimu, jika kau mau, aku akan memberikan satu kunci agar kau tidak menungguku ketika ingin masuk"
"Bolehkah jika begitu, tapi itu terdengar merepotkan"
__ADS_1
Laki laki yang bernama arka itu kini berbincang santai dengan kiara, sedikit demi sedikit kiara mulai paham akan situasi ini, dia merasa bersalah dan lagi lagi meminta maaf pada arka, dia seharusnya mendengarkan dan berbicara secara baik dengannya pada waktu itu, bukan malah memarahinya dan membuat keributan, arka senang kiara adalah gadis yang dapat di ajak berbicara santai, sesekali mereka tertawa karena mengingat ulah konyol kiara yang sempat meledak menganggu ketenangan rumah ini.
"Tuan aku rasa ini sudah terlalu malam, aku harus kembali ke rumah"
"Aku akan mengantarmu jika begitu"
"Tidak, maksudku aku akan menaiki angkutan umum saja, ini terlalu merepotkan"
"Baiklah jika kau menolak, kau boleh berkunjung kemari sesukamu, aku rasa kau gadis yang baik"
"Terimakasih tuan, aku permisi dulu"
"Yah baiklah, hati hati"
Kiara pergi meninggalkan pekarangan rumah itu, rumah yang kini telah menjadi milik orang lain, ada rasa kecewa dalam batinnya, apa benar ibu tirinya yang menjualnya, tiba tiba kiara sangat ingin bertemu dengan ibu tirinya dan berbicara mengenai penjualan rumah ini, entahlah dimana dia kini kiara pun tida mengetahuinya, ini sudah sangat lama dia tida bertemu dengan ibu tirinya itu.
Disisi lain ketika kiara berjalan dengan gontai ada mata yang mengiringi kepergiannya, sampai ketika punggungnya menghilang arka tersenyum bagaimana mungkin ada gadis sepolos dan sebaik seperti kiara, arka sangat suka dengan gaya bicara dan perlakukan kiara, dia benar benar melakukannya dari dalam hati, tida di buat buat dan tida memaksa, arka menilai kiara adalah gadis yang menakjubkan.
__ADS_1
Bersambung ..