
Kini tuan yas beridiri dari kursi nyamannya, mendekati kiara dan berdiri di hadapan kiara, lantas kiara hanya terdiam menunggu apa yang akan tuan yass lakukan terhadapnya, jika di bunuh sekalipun kiara sudah tabah rupanya.
"Apa kau tau, karena mulut sampah mu membuat semua orang kehilangan kebahagiaan, apa kau iri dengan mereka yang bahagia lalu kau menginginkan mereka menderita sama sepertimu, sungguh gadis licik, tida bisakah kau hanya menderita seorang diri hah"
"..."
Kiara hanya terdiam geram mendengar hinaan itu dari yas, sebenarnya ia sangat ingin sekali memukul mulut yas yang sangat kejam, namun dia sadar kini orang didekatnya bukanlah bandingan untuk dia lawan.
"Bruk"
Yas menendang tangan kiara dengan kakinya, yas tau bahwa kiara benar benar kesal dengannya, tangannya yang mengepal membuat yas sangat bersemangat untuk memperdaya kiara.
"Hanya itu keberanian mu, dan hanya itu tujuan mu untuk datang kemari, pergilah jika kau belum menemukan jawaban atas kesalahanmu"
Lagi lagi kiara hanya terdiam mendengarkan apa yang yass katakan, kini hawa dingin bertambah 10x lipat merasuki tubuh kiara, hatinya benar benar ingin berontak dan mengutarakan apa yang ia rasakan, namun kali ini dia benar benar kalah, dia sudah benar benar tida punya tenaga untuk berbicara.
"Hans seret dia keluar, jangan sampai dia tidur nyenyak malam ini, sudah pukul 12 rupanya, kini giliran temannya yang manis bernama bella yang akan terluka sepertinya.
Hans kau tau apa yang harus kau lakukan bukan"
"Baik tuan akan saya lakukan perintah anda"
Hans kemudian mendekati kiara meraih pundaknya untuk membantunya berdiri, namun hans berbisik pada kiara untuk segera meminta maaf pada tuan yass atas kesalahannya
"Nyonya katakanlah kau menyetujui pernikahan itu, memohonlah agar tuan yas berbaik hati, aku tida bisa lagi menyelamatkan mu malam ini"
Kiara seakan tau apa yang harus dia lakukan saat ini, kiara menepuk tangan hans dengan lembut mengisyaratkan bahwa dia mengerti dengan perkataan hans.
"Tuan yas, saya mengharapkan kemurahan hati anda tuan, saya mengharapkan kebaikan pada diri anda tuan, saya memohon kepada anda untuk tida lagi menganggu orang orang yang saya anggap penting dalam kehidupan saya tuan, saya memohon belas kasih anda untuk memaafkan saya atas apa yang telah saya perbuat tuan, dan saya akan menyetujui pernikahan yang anda inginkan tuan"
Yas tertawa puas dengan riang, tawanya memenuhi seisi rumah, membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan hawa kekejaman, bukan pertanda dia sedang bahagia namun ada hal besar yang akan dia lakukan sepertinya.
"Hans tolong berikan surat perjanjian yang sudah aku tulis untuk wanita sialan ini, dan jangan biarkan dia berani membacanya sebelum dia menandatanganinya, pastikan dia pergi dari sini setelah itu"
__ADS_1
"Baik tuan, akan saya lakukan sesuai perintah anda "
Yas kemudian pergi meninggalkan hans dan kiara di tengah kekosongan ruangan itu, kiara hanya bisa menangis menjatuhkan buliran air matanya di tengah kepergian yas, kiara hanya berani membenamkan wajahnya secara tertunduk karena merasa sangat terpukul atas kejadian ini.
"Nyonya mari duduk sebentar, keringkan pakaian mu dahulu, kau akan demam nantinya"
"Aku sangat membencimu hans, tida ada kebaikan yang terlihat padamu olehku untuk saat ini, jadi berhentilah untuk perduli padaku"
"Kau memang keras kepala nyonya, tida ada yang menyangka kau seberani ini. tapi terserah anda saja.
Ini adalah surat perjanjian yang harus kau tandatangani, setelah itu, kau boleh membawa salinannya untuk kau baca di rumah"
Dengan terpaksa kiara menandatangi surat perjanjian itu, tanpa membaca apa yang tertulis di dalamnya.
Dan untuk saat ini kiara hanya memikirkan orang orang di sekitarnya, dia sama sekali tida perduli dengan hatinya yang terluka, bahkan kalaupun raganya akan mati dia sudah rela.
Setelah menandatanganinya kiara pergi meninggalkan istana yas yang megah, membawa luka dan duka pada hatinya.
--**--
"Surat perjanjian sampah ini membuatku ingin mengakhiri hidup saja, bagaimana ini, pernikahan macam apa yang akan terjadi. Bagaimana dengan kehidupanku, memang dia tuhan bisa mengatur semua rencana yang dia inginkan. Aduh, kenapa tenggorokanku sakit sekali, apa cuacanya sedingin ini, kenapa badanku menggigil sekali. Aku sebaiknya pergi membeli obat di depan"
Kiara merasa badannya tida enak, seperti akan demam saja. Benar saja apa yang di katakan sekertaris hans semalam bahwa kiara akan sakit jika terus memakai baju basahnya.
Kiara mengambil mantelnya berwarna biru cerah dengan stelan training yang melekat pada tubuhnya, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai jatuh dengan indah, dia merasa hari ini tida akan ada rencana untuk pergi kemanapun karena badannya sedang demam sepertinya. Lalu bella dan sana juga masih sibuk dengan tugas semesternya, semenjak kejadian malam itu kiara jarang sekali untuk keluar rumah, sesekali keluar rumah juga hanya untuk pergi menemui bella dan sana juga menyelesaikan kuliahnya yang singkat.
Kiara berjalan santai menikmati indahnya cuaca pagi ini, lalu dengan sadar masuk kedalam sebuah minimarket didekat rumahnya.
"Badanku panas sekali, aku ingin membeli obat untuk menurunkan demam"
"Ah baik. Akan saya ambilkan obat untuk anda nyonya, apakah anda dalam kondisi ibu hamil atau menyusui?"
"Ah tentu saja tida, ambilkan obat apa saja, saya tida dalam keadaan seperti itu"
__ADS_1
"Ah, Baiklah nyonya saya mengerti, saya segera kembali"
Pegawai itu kemudian mengambilkan beberapa obat untuk kiara pilih.
"Silahkan anda memilih obat mana yang cocok dengan anda"
"Yang ini saja (sambil menunjuk beberapa obat yang ada) aku mau roti dan minuman juga, tolong diambilkan"
"Baik nyonya silahkan di tunggu"
Pelayan itu kemudian mengambil roti dan minuman yang di minta kiara, setelahnya dia menghitung semua yang telah kiara pesan tadinya, lalu kiara membayar tagihan sesuai yang di minta.
"Terimakasih nyonya, semoga anda lekas sembuh"
"Ah terimakasih"
Kiara berjalan santai sambil sesekali menghirup udara segar diluar rumah, ia merasa hari ini benar benar tida ingin ada masalah yang harus di pikirkan. Hanya satu hal yang terus melintas dalam kepalanya, apakah dia akan mengandung ataukah sebenarnya malah tida akan terjadi sesuatu apapun.
"Isi surat perjanjian itu hanya memintaku tunduk akan perintah pihak pertama, dengan jelas aku samasekali tidak mengerti apa yang dia rencanakan sebenarnya, tida ada apapun yang tertulis lainnya, tapi bagaimana jika aku benar benar akan mati sia sia di tangannya, ah aku benar benar bodoh memang"
Kiara segera merebahkan tubuhnya setelah sampai di rumah, dan meminum obat yang dibelinya dari minimarket tadi. Dia juga melahap rotinya dengan cepat karena merasa perutnya butuh asupan makanan.
Tida perlu waktu lama kiara sudah terpejam dengan tenang, tubuhnya diselimuti selimut yang amat tebal, hingga hanya wajah manisnya saja yang terlihat.
--**--
Sudah pukul 5 sore rupanya, namun kiara tetap berbaring tida bisa membuka matanya, dia benar benar demam kali ini, tubuhnya sangat panas, dan bibirnya kering, lingkar hitam dibawah matanya menampakan bahwa dia benar benar sakit. Sialnya di rumah benar benar tida ada orang, benar benar hanya kiara yang sebatang kara, dia bingung harus menghubungi siapa, dia takut menganggu bela dan sana, dia juga tida mungkin meminta tolong pada tomi, dia harus benar benar sendiri melakukan apapun.
"Perutku keroncongan, aku hanya makan roti tadi pagi, ponselku ku taruh dimana, aku harus memesan makanan sebelum mati"
Kiara menemukan ponselnya, rupanya terselip di saku mantel yang ia kenakan tadi pagi, cepat cepat dia memesan makanan lewat ponselnya, lalu dengan sekali klik org akan mengantarkannya beberapa menit lagi.
Kiara merasa merindukan sebuah kasih sayang dari orang orang yang dia cintai.
__ADS_1
Melepaskan memang sebuah keharusan jika memang sudah benar benar tida bisa di pertahankan, namun kadangkala ada sebagian orang yang benar benar tida ingin melepaskan apa yang dimiliki dengan harapan kebahagiaan akan selalu melekat dan terhindar dari jiwa jiwa kesepian yang membeku.
bersambung ..