HIDUPKU

HIDUPKU
Lagi-lagi deffan


__ADS_3

"Kiara, hei mengapa kau berjalan. Masuklah"


"Ah deff, aku sedang menunggu angkutan umum"


"Kau ini, masuklah jangan sungkan, kitakan teman"


*Benar deff, kau hanya menganggap ku teman, mana mungkin kau mengetahui perasaanku. Lagipula kau sekarang pasti jijik melihatku menjadi istri dari tuan yas* "Ah benarkah, apa aku tida merepotkan mu"


"Masuklah, ku antar kau"


Kiara segera masuk kedalam mobil tanpa ragu, dia sungguh malu sebenarnya, mengapa lagi lagi deff menemukannya dalam keadaan kacau.


"Maafkan aku karena lagi lagi kau melihat ku dalam keadaan kacau seperti ini"


"Tenanglah. Aku mengerti keadaanmu. Aku juga tau kau berbohong waktu itu. Kau tida mendatangi pesta temannya temanmu kan?"


*Aah sial. Malu sekali aku ini, mengapa dia bisa tau tentang itu, apa dia mengikuti ku sebelumnya*

__ADS_1


"Tida apa. Jangan merasa seperti itu. Aku hanya tida menyangka mengapa kau terlibat dalam pernikahan yang sangat rumit ini"


"Kau mengetahuinya bahwa ini sangat rumit"


"Aku hanya menerka nerka. Karena di pesta semalam aku. Maksudku bukan hanya aku, tapi semua orang mengetahui wajah ketakutan mu, karena seperti ada sesuatu yang mengancam. Seharusnya kaulah yang paling terlihat bahagia diantara manusia lain. Tapi jelas aku tidak menemukan wajah bahagia itu di pesta semalam. Mungkin tuan yas sangat pintar untuk berakting didepan semua orang dengan berpura pura sangat mencintaimu. Tapi wajah tidak berdosa mu yang sangat membenci tuan yas sungguh sangat terlihat di sana"


"Benarkah? Apa itu benar benar sangat terlihat"


"Jangan dipikirkan. Untuk sekarang, kau hanya perlu berhati hati"


"Mengapa aku harus berhati hati? Aku tida mengerti sama sekali dengan dunia yang di hadapi tuan yas. Aku tida akan mengganggu apapun yang dia lakukan, ataupun apa yang dia miliki. Atau segala sesuatu hal tentangnya


"Lalu kau tida berfikir bahwa dirimu akan berakhir? Bahwa dirimu akan terluka? Dan bahwa kenyataan ini akan sangat sulit untuk di fahami. Kau tida berfikir bahwa ada yang harus kau jaga baik baik dengan penuh pengertian di banding logika mu"


"Benarkah. Apa itu"


"Hatimu kiii. Hatimu menangis bukan menerima kenyataan pahit ini? Aku melihatnya dengan jelas. Bagaimana bisa seorang gadis menikah dengan keterpaksaan, bagaimana kau bisa se eogis itu ki, yang tida memikirkan hatimu akan bagaimana"

__ADS_1


Kiara hanya terdiam mencerna apa yang deffan bicarakan, dia tida menyangka ada yang lebih mengerti perasaannya dengan sangat baik dibanding dirinya sendiri. Dia tau bahwa apa yang di katakan deff memang ada benarnya, namun dia juga sadar mengapa dia melakukan ini.


Setelah beberapa saat dari obrolan itu kiara hanya banyak terdiam karena merasa malu pada def yang mengetahui bahwa dirinya kini benar benar sangat terlihat bodoh dihadapan def.


Kini mobil deff telah sampai di depan rumah kiara, deff melihat ada beberapa orang yang sedang berlalu lalang di rumah kiara. Deff pikir kiara mengenalnya dan mengetahuinya. Tapi kiara juga kaget melihat pemandangan itu, namun kiara tida menunjukan ekspresi kagetnya di depan deffan.


"Terimakasih atas simpatimu, aku mengerti apa yang kau maksud, dan lain kali aku akan menjaga hatiku dengan baik agar tida mudah terluka"


Kiara kemudian membuka pintu mobil dan langsung turun meninggalkan deff yang belum selesai membicarakan sesuatu terhadap dirinya.


"Aku mengkhawatirkan mu ki, bukannya simpati, sejujurnya aku sangat mengkhawatirkan MU"


Itulah kata terakhir deff yg tida sempat di dengar oleh kiara karena kiara terburu buru turun dari mobil menuju rumahnya.


Setelah def pergi, kiara langsung terburu buru mengetuk pintu dengan tida sabar. Dia ingin tau siapa yang berani memasuki rumahnya tanpa seijinnya.


"Jadi benar apa yang di sampaikan jen padaku. Benar benar keterlaluan manusia ******** itu. Berani sekali dia mengambil keputusan terhadapku. Awas saja kau yas"

__ADS_1


Kiara tida henti hentinya mengetuk pintu dan melihat keadaan rumah yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dia sesekali melihat dari jendela yang tiraninya terbuka dengan lebar saat itu, keadaan rumah sangat terlihat dengan gamblang dan sangat jelas. Benaknya berkata siapa sebenarnya dia yang sekarang menempati rumahnya itu, mengapa dia samasekali tida mengenalnya.


Bersambung ...


__ADS_2