
Kini kiara tiba di rumah yas. Rumah yang selalu dia tinggalkan tanpa memberi aba aba. Rumah yang dia anggap adalah neraka dunia.
Kiara turun dari mobil dengan diseret oleh yas, tangan yas yang menggenggam kiara dengan erat membuat gadis itu sungguh ketakutan. Apa sebenarnya yang membuat yas marah, bukankah seharusnya dia senang jika kiara sengsara dalam sel tahanan.
"Lepaskan tanganku, ini sungguh sakit tuan"
'Bruk'
Tubuh kiara dilemparkan dengan keras hingga terjatuh kedalam kursi. Kiara benar benar ketakutan dengan apa yang telah di lakukan oleh yas padanya, jantungnya benar benar akan meledak karena berdegup terlalu kencang, dia menahan ketakutan yang ada dalam dirinya dengan diam dan tida menatap yas.
Keringat dingin mulai bercucuran di dahi kiara ketika yas mencengkram kan tangannya kedalam rahang kiara yang mulus.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan. Sel tahanan bukanlah tempat yang pantas untuk penderitaan mu wanita ******"
Yas benar benar mencekik kiara dengan kejam. Mulutnya mengancam kiara dengan sangat sadar, membuat kiara tak tahan lagi dengan sesak di dadanya. Kiara meneteskan air mata sampai mengalir membasahi tangan yas, namun dia hanya bisa pasrah tida dapat melawan karena rasa ketakutannya yang benar benar besar pada yas.
"Turuti perintahku dan jangan pernah coba coba untuk lari dari kenyataan ini, atau aku akan membuatmu lebih menderita dari ini"
Yas melepaskan cengkraman tangannya dengan sangat kasar, membuat lingkar tangannya membekas pada leher kiara. Dengan cepat kiara mencoba untuk bernafas dengan normal kembali setelah denyut nadi dalam lehernya terhenti untuk sejenak, namun tetap saja kiara seperti kesakitan karena cengkraman itu. Dia mencoba untuk menahan mulutnya agar tida bersuara namun hasilnya nihil dia tersedak cukup keras karena sudah tida sanggup menahan nafasnya.
Siapa yang dapat menyelamatkan kiara malam ini? Entahlah. Hans juga tidak akan berani berbuat apa apa karena memang jelas jelas ini adalah kesalahannya sendiri. Jen hanya bisa melihat dan merasakan apa yang di derita oleh kiara. Iba sudah sangat jelas di rasakan, namun tida ada yang dapat menghentikan kemarahan seorang ilyas gunawan malam ini.
__ADS_1
Yas kemudian pergi menghilang menuju kamarnya. Tidak sepatah katapun yang dia sampaikan kepada hans atau jen ketika memutuskan pergi beranjak. Dia hanya meninggalkan bekas luka pada tubuh kiara malam ini.
"Jen bawalah nyonya kedalam kamarnya. Biarkan dia istirahat dengan tenang"
"Baiklah sekertaris hans"
Kiara yang tida berdaya hanya dapat berpasrah pada kenyataan dan takdirnya. Kini dia tida akan pernah berani atau akan berfikir 10 ribu kali untuk berbuat apa apa jika ingin melakukan sesuatu lagi. Dia benar benar dibuat merinding oleh tindakan yas malam ini.
"Mari nyonya, akan saya bantu anda untuk beristirahat"
"Terimakasih jen"
Jen telah mengantarkan kiara masuk kedalam kamarnya, jen membaringkan tubuh kiara secara perlahan. Jen sangat mengerti bahwa kiara sangat kesakitan atas apa yang telah yas lakukan. Karena sudah sangat faham, jen mencoba mengobati lengan dan leher kiara yanga memerah karena cengkraman tangan yas.
"Ah. Tida perlu jen. Ini akan membaik dengan sendirinya, sungguh"
Walau kiara menolak jen tetap melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
"Jen apa kau terkena masalah karena aku menolak tinggal disini"
Jen tersenyum dan berkata;
__ADS_1
"Seharusnya anda sudah faham dengan apa yang akan terjadi. Namun sepertinya anda adalah gadis yang mempunyai dunia anda sendiri. Anda adalah orang yang pantang menyerah, dan pekerja keras. Menurut pandanganku selagi apa yang menurut anda benar anda akan memperjuangkan walau tau resiko apa yang akan terjadi nantinya"
"Jen katakanlah dengan jelas, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan. Aku sungguh tida mengerti"
"Nyonya, sebaiknya anda menuruti apa yang sudah tuan yas rencanakan. Berpikirlah seolah tidak akan terjadi apa apa, anda hanya perlu mengikuti alur ceritanya saja"
"Apa akan semudah itu jen? Apakah nanti semuanya akan baik baik saja ketika aku memutuskan untuk menuruti apa yang tuan yas inginkan"
"Tuan yas memang sudah angkuh sedari kecil. Dia selalu melakukan sesuatu yang tida di sukai orang lain. Semakin lawannya memberontak dengan berani, Semakin dia kuat mencengkram dengan tajam. Dan semakin dia mempersiapkan cakarannya yang mematikan"
"Itu terdengar mengerikan jen"
"Sebaiknya anda segera beristirahat. Maaf aku terlalu banyak bicara sepertinya. Aku akan menemui anda besok, ada banyak hal yang harus anda pelajari untuk menjadi seorang istri tuan yas. Beristirahatlah. selamat malam nyonya"
Jen mencoba bangkit dari tempat duduknya setelah mengobati kiara, dia berjalan beberapa langkah menjauh dari tempat tidur untuk meninggalkan kiara, namun kiara memanggilnya kembali.
"Jen. Terimakasih"
"Selamat malam nyonya"
"Selamat malam jen"
__ADS_1
Kini dengan tenang jen pergi meninggalkan kiara yang tengah terbaring dikamar tidurnya. Jen mengobati kiara dan menasehatinya agar jangan terlalu gegabah jika ingin melawan tuan yas, memang hanya pada jen kiara merasa dekat dan selalu menyampaikan pendapatnya. Jen memang lebih tua darinya, jen juga sudah lama bekerja untuk tuan gunawan, jadi jen tentu mengetahui apa yang harus dia lakukan jika ada hal menyangkut keluarga gunawan.
Bersambung ...