
Malam semakin larut, tenggelam dalam dekapan rembulan yang begitu mempesona, tapi entah mengapa membuat kiara dan yas sama sama tida bisa memejamkan mata karena masing masing memikirkan hal yang ada dalam pikiran mereka.
Kedua tokoh utama ini memang sangatlah menjengkelkan, tida seperti anak muda dengan segala jenis cintanya dan dengan mudahnya selalu mengungkapkan isi hati mereka. Ini berbanding terbalik dengan kiara dan yas, mereka sudah saling dekat dan hampir mempunyai perasaan yang sama, tapi tetap saja cuek dan masa bodo dengan hatinya, tida mau saling mengungkapkan agar dapat saling menjaga.
Malam itu yas menerima sebuah panggilan yang entah dari siapa, dia samasekali tida berniat mengangkatnya karena malas. Biasanya hans yang akan mengangkatnya dan berbicara tentang hal apapun itu. namun kali ini si pemanggil benar benar keterlaluan karena melakukan panggilan selarut ini.
"Berisik sekali ponsel ini, harusnya aku menjauhkannya sedari tadi, sekali lagi kau berdering, aku akan menjauhkan mu dari kamarku"
Dalam kamar kiara sedang duduk termenung, melamun dan membayangkan apa yang baru saja terjadi dengannya, dia berbicara dengan hebatnya di depan rissti yang sangat jauh dibanding dirinya, dia berbicara dengan keadaan hati yang goyah namun memperlihatkan kekokohannya.
Sebenarnya Kiara memikirkan ingin sekali berbicara dengan yas, dan menanyakan semua perkataan yang telah di sampaikan rissti tadi siang. Tapi ini sudah sangat malam pikirnya, mungkin yas sudah tertidur lelap, dan kiara tida berhak mengganggu
"Aah, tetap saja aku tida bisa memejamkan mata dengan keadaan tenang. Ini sungguh sangat menjengkelkan, membuatku terganggu, dan kesal. Aku benar benar harus menanyakannya sekarang, agar aku bisa tidur dengan tenang"
Kiara bangkit dari kamar tidurnya, melangkahkan kaki dengan sedikit ragu menaiki anak tangga, dia memikirkan akan berbicara atau tida dengan yas malam ini. Kiara melirik jam saat sudah sampai tepat di anak tangga terakhir, ternyata ini sudah benar benar larut, jam menunjukan pukul 23.15.
"Apa aku sudah gila menemuinya di kamarnya saat sudah selarut ini, apa yang akan dia pikirkan nanti"
'Clek'
__ADS_1
Suara pintu kamar yas terbuka, membuat jantung kiara seakan ingin melompat karena sangat kaget.
"Dasar manusia tida tau diri, melakukan panggilan semalam ini, apa kau tida punya jam dan aturan di rumahmu, dasar sinting"
Yas sedang kesal pada ponselnya yang terus berdering mengganggu ketenangannya, sudah sangat jelas kiara pun melihat suasana hati yas yang sedang tida baik, cepat cepat kiara akan menuruni anak tangga tapi sudah terlambat karena dilihat oleh yas malam itu.
"Kau"
*Ah, sial*
"Apa yang sedang kau lakukan"
"Tida ada"
"Tentu, lalu apa yang sedang kau lakukan"
"Um, lihat (menunjukan ponselnya dengan satu tangan terangkat), ponsel ini membuatku kesal dan gila, dia terus bersuara sedari tadi"
"Lalu? Kenapa kau tida mengangkatnya"
__ADS_1
"Siapa yang akan membawakan berita penting selarut ini, apa dia ingin mati"
"Lalu, kau akan apa?"
"Aku akan membiarkan ponsel ini berada di bawah agar tida menggangguku"
"Baiklah, aku akan pergi"
Yas menarik tangan kiara tida membiarkan kiara melangkah sedikitpun.
"Jelaskan padaku apa yang sedang kau lakukan disini, apakah kau ingin menemui ku?"
"Cih"
"Heiii, apa aku benar? Wajahmu tida bisa berbohong, katakan apa yang ingin kau lakukan"
"Sudahlah lepaskan tanganku, aku akan kembali ke kamarku, seharusnya kau matikan ponselmu jika itu membuatmu terganggu, kenapa malah ingin menjauhkannya. Atau jangan jangan kau yang ingin menemui ku"
"!!"
__ADS_1
Yas hanya menunjukan ekspresi keheranan atas tuduhan kiara, mengapa dirinya terlihat bodoh? Memang benar apa yang dikatakan kiara, seharusnya yas mematikan ponselnya dan tida perlu repot repot keluar kamar untuk menyimpan ponselnya dengan jauh. Keadaan jadi berbalik, yas yang terlihat seakan ingin menemui kiara, padahal sudah jelas kiara yang lebih dulu ketahuan telah berada di tangga yang akan menuju kamar yas.
Bersambung ...