HIDUPKU

HIDUPKU
Kerjasama


__ADS_3

Yas telah tiba di tempat seseorang yang pernah di rugikan oleh Risti ketika akan melakukan pembangunan hotel. Ide dan desain yang menjadi hak miliknya dengan mudah di ambil oleh orang serakah tanpa rasa malu dan iba.


Namanya sofia, wanita dengan paras cantik yang tampil sederhana. Orang tuanya tidaklah berpengaruh diantara kalangan atas. Bahkan kebanyakan orang mungkin tida akan ada yang mengenal mereka. Sofia melambungkan namanya sendiri berkat kepintarannya mendesain berbagai model bentuk bangunan yang banyak diminati pengusaha properti. Sampai pada akhirnya dia mendapat hasil dari kerja keras dan kesabarannya membangun sebuah RS besar dengan namanya sendiri.


Yas dan hans duduk menunggu sang pemilik nama. Mereka harus benar benar sabar untuk mengajak Sofia kerjasama. Walau ini keadaan genting, mereka tetap harus menghormati kesibukan rekan bisnisnya. Tidak lama gadis cantik pemilik nama sofia muncul dengan raut muka ramah yang menenangkan.


S "Maaf lama menunggu"


Y "Tida masalah. Kami yang akan berterimakasih padamu yang telah memberikan waktu luang diantara kesibukan mu"


S "Namaku Sofia, aku telah mendengar banyak tentangmu tuan"


Y "Ah begitu rupanya. Aku Yas dan ini sekertaris ku Hans"


H "Senang bertemu denganmu nona"


S "Mari duduk. Kita bicarakan apa yang kalian inginkan"


Y "Aku akan meminta maaf sebelumnya. Ini mungkin terdengar sangat keterlaluan, tapi aku benar benar membutuhkan bantuan mu"


S "Aku tau. Sebelum kalian datang kemari pun, ada seseorang yang telah menemui aku. Dan kurasa aku tau kondisinya sekarang"


Y "Sudah kuduga. Aku hanya memberimu sedikit penawaran. Mungkin jika di pikirkan, mereka akan jauh lebih menguntungkan mu"


S "Kau benar. Aku memang tida mengerti akan hal berbisnis. Tapi melihat keuntungan yang mereka tawarkan kurasa mereka cukup menjanjikan"


H "Tapi kau sudah di khianati oleh risti. Bagaimana mungkin kau akan percaya begitu saja"


S "Kau juga benar. Walau aku berfikir ini adalah kerjasama yang menguntungkan tapi rasa sakit hatiku ketika dengannya dahulu tida akan dengan mudah aku lupakan"


H "Kami memiliki bukti rekaman video saat Risti mengancam mu dan menyuruhmu menandatangani hak kepemilikan secara paksa. Kau juga tida menerima uang sepeserpun untuk biaya hidupanmu saat kau berada dalam kesulitan. Jika kau bersaksi untuk kami, tentu itu akan menjadi mudah memasukannya kedalam sel tahanan"


S "Melihat situasi ini, aku jadi sangat resah memikirkannya. Aku tida pandai berbisnis, tapi RS ku perlu dukungan dari orang orang seperti kalian. Semua yang aku usahakan sampai sekarang bukan saja untuk diriku sendiri. Melainkan untuk banyak pihak"


H "Sungguh kau yakin dengan keputusanmu nona?"


Yas terdiam dan menyuruh hans untuk berhenti berbicara. Yas tida akan pernah memaksa seseorang jika tida ingin bekerjasama atau berbisnis dengannya. Keadaan memang terdesak, tapi yas tida ingin membebani seseorang dengan tanggung jawab yang begitu besar untuk memilih sebuah rencana.

__ADS_1


Y "Aku mengerti dengan keputusanmu. Terimakasih sudah memberikan jawaban untuk kami. Semoga RS mu berjalan dengan baik jika sudah mendapat dukungan. Kami harus pamit"


Yas dan hans berdiri menyudahi pembicaraan ini. Mereka sudah pasti kalah berperang karena kendala dukungan. Tapi ini bukanlah akhir. Yas masih optimis dan akan mencoba cara lain. Mereka akan berpamitan pada sofia, dan mengatakan terimakasih atas waktu yang telah dia berikan untuk dirinya, padahal dia telah memberikan jawaban kepada pihak musuh. Tapi tiba tiba sofia bersuara;


"Tuan yas, kau bahkan belum mendapat jawaban dariku. Kenapa pergi secepat ini?"


Hans dan yas saling menoleh. Menanyakan hal apalagi yang kurang mereka dengar. Sofia bangkit dari duduknya dan mengatakan


"Aku memang memikirkan banyak pihak ketika mendapat tawaran dari tuan Riswan. Mereka menjanjikan banyak hal dan memberi dukungan pada RS ku. Tapi sejujurnya entah mengapa hati nurani ku tida menginginkan itu semua. Aku tida mendapat kejujuran dari mata mereka. Aku juga takut di bohongi dan di rugikan lagi oleh mereka. Bagiku RS ini sudah cukup menolong banyak orang. Aku rasa, tida masalah jika tida mendapat promosi"


"Jadi apa keputusanmu"


"Aku ada di pihak mu tuan Yas. Gunakan aku semau mu untuk memulihkan kekacauan ini"


H "Apa kau serius. Kau tida akan main main dengan perkataan mu bukan?"


Yas tersenyum bahagia, dia tida tau lagi harus mengungkapkan ini dengan ekspresi bagaimana. Hans dan Yas saling pandang. Mereka menganggap ini satu kabar baik.


Y "Terimakasih banyak sofia. Terimakasih atas kemurahan hatimu"


S "Tapi, aku memiliki satu permintaan untuk ini"


S "Tida tuan Yas. Aku tida menginginkan itu"


Y "Lalu apa yang kau inginkan"


S "Aku ingin berkencan dengan sekertaris mu"


Yas tanpa ragu langsung mengulurkan tangannya pertanda dia setuju dengan penawaran Sofia.


Y "Baiklah aku setuju"


Dengan cepat Sofia meraih tangan itu dan menyelesaikan pembicaraannya yang terakhir. Dia meninggalkan Yas dan Hans tanpa ragu, sedangkan Hans masih tertegun dengan Ketidak percayaan yang telah dia dengar dari kerjasama ini.


Yas berjalan tanpa menghiraukan Hans yang memanggil namanya, dia seperti akan melakukan protes karena merasa tida di anggap. Sesampainya di dalam mobil Yas benar benar tida memperdulikan dengan ocehan Hans padanya.


"Apa kau gila huh? Kau bahkan tida meminta persetujuan dariku saat itu?"

__ADS_1


"Haruskah aku begitu?"


"Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran mu. Kau menjadikan aku sebagai alat kerjasama ini. Sungguh aku tida habis pikir. Teman macam apa kau"


"Sudahlah. Inikan hanya berkencan"


"Hanya berkencan katamu? Apa kau tida tau artinya berkencan?"


"Memangnya kau tida ingin menolong perusahaan?"


"Tapi haruskah aku yang menjadi korban. Aku juga merasa terbebani dengan permintaannya"


"Hei, ada apa dengan mu ini. Kau kan lajang, tida punya istri tida punya teman dekat wanita. Dia juga cantik. Kenapa kau jadi merepotkan seperti wanita. Sudahlah fokus saja dengan kemudi mu pada jalanan. Nanti kita bisa celaka"


Hans benar benar menggelengkan gelengkan kepalanya. Dia tida menyangka situasi akan menjadi rumit seperti ini. Kenapa dirinya yang harus prustasi membantu perusahaan padahal Yas yang sepenuhnya memilki tanggung jawab.


"Hei apa aku benar benar harus berkencan. Lihatlah diriku yang sudah kacau karana memikirkan hal seperti ini"


Yas terus saja berfokus pada layar laptopnya walaupun sedari tadi hans mengajaknya berbicara. Dia tida ingin hans banyak merengek di saat saat seperti ini.


"Apa kita harus mendatanginya sekali lagi"


"Kau sudah gila huh? Kita sudah susah payah begini kau malah menyepelekan kerjasama ini. Kau dengar sendiri bukan, Sofia yang meminta kita memakai dirinya untuk membantu perusahaan. Kita seharusnya berterimakasih padanya karena permintaan dia yang tida seberapa"


"Tapi kau tau sendiri, aku dan kau itu sama saja. Kita selalu mendedikasikan diri kita untuk perusahaan. Kita tida pernah mengerti hal hal tabu dalam urusan satu hubungan. Jika Sofia menginginkan kencan dengan ku, sejujurnya bukanlah masalah. Tapi jika dia menginginkan satu hubungan, aku akan semakin gila memikirkannya"


"Jika begitu, pikirkan hal lain. Jangan mengambil kesimpulan terlebih dahulu"


"Tapi kenapa ada wanita seperti Sofia yang mengajak pria kencan terlebih dahulu. Apa yang dia inginkan"


"Aku bilang jangan banyak berpikir. Fokus pada kekacauan perusahaan saja"


"Kau juga tau aku tida akan mungkin berhasil dengan Sofia. Aku selalu di anggap menyukaimu oleh kebanyakan orang. Karena bagiku kau yang lebih penting dari hidupku"


"Jangan katakan itu. Aku ngeri mendengarnya"


Yas tiba tiba mengerenyitkan dahinya tanda tida menyukai pembicaraan hans pada dirinya. Dia seperti takut dan memikirkan kata kata kiara bahwa apakah Hans ini seorang Gay. Apa dia hanya menyukai Yas seorang.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2