HIDUPKU

HIDUPKU
Pelukan hangat


__ADS_3

64


Gagal makan malam


Kiara hanya terdiam dalam mobil, canggung dan sedih memikirkan apa yang telah di nyatakan oleh arka, dia juga sangat sadar bahwa malam itu dirinya sangatlah lusuh dan kumuh, tida seperti gadis yang senang akan di ajak kencan.


"Kii, kau baik baik saja"


"Aku baik baik saja"


"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan, apa kau tida keberatan"


*Apa yang akan di katakan olehnya, apakah dia akan menyatakan jika aku samasekali tida menghargainya karena penampilanku seperti ini*


"Kii kau melamun"


"Ah, maaf, mungkin aku sedikit lelah. Deff bagaimana jika kita tida usah makan malam"


"Apa kau sakit? Kau ingin aku mengantar mu ke dokter?"


"Tida, maksudku, aku ingin kembali ke rumah saja, apa kau tida keberatan mengantarku"


"Baiklah jika kau merasa lelah aku akan mengantarmu ke rumah, mungkin lain kali kita akan melakukannya"


Kiara hanya tersenyum ketir, bingung apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, seharusnya ini menjadi kesempatan untuknya lebih dekat dengan deff, namun lagi lagi dia terngiang akan pernyataan arka yang menyebut dirinya tida menghargai seorang lelaki ketika mengajaknya makan malam.


Dalam perjalanan pulang ke rumah tuan yas, deff dan kiara tida saling bicara satu sama lain, deff hanya berfokus pada jalanan dan kiara hanya berfokus pada lamunan yang sedang dia pikirkan. Deff mungkin sedikit kecewa pada kiara, dia merasa bahwa kiara mencampakkannya, namun kiara malah sibuk memikirkan ketidak setaraannya dengan deff, bukannya meminta maaf karena telah membatalkan makan malam ini, dia malah sedih sendiri.


"Ki kita sudah sampai"


"Ah. Benar, aku akan turun"


Kiara turun dari dalam mobil tanpa memperdulikan deff, dia malah terus saja berjalan menuju rumah yas dengan perasaan bimbang, sedih, dan kesal, deff yang melihat kejadian itu benar benar terheran dengan kiara, tida seperti biasanya kiara sulit di ajak berbicara.

__ADS_1


"Ah sudahlah lupakan aku akan pulang saja, percuma memikirkan ini. toh dia sudah pergi jauh meninggalkan aku"


Deff benar benqr kesal pada kiara, dia telah memesan tempat, menyiapkan kado dan berencana menyatakan isi hatinya namun malah dibuat kesal oleh pemandangan yang dilihatnya di rumah lama kiara, walaupun deff paham kiara sudah menjadi seorang istri konglomerat namun setidaknya deff mengerti bahwa kiara hanya di permainkan oleh tuan yas, dan deff sangat yakin tuan yas akan menceraikan kiara secepat mungkin, deff juga sadar tida ada yang mengetahui tentang pernikahan kiara karena orang orang berfikir tida mungkin seorang kiara yang sebatang kara bisa menikahi seorang konglomerat, orang orang berfikir ada kiara kiara lain yang pantas bersanding dengan tuan yas.


Kiara telah sampai di depan pintu, deff pun sudah pergi sehingga tida terlihat lagi mobilnya, kiara tersadar dari lamunannya, sontak dia kaget dan sadar mengapa dirinya sangat bodoh dan tida meminta maaf pada deff, dirinya malah meninggalkan deff begitu saja, kiara segera lari ke depan gerbang untuk melihat apakah mobil deff masih terparkir atau sudah berlalu.


"Dasar gadis bodoh, mengapa kau tida memakai otak mu dengan jelas, lagi lagi sebuah kesalahan yang aku lakukan, deff mungkin kecewa dengan apa yang barusan terjadi, apakah nanti dia tida mau dekat lagi denganku?"


Kiara meneteskan air mata di jalan depan gerbang rumah yas, apa yang telah dia lakukan adalah hal terbodoh sepanjang dia mencintai deff, padahal malam ini sudah sangat lama dia tunggu, tapi hanya karena satu kesalahan semuanya jadi kacau.


"Aku juga tida ingin seperti ini, aku seharusnya makan malam dengannya tapi apa mau dikata, perkataan arka memang benar, bagaimana jika deff memandangku dengan perasaan menjijikan karena aku tida menghargai ajakan makan malamnya, seharusnya jika hari ini tiba, aku akan bercerita pada sahabatku lalu aku pulang ke rumah dengan perasaan bahagia, lalu mempersiapkan diriku secantik mungkin, memakai gaun yang paling indah yang aku miliki dan makan malam ini akan berjalan sempurna"


Kiara benar benar tida dapat menahan tangisnya, dia benar benar kesal pada dirinya, dia merasa tida pantas lagi untuk hidup di dunia ini.


Bersambung ..


65


Pelukan hangat


"Itu adalah nyonya kiara tuan"


"Apa yang sedang dia lakukan disana hans"


"Sepertinya nyonya sedang menangis tuan"


"Benarkah, mengapa dia menangis"


"Apa kita harus berhenti dahulu untuk mengajaknya masuk??"


"Yah lakukan hans"


Hans yang telah menerima perintah dari tuan yas segera menghentikan laju mobilnya untuk melihat keadaan kiara dan menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil, namun saat hans melepaskan belt dari tubuhnya yas menghentikannya,

__ADS_1


"Biar aku saja hans, kau tetaplah di dalam mobil"


"Baiklah tuan"


Yas segera turun dari dalam mobil dengan sedikit terburu buru, dia segera menghampiri kiara yang sedang mematung dengan tangisannya, namun kiara tida menyadari keberadaan yas yang telah berada di belakangnya.


"Aku memang selalu bodoh, kenapa lagi lagi aku tida dapat menikmati hidup"


"Hei, apa kau sudah gila huh, berbicara sendiri di tengah jalan begini"


Kiara masih saja menangis sambil membalikan badannya melihat siapa yang tengah berbicara dengannya kali ini


"Aku benar benar benci dengan diriku, aku selalu bodoh dan merasa tida berguna, aku merasa hidupku hancur dan tida ada lagi yang perlu di pertahankan, jadi apa gunanya hidup"


"Kau sakit ya, atau memang kau sudah gila hah? Ayo masuk ke rumah. Kau harus istirahat sepertinya"


Yas dengan cepat menggandeng lengan kiara dan menariknya agar dia mau masuk kedalam mobil untuk beristirahat di rumah, namun dengan tenaga yang kuat, kiara menepis lengan itu dari dirinya dan mengatakan


"Percuma semua orang baik padaku karena pada akhirnya mereka tida benar benar tulus kepadaku, apa sebabnya ada harapan jika tida pernah diberi kesempatan. Aku hanya ingin sedikit saja tuan, sedikit kebahagiaan untuk aku rasakan, aku tida ingin selalu menderita seperti ini, aku sudah lelah"


Hans yang melihat kejadian itu sontak turun dari dalam mobil karena takut jika tuan yas akan bertindak sangat marah pada kiara, namun hans lebih terkejut ketika yas memeluk kiara dengan cepat setelah kiara selesai bicara pada yas


"Dasar bodoh, jika ingin mati jangan menangis, masih banyak cara lain, apa kau ingin kematian mu menjadi buah bibir agar seseorang yang membuatmu menderita merasa bersalah"


Dengan erat yas memeluk kiara agar kiara tida berontak dan melepaskan diri, yas sangat paham bagaimana keadaan seseorang yang merasa hidupnya merasa benar benar sepi dan hampa, yas sangat mengerti bagaimana kondisi kiara yang hidup sebatang kara tetapi masih sanggup menjalani hidup walaupun dibawah tekanan ekonomi sekalipun, dia merasa kiara nasibnya sangat sama dengan dirinya, selalu mengharapkan keadilan tuhan untuk meminta sedikit kebahagiaan agar hidupnya bisa sedikit berwarna.


Entah kenapa kiara merasa nyaman ketika yas memeluknya, merasa dirinya terlindungi oleh kekejaman suasana yang telah terbentuk dari kebodohan dirinya sendiri.


Kejadian itu berjalan cukup lama, yas memeluk kiara dengan sempurna, dan kiara tenggelam dalam pelukan yas yang hangat, hans yang melihat kejadian itu merasa lega hatinya, ini mungkin langkah awal agar tuan yas tida merasa kesepian.


Angin bertiup kencang malam itu, membuat tubuh kiara dan yas tida lagi berjarak, mereka sangat dekat bahkan hanya pakaian mereka saja yang membuat jarak untuk keduanya,


~Tidak perduli sesulit apapun keadaan kita, kita tetap berhak menerima sebuah dekapan hangat entah dari siapapun itu. setidaknya itulah yang menjadikan seseorang akan lebih tegar dan kuat menerima kekacauan hatinya.~

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2