HIDUPKU

HIDUPKU
Berbincang


__ADS_3

109


Berbincang


Kiara menatap dengan sayu, melihat keadaan rumah lamanya dari jauh, yang tampak sudah begitu nyaman dengan penghuni barunya. Dia tida berani melangkah lebih jauh, meminta sedikit tempat untuk dirinya berdiam diri hanya sekedar melepas rindu.


Tida ada lagi yang tersisa untuk dirinya walaupun sekedar kenangan yang memilukan, kiara memilih menjalani hidup dengan tabah, dan sampai sekarang dia masih belum mengetahui siapa yang menjual rumah lamanya.


Suara mobil taksi terhenti tepat di belakang kiara. Kiara menoleh memastikan siapa yang ada di dalam mobil .


"Ah selamat malam tuan arka"


"Kiara. Kenapa menunggu di luar, masuklah"


"Ah tida apa, aku hanya kebetulan lewat, aku akan segera pergi"


"Benarkah? Tapi sudah lama kau tida mengunjungi rumahmu, apa kau tida rindu?"


"Aah kau terlalu baik, kau memperbolehkan aku menyebut ini adalah rumah lamaku, padahal sudah jelas sekarang ini adalah milikmu"


"Masuklah, kita berbincang di dalam, ini sudah gelap menginaplah jika tida keberatan"


"Terimakasih, tapi aku benar benar harus pergi"


"Tida akan kubiarkan, aku ingin sedikit berbincang denganmu"


"Tapi"


"Masuklah kedalam, mari"


Arka sedikit memaksa kiara untuk masuk kedalam rumah, arka nampak mengerti keadaan kiara, dimatanya terlihat jelas banyak sekali kepenatan yang telah dia sembunyikan.


"Akan aku buatkan susu hangat, duduklah"


"Terimakasih tuan"


"Jangan sungkan, ibuku mungkin sudah tertidur"


Arka memberikan segelas susu hangat untuk membuat kiara sedikit lebih tenang.


"Aku harus berganti pakaian, tunggulah, aku hanya sebentar"


"Baiklah"


Arka masuk kedalam kamar yang dahulu menjadi kemar kiara, kamar dimana semua kenangan terpahit selalu dia simpan di dalam sana, tanpa ada seorangpun yang tau tanpa ada seorangpun yang akan bertanya.


Arka sudah kembali dengan pakaian yang sedikit lebih santai, dia duduk dan berbincang dengan kiara tanpa canggung.


"Apa kau baik baik saja"


"Kabarku baik, bagaimana denganmu"

__ADS_1


"Aku pun baik, lalu bagaimana kuliahmu, kau sebentar lagi akan wisuda, akan pergi kemana kelak?"


"Aku mempunyai keinginan untuk mendaftar bekerja di luar negri di cabang perusahaan OT grup"


"OT grup? Bukankah berarti itu adalah kantor okezone technologi"


"Ya anda benar"


"Kau ingin mendaftar untuk bekerja ke negara lain"


"Benar"


"Impianmu hebat sekali, kau adalah istri dari presiden Ot grup, tapi kau ingin memisahkan diri sebagai seseorang yang tida di ketahui keberadaannya, sungguh aneh"


"Apa maksud mu, aku sungguh tida mengerti"


"Maaf aku tida bermaksud menyudutkan mu, aku hanya menjelaskan mengapa kau begitu bodoh ingin mempermalukan suamimu"


"Kau tau aku sudah menikah"


"Tentu saja, aku tida sengaja mencari tahu tentang dirimu, maafkan aku, aku hanya (menuruti perasaanku yang dahulu menyukaimu) memastikan kau bukanlah gadis jahat, sekali lagi maafkan aku"


Arka sedikit tertawa menyelingi obrolan mereka dengan tida terlalu serius, dia takut kiara berfikir macam macam padanya.


"Bagaimana mungkin semudah itu, kau sungguh hebat"


"Memang sedikit sulit mengulik nya. identitas mu sedikit tersembunyi, dan tida terlalu penting untuk semua orang, tapi aku benar benar mendapatkan dari sumber terpercaya"


"Benar aku telah menikah, maaf tida memberitahumu sebelumnya, dan memang tida banyak orang yang mengetahuinya, aku tida ingin dibicarakan dari belakang, biarlah ini menjadi rahasiaku saja"


"Jangan mempermalukan suamimu, jika ada seorang saja yang membuka semua tentang identitas mu semuanya akan kacau, media tida akan membiarkan kamu lepas begitu saja. Aku pengacara, bagaimanapun juga jika kau mengambil sikap ceroboh kau tida akan menang dari kasus mu"


"Aku tau, terimakasih atas sarannya, aku akan mempertimbangkan untuk itu. Terimakasih untuk sarannya, tapi sepertinya aku harus pamit, ini sudah terlalu malam, aku takut pemilik rumah mencari ku"


"Benar. aku mengerti, seringlah datang kemari untuk melepaskan kerinduan mu di rumahmu, aku akan berencana pindah jika kau masih menyukai rumah ini"


"Ah, kau terlalu baik padaku, biarkan rumah ini bahagia bersama pemiliknya yang baru, aku akan sering berkunjung karena kau sangat baik padaku"


"Baiklah, aku antar kau keluar sampai mendapatkan taksi"


"Terimakasih"


Obrolan mereka yang hangat dan sedikit mengundang gelak tawa di bibir manis kiara kini harus berakhir, kiara memutuskan kembali ke rumah takut yas akan mencarinya seperti kemarin.


Dan benar saja, Yas sudah sangat cemas dengan keadaan kiara, sudah selarut ini dia belum juga kembali, tapi hans muak lagi lagi harus mencari keberadaan mahluk hidup yang entah dirinya akan bepergian kemana.


"Hans ini sudah lebih dari 30 menit sejak kita menunggu, tapi dia belum juga kembali, kau seharusnya mencari dia seperi kemarin"


"Tenanglah, kau ini sungguh merepotkan, kita tunggu saja sampai 24 jam, jika dia belum kembali baru aku akan mencarinya dan melapor polisi"


"Kau sudah gila apa, kenapa harus menunggu 24 jam, apa yang akan terjadi jika selama itu ketika kita hanya diam di rumah tida mencarinya, mungkin dia sudah tewas dari 5 menit yang lalu"

__ADS_1


"Aku tida diam, kau juga tida diam, aku melacak ponselnya sedang mencari tahu keberadaanya, tapi kau dengar sendiri kan ponselnya mati ketika dihubungi, kau juga dari tadi hanya mengomel. Bikin pusing saja"


"Aaah kepa*at kau hans, cepat temukan dia"


Yas benar benar gelisah dan tida dapat mengontrol dirinya sendiri, dia terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan wanitanya. Sampai selarut ini dia masih belum kembali.


Namun ketika keadaan benar benar panik dan rusuh oleh ocehan yas, pintu utama terbuka, yas dan hans melihat kearah pintu memastikan siapa yang datang selarut ini, dan ternyata dia adalah kiara dengan wajah lesunya.


"Kau"


Yas memberikan ucapannya yang hanya sekata dan membuat kiara terbengong di depan pintu.


*Apa yang sedang dia lakukan selarut ini, apa dia akan memarahiku karena pulang terlambat, ah sial apalagi penderitaan yang akan ku hadapi*


Kiara memperlihatkan ekspresi matanya yang benar benar malas melihat kedua orang di hadapannya karena takut membuat keributan selarut ini.


Lain halnya dengan hans yan segera bangkit dan membungkukkan badan menyapa kedatangan kiara dengan ramah.


"Selamat malam nyonya" sapa hans.


Tapi ini sungguh tida terduga, yas berjalan sedikit cepat menghampiri kiara dan langsung memeluknya dengan erat.


"Kau baik baik saja, kau tida terluka"


Kiara tercengang, sekali lagi tubuhnya semakin kaku dan sulit di gerakan, ekspresi macam apa yang tepat untuk menyambut kedatangan yas yang tiba tiba memeluknya begitu erat.


Hans benar benar melihat kekonyolan itu, cinta memang membuat yas jadi menjijikan dan bodoh pikirnya.


"Ada apa denganmu, kenapa memelukku begitu erat dengan tiba tiba"


Yas segera melepaskan pelukannya dari tubuh kiara, karena tersadar dengan menahan rasa malu. Ekspresi hans benar benar menahan tawa yang seakan akan ingin meledak kapan saja.


"Maafkan aku, aku hanya.


Sudahlah lupakan, kau sudah kembali dan keadaanmu baik baik saja"


Kiara berlalu meninggalkan yas dengan rasa canggungnya sambil berkata ;


"Lain kali tida usah mencemaskan ku. Kau juga tida perlu menungguku di depan pintu agar bisa memelukku. Sepertinya otakmu itu benar benar tida beres"


Hans lagi lagi harus menahan tawa didepan kiara, padahal tubuhnya merasa sangat tergelitik dengan suasana yang terjadi antara yas dan kiara. Yas yang mendengar ocehan kiara yang berlalu meninggalkannya langsung membelalakkan mata menahan rasa yang sungguh sungguh sangat memalukan.


Kiara sudah berlalu kedalam kamarnya, dan terdengar dia menguncikan pintu pertanda tida mau ada yang mengganggu.


Ini kesempatan hans untuk tertawa sebebasnya karena kiara sudah berlalu, menertawakan dengan puas dan iba, menertawakan yas yang masih mematung ditinggalkan dengan kejam oleh kiara.


"Kau sudah puas tertawa, sekarang biarkan aku yang memukulmu"


Kini yas kesal dengan tingkah hans yang terus mentertawakan dirinya yang di acuhkan dan di abaikan oleh kiara.


Yas berlalu meninggalkan hans sendirian di lantai bawah setelah puas bergelut dengan hans di lantai bawah. yas segera menaiki tangga menuju kamarnya dengan wajah masamnya.

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2