
Tuan yas tergelatak kembali di atas kasurnya, dengan kesadaran yang belum sepenuhnya dia rasakan, kiara segera mengambil langkah untuk membukakan kaus kaki dan sepatu yang masih menempel pada kaki tuan yas, dia merasa dia harus melakukan itu karena tida tega melihat tuan yas yang merasa tida nyaman, dan nampaknya kali ini kiara melakukannya dengan baik.
Tuan yas terbangun dari tidurnya, dia duduk dengan bersandar dan menoleh ke arah kiara yang sudah terduduk jatuh di lantai.
*Sial, mengagetkan saja, aku pikir dia akan mencekik ku, huh*
"Apa yang sedang kau lakukan"
"Ah, tida tuan, aku akan segera turun kebawah untuk menyiapkan sarapan anda"
Yas yang sudah melihat teh hijaunya tersaji dia atas meja tanpa memperdulikan kiara yang berada di bawah lantai, langsung bangkit dan menyeruputnya dengan santai, perlahan dia mengambil selembar roti tawar itu, mengolesinya dengan selai kacang dan mencelupkannya kedalam tehnya.
*Seperti anak kecil saja, apa itu gaya makan ala seorang konglomerat muda, hahah jijik sekali*
"Apa yang di ajarkan jen padamu"
"Ah" "Maksudku, jen menyuruhku agar aku menyiapkan semua keperluan anda tuan"
"Benarkah? hanya itu yang dia sampaikan, tida ada yang lain"
__ADS_1
"Mmh" *Sial, apa yang harus aku katakan, tida mungkin aku menceritakan padanya bahwa jen membantuku untuk menerima hak ku jika aku bercerai dengannya*
"lanjutkan, aku ingin mendengarnya"
"Mm, hanya itu yang jen sampaikan"
"Jika begitu aku yang akan menyampaikan ini padamu"
'DEG' suara deguppan jantung kiara benar benar bergemuruh kali ini, dia tida mungkin bisa lari, karena pintu kamar sudah terkunci, apa yang sebenarnya yas akan sampaikan pada dirinya, ini sudah sangat menakutkan pikirnya, dia seharusnya tida usah membantu tuan yas bangun dari tidurnya, seharusnya dia cepat keluar dari kamar itu sesuai apa yang di perintahkan jen.
"Sepertinya aku harus menyiapkan sarapan untuk anda, bisakah anda membukakan pintu untuk ku. Mm bukan itu, maksudku membuka kata sandi yang telah terkunci pada pintu kamar ini"
Dengan wajah memelas dan sedikit ketakutan kiara mencoba menjelaskan apa yang dia inginkan sebenarnya.
"Ah, itu, maksudku, anda harus segera pergi bukan agar tida terlambat"
"Tida, aku masih punya banyak waktu untuk berbicara dengan mu, lagi pula siapa kau berani mengatur jadwal ku"
"Ah" *Apa apaan ini, jen bilang kau adalah orang yang sangat disiplin dan tepat waktu, lalu apa ini, kau mengatakan aku ini siapa, yang berani mengatur jadwal mu, benar benar org ini, tida punya pendirian sama sekali*
__ADS_1
"Jika jen tida memberitahumu tentang apa yang aku maksud, aku akan langsung bertanya padamu, apa kau sedang hamil"
"Haaaah" "m .. Maksudku aku tida yakin tuan, aku belum memeriksanya"
"Benarkah? Mengapa bisa begitu"
*Ah, apa dia bodoh, mengapa dia menanyakan hal semacam ini kepadaku* "Aku tida yakin aku mengandung seorang bayi tuan, maksudku aku tida yakin aku hamil"
"Baiklah, segeralah kau pastikan agar aku bisa mengambil keputusan"
"Ah, baik tuah"
"Mmm, tunggulah, aku akan mandi dulu, kau tida usah keluar dari kamar ini, pakaikan aku jas dan dasi, kau juga harus membersihkan sepatuku jika kotor"
"Bukankah ini adalah tugas sekertaris hans, maksudku aku harus menyiapkan sarapan untuk anda, jadi biarkan aku pergi"
"Tida tida tida, kau selalu salah faham terhadapku dan hans, kau mengira aku pria yang suka sesama jenis, jadi aku tida keberatan jika bukan hans yang memakaikannya"
Yas langsung meninggalkan kiara setelah menghabiskan selembar roti tawar dan secangkir teh nya, dia menuju kamar mandi tanpa menghiraukan kiara yang masih mematung di tempat itu.
__ADS_1
Kiara kebingungan apa yang sedang terjadi saat ini, kenapa tiba tiba tuan yas jadi seorang yang ingin berbicara dengannya, tapi ini jauh lebih menakutkan menurut kiara. Mungkinkah akan ada rencana yang lebih kejam lagi ?
Bersambung ...