
Sana dan bella bangkit dari nyamannya kursi di dalam caffe, mereka pamit terlebih dahulu untuk kembali ke rumah masing masing karena mengetahui hari sudang semakin gelap, disusul deff dan juga kiara yang turut bangkit dan mengatakan akan kembali ke rumah juga.
"Ki aku akan mengantarmu"
"Ah ini terlalu berlebihan, kau pulanglah terlebih dahulu, aku akan baik baik saja"
"Aku tida akan membiarkan mu pulang selarut ini, aku benar benar akan mengikuti mu!"
Kiara hanya diam, apa yang sebenarnya deff inginkan, bukankah deff sudah mengetahui jika dirinya sudah menikah, bahkan deff kenal jauh lebih baik akan tuan yas dibanding dirinya.
"Baiklah, aku benar benar berhutang padamu kali ini"
Deff tersenyum mengetahui kiara akhirnya menerima tawaran darinya, deff tida akan tega jika membiarkan wanita pulang seorang diri.
Mobil sudah di melaju dengan kecepatan sedang, kiara benar benar merasa hari ini adalah hari keberuntungan walaupun dia tida banyak bicara pada kedua sahabatnya, dia merasa cukup lega stelah bertemu dengan keduanya.
__ADS_1
"Mm, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi aku sangat takut jika kau tersinggung"
"Ah, aku akan menjawabnya jika memang aku bisa!"
"Ki, apa kau bahagia menikah dengan tuan yas?"
Kiara menatap deff dengan tatapan penuh keheranan, apakah deff mengetahui masalah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Ah maaf ki, aku hanya ingin bertanya, jangan menjawabnya jika tida ingin, maafkan aku, aku rasa aku benar benar bodoh"
"Kau tida salah menanyakan hal itu, kau berhak mengetahuinya, mungkin tida ada banyak orang yang tau mengenai kehidupan tuan yas, tapi kurasa kau tau banyak"
"Apa pendapatmu tentang pernikahan ini, apa terlihat seperti lelucon atau kau berpendapat aku ini seperti sampah"
"Sungguh, kau seorang wanita, tida sepantasnya tuan yas melakukan hal seperti itu padamu, jika dia memang benar hanya menganggap mu manusia yang tida berarti, akankah lebih baik jika dia melepas mu, aku pastikan masih ada seseorang yang pantas disisi mu"
__ADS_1
Kiara merasa hatinya tergoyahkan, merasa apa yang dikatakan deff adalah benar, bagaimana mungkin taun yas mencintai dirinya yang terlihat sangat hina, kiara pun tida tahu apa yang sebenarnya tuan yas inginkan dari dalam hidupnya.
Kiara hampir meneteskan air mata, betapa dirinya di hargai ketika bersama deff, dulu mungkin ini tida akan pernah terjadi, namun sungguh kiara merasa benar benar menyesal melakukan semuanya.
"Aku pikir jika aku mengorbankan sedikit hatiku semuanya akan membaik seperti semula, namun perjalanan ini begitu sangat panjang dan melelahkan aku bahkan sempat berpikir untuk mati saja"
Tida di duga duga deff mengusap tangan kiara dengan lembut, dengan hangat dengan penuh rasa iba, dia menunjukan bahwa dirinya amat sangat peduli dengan wanita disampingnya.
Kiara sontak membelalakkan kedua matanya, apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang berlangsung ditengah obrolan duka yang menerpa hidupnya kini, apa deff sedang menunjukan suka rasa kepadanya atau mungkin deff hanya sekedar iba.
Kiara enggan menepis tangan hangat itu, selain dia memang sangat ingin, dia juga tida berani berbuat demikian, apalagi pada deff seseorang yang sudah sejak lama dia sukai. namun deff kelihatan menunjukan ekspresi wajah biasa saja, dia kembali berfokus pada jalanan karena sedang mengemudi.
"Ah maafkan aku, kau pasti terkejut, aku tida bermaksud, jangan dimasukan kedalam hati"
"Ah"
__ADS_1
Dengan ekspresi muka memerah dan malu kiara merasa debaran jantungnya kini tida dapat di kendalikan lagi, wajahnya terasa hangat saat dia pura pura menempelkan tangannya sebagai sandaran, betapa bahagianya suasana ini.
Bersambung ...