IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 100 - Kamu Bisa!!!


__ADS_3

BAB 100


Fredella menoleh ke samping, wanita yang telah menyakiti dan hampir meruntuhkan rumah tangganya hadir kembali. Tapi ada yang berbeda dengan Clarissa sesuatu yang hilang dari terakhir mereka bertemu.


“Aku bantu, kamu sendirian? Di mana Dariel?” Tanya Clarissa sembari memperhatikan beberapa pria yang berlalu lalang.


“Kakak kenapa ada di sini? Tidak puas membuat hidupku kacau? Mau apa juga Tanya Dariel.” Ketus ibu hamil ini, merapat gigi menahan kesal. Ia tidak menyangka kakak angkatnya masih terus setia membuntuti Dariel.


Clarissa tersenyum. Ia paham kesalahan di masa lalu memang tidak bisa dimaafkan tapi sungguh, sekarang tidak ada lagi niat untuk menginginkan milik orang lain.


“Kamu jangan salah paham, aku menginap di rumah sakit ini. Lihatlah, ini piyama pasien? Aku bukan sengaja mengikuti kalian tapi memang pasien di sini selama satu tahun.” Jelas Clarissa berdiri di depan adiknya, lalu berjalan pelan meminta kursi roda kepada perawat.


“Aku antar kamu ke bagian obgyn, mungkin mau melahirkan.” Tawar Clarissa tersenyum, dia tidak habis pikir kenapa bisa Fredella duduk sendirian tanpa pendamping sama sekali.


“K-kamu bisa jalan?” Fredella melihat kakak angkatnya berdiri tegak, sama sekali tidak terlihat pernah mengalami kelumpuhan yang dinyatakan secara permanen. Tapi sekarang Clarissa kembali seperti seorang wanita yang diidamkan banyak pria.


“Ya, sekarang kita periksa. Kamu jangan protes ya, buang semua prasangka!” Clarissa mendorong kursi roda Fredella. Ia tulus membantu adiknya, khawatir dengan keadaan calon keponakan.


Bagaimanapun tahu betapa sulitnya mengandung, menjalani semua sendirian. Sekarang Clarissa lebih peduli terhadap sesama perempuan.


Tepat di depan lift, keduanya berpapasan dengan Dariel.


“Clarissa? Fredella? Kalian? Mau di bawa kemana istriku?” Dariel mengikuti mantan sahabatnya masuk ke lift.


“Lain kali mintalah orang lain menjaga adikku, kamu tahu dia kesakitan. Mungkin kontraksi.” Jawab Clarissa.


Sontak Dariel cemas dan bingung harus melakukan apa, akhirnya hari yang ditunggu datang, buah hatinya akan lahir. Sementara calon ayah sibuk sendiri dengan pikirannya, Clarissa membawa Fredella keluar lift.


“Hey kalian tunggu.” Teriak Dariel, sebab dua wanita itu melenggang pergi tanpa kata.


Clarissa pergi menghilang setelah mengantar adiknya masuk ruang obgyn. Bahkan beberapa perawat dan dokter terlihat akrab dengannya.


Dokter kandungan memeriksa jalan lahir, memastikan ada pembukaan atau tidak. Ternyata yang dirasakan Fredella  hanya kontraksi palsu, dan ini kerap terjadi menjelang melahirkan.


Dokter pun memberi tahu beberapa tanda kontraksi palsu.


Dariel menyimak penjelasan dokter, bahkan banyak bertanya langkah apa yang harus dilakukan jika kontraksi benar terjadi. Ia tidak mau ada keterlambatan dalam penanganan istrinya.

__ADS_1


Mencatat semua keterangan dan poin penting dalam notes, termasuk benda apa saja yang harus di bawa ke rumah sakit.


.


.


.


Tiga hari pasca kontraksi palsu, Fredella tidak lagi mengalami rasa mulas. Bahkan ia bingung kenapa dirinya belum juga mendapat tanda melahirkan.


Olahraga ringan rutin dilakukan pagi dan sore, ditemani Dariel mengelilingi taman. Tapi keduanya berakhir kelelahan dan tidur dengan kaki yang pegal.


Sore ini Fredella berjalan sendiri, karena suaminya belum pulang mengantar Nyonya Matthew terapi.


“Brianna jangan terlalu memaksakan diri, istirahat dulu, kamu belum minum.” Teriak Nenek, menemani cucunya sembari merajut kaus kaki kecil.


“Iya nek, sebentar lagi. Aw … kalian haus ya? Maaf ya Mom terlalu sering berolahraga.” Fredella merasa sakit di bagian perut bawah, kemudian cepat duduk di kursi taman meneguk satu gelas air.


Perutnya berkedut pelan tetapi hilang, lalu merasakan sesuatu yang merambat dari pinggang ke perut, masih tetap acuh dan tidak menanggapi. Mungkin kontraksi palsu seperti beberapa hari sebelumnya.


Fredella tersenyum setelah membaca pesan singkat suaminya.


Fredella terus melangkah masuk ke kamar, melepaskan pakaian dan membersihkan tubuh dari keringat yang menempel.


Fredella meringis sembari menyabuni perutnya, tapi ia masih tetap tenang. Tidak panik apalagi menghubungi Dariel.


Beberapa detik berikutnya rasa mulas kembali menyerang.


“Apa ini kontraksi palsu juga?” tanyanya, merasa tidak nyaman pada pangkal paha, pinggul dan perut bagian bawah.


Fredella sempat menyandar pada dinding, memegang perut. Bahkan mengakhiri kegiatannya membasuh diri, tidak kuat lagi menahan rasa sakit.


Meraih kain handuk yang tergantung , kemudian membelit kuat tubuh polosnya. Berusaha melangkah, mencari ponsel di atas meja, rasanya jarak dari kamar mandi ke ruang tidur sangat jauh.


Tidak kuasa menahannya lagi, Fredella ambruk di atas karpet, merintih kesakitan.


“D-A-R-I-E-L” panggilnya dalam hati, berharap suaminya datang tepat waktu.

__ADS_1


Bahkan karpet bulu pun kini basah terkena rembesan air ketuban yang keluar. Fredella memekik memeriksa bagian inti, ia tidak tahu lagi harus apa, berteriak rasanya percuma karena kamar ini kedap suara, selain itu ponselnya masih di atas nakas.


“Sayang tunggu Daddy, ok”


“Dariel kamu di mana? Aku ... aku tidak kuat lagi.” Lirih Fredella terus berusaha bergerak mencapai nakas, tapi terlalu sulit.


Di saat hampir menyerah dan kehilangan harapan, pintu kamar terbuka lebar.


“Sayu aku pulang. Fredella … kamu” tanpa basa basi dan menunggu, Dariel yang panik mengambil mantel di dalam walk in closet, serta tas keperluan ibu dan bayi.


Dariel bergegas membawa istrinya ke rumah sakit, menggendong Fredella sangat hati-hati.


“Maaf sayang, aku terlambat. Kamu sabar dan tenang ya.” Tutur Dariel hanya di mulut, padahal hatinya gelisah dan ketakutan.


Dariel meminta sopir menemani mereka, ia tidak bisa melepas pegangan Fredella yang mencengkram kuat bahu.


Tidak kuasa melihat istrinya kesakitan, dan menangis.


“Kamu bisa sayang, aku yakin kamu kuat dan bisa.” Imbuh Dariel turut meneteskan air mata.


“Pak bisa lebih cepat? Istriku kesakitan.” Perintahnya pada sopir, padahal bukan kendaraan yang lambat melainkan lalu lintas cukup padat.


Akhirnya setelah dua puluh menit terjebak macet Fredella tiba di rumah sakit. Langsung masuk ruang bersalin, ditemani Dariel.


Dariel tidak banyak bicara sebab ia juga merasa kesakitan, jari-jari tangan hampir remuk di remas oleh istrinya.


Tim dokter dan perawat masuk ruangan, memeriksa keadaan ibu dan bayi.


“Nyonya lihat dan dengarkan perintah saya.”Dokter spesialis kandungan terus memberi semangat dan instruksi kepada ibu hamil ini.


Fredella mulai kelelahan, kehabisan tenaga sebelum salah satu bayinya keluar. Ia menggeleng lemah dengan kedua mata yang hampir tertutup.


“Sayang, bangun! Sayang jangan tidur, anak kita membutuhkan kamu. Aku percaya kamu bisa. Ingat sayang, mereka anugerah terindah untuk rumah tangga kita. Aku mencintaimu Fredella.” Tukas Dariel, ia pun hanya bisa memberi kata sayang sebagai penyemangat.


Lebih dari tiga puluh menit dalam ruang bersalin, tapi dua bayi dalam kandungan masih malu untuk melihat dunia yang indah.


TBC

__ADS_1


 


 


__ADS_2