
Papi Leo tidak sendiri, Papa Ray dan Mama Nayla juga Papa Adam bersama Mama Samantha menemani sahabatnya yang sedang hancur dan menunggu ruang operasi terbuka.
Leo yang kuat harus menangis dalam rangkulan Adam dan Rayden. Terkadang dalam kepalanya sempat terpikir kenapa bukan dia saja yang sakit, wajah dan rintihan sakit Kezia terekam jelas dalam ingatan Leo.
“Aku takut Ray, Dam. Belum siap kehilangan dia.” Suara Leo bergetar, bahkan tubuhnya pun berguncang.
“Jangan pesimis bro. Kita harus optimis. Aku yakin Dewa bisa.” Tukas Rayden Bradley menepuk punggung sahabatnya dengan pelan.
“Semangat bro, jangan cengeng. Kezia itu kuat dia bukan perempuan yang mudah menyerah. Kita semua berdoa untuk Kezia si perempuan bawel.” Ucap Adam memeluk sahabatnya, bayang-bayang masa muda mereka terekam jelas, di mana Rayden, Adam, Leo, Nayla dan Kezia bertengkar karena gagal nonton konser musik.
Tidak hanya para orangtua, tetapi anak-anak mereka pun turut datang, terkecuali Ayu dan Fredella, tidak mungkin membawa bayi masuk ke rumah sakit apalagi ruang tunggu operasi.
Barra menyandar pada dinding, selalu menatap pintu yang masih tertutup rapat bahkan celah untuk seekor semut pun tidak ada.
”Mami aku mohon sembuh, semua keinginan Mami, akan aku kabulkan termasuk cepat menikah.” Lirih Barra, dadanya merasa sesak, wanita tercintanya sedang berjuang di dalam sana.
Sementara Bobby duduk dengan jemari kedua tangan menyatu, menopang dagu, tatapannya lurus ke depan, ia menyesal menjadi anak nakal dan baru bisa memberi kebahagian di saat Maminya sakit.
Sedangkan Brady, anak itu datang bersama Steve karena jam kuliah baru selesai. Keduanya langsung diam seribu bahasa, melihat kondisi dengan tegang.
Melihat Papi Leo menangis, Barra memilih menjauh dan Bobby merenung.
“Aku yakin Mami sembuh.” Steve memberi kekuatan kepada sahabatnya.
__ADS_1
“Terima kasih.” Jawab Brady tanpa senyum sedikitpun.
Di kursi lain, Dwyne bersandar di bahu adiknya, wanita angkuh itu terus meneteskan air mata, merasa bersalah pernah membenci Mami Kezia atas sikapnya pada Ayu. Sebenarnya menyayangi Kezia tapi semua perlakukan tidak dibenarkan, hingga bibit kebencian muncul dalam dada seorang Dwyne.
“Sampai kapan kamu menangis? Bajuku sudah basah, kamu mau adikmu yang tampan ini masuk angin.” Kata Dariel menempelkan tissue ke mata kakaknya.
“Aku takut Dariel, aku sayang Tante, aku bersalah membencinya dan membawa Ayu kabur.” Dwyne menyusut cairan dari hidung ke lengan kemeja adiknya.
“Kamu jangan membenci orang terlalu berlebihan, ingat jasa-jasa Tante Kezia.” Pungkas Dariel.
Sudah tiga jam menunggu tapi ruang operasi itu masih belum mengeluarkan pasien yang mereka tunggu. Tidak heran semua cemas, mau bertanya pun bingung karena ini bukan area biasa tidak ada perawat lalu lalang.
Setelah menunggu tiga jam lebih tiga puluh menit, pintu terbuka lebar, Barra melangkah lebar mendekati pintu.
Semua bisa bernapas lega melihat Mami Kezia menyunggingkan senyum, meskipun tampak lemah tanpa tenaga. Papi Leo membelai pipi istrinya yang terasa dingin dan ikut bersama perawat serta dokter.
Sedangkan Barra dan Bobby memilih menunggu di depan ruang tindakan, ia ingin bertanya pada dokter.
“Ah itu Dokter Dewa.” Tunjuk Bobby, melihat pria tampan yang baru saja menyelamatkan Maminya, keluar dari ruangan.
“Ok, karena kalian berdua perlu penjelasan segara, ikut aku ke ruangan, tidak mungkin aku menjelaskan kondisi pasien di tempat terbuka, benar kan?” tangan dewa menengadah meminta catatan medis dari asisten.
Ketiganya pun masuk ke ruang khusus spesialis jantung dan pembuluh darah.
__ADS_1
Dokter Dewa mulai menjelaskan semuanya, termasuk alasan kenapa tindakan kateterisasi berlangsung lama, karena Mami Kezia sempat mengalami nyeri hingga tim dokter menunda pemasangan ring.
Dari hasil pemeriksaan terdapat tiga sumbatan pada pembuluh darah, dua diantaranya berhasil dipasang hari ini. Sisa satunya menunggu kondisi pasien stabil dan tubuh menerima benda kecil yang menjadi bagian dari hidupnya. Mungkin dua atau tiga bulan Mami Kezia harus mejalani proses pemasangan lagi.
Semua tergantung dari kondisi pasien bisa cepat atau lambat untuk penerapan ring ketiga.
“Terima kasih Dewa, kamu menolong Mami kita.” Barra memeluk pria yang dianggap sebagai kakak ini. Diikuti Bobby, sebagai rasa syukurnya karena masih bisa melihat ibu mereka tersenyum.
Dewa hanya tersenyum menanggapi hal ini, tidak sombong apalagi mengagungkan diri.
**
Selama tiga hari Mami Kezia mendapat perawatan di ruang HCU, kondisinya berangsur membaik. Tidak ada keluhan apapun dan detak jantungnya pun normal.
Keluarga bergantian menunggu di ruang tunggu, dan Papi Leo paling setia menemani istrinya, di tengah malam selalu mengintip dari balik kaca yang terpasang pada pintu, memastikan istrinya bisa tidur nyenyak.
Leo juga meminta rekam video Ethan ke Ayu, ketika waktu makan selalu memutarnya memberi semangat kepada sang istri bahwa ada cucu menunggu di rumah. Iya Ayu memutuskan pulang ke kediaman Armend.
Wanita itu ingin ada bersama ibu mertuanya, Ayu merasakan sendiri kehilangan kasih sayang orangtua sejak kecil. Untuk itu Ayu tidak mau kehilangan ibu mertuanya.
“Kamu lihat kan, menantu kita itu peduli dan sayang sama kamu, tadi aku bertemu Dewa, dia bilang kalau kondisi kamu sehat, besok pagi kita bisa pulang. Ethan menunggu Oma di rumah.” Kata Papi Leo begitu menggebu tidak sabaran membawa istrinya pulang ke rumah mereka.
“Leo aku beruntung memiliki menantu seperti Ayu, hatinya baik. Dia mau memaafkan aku.” Mami Kezia terharu mengingat wajah polos Ayu dan bagaimana ibu muda itu terus mencoba berkunjung ke rumah hanya untuk menjenguknya.
__ADS_1
TBC