
BAB 112
Ayu tiba di bandara, setidaknya sedikit memiliki waktu karena Bobby menggunakan pesawat komersil untuk perjalanan bisnisnya saat ini. Tapi justru hal ini juga yang membuatnya kesusahan mencari suaminya diantara ratusan bahkan ribuan orang.
Daniel dan Ethan menunggu di tempat lain, sengaja dua orang ini diam. Tidak mungkin membawa Ethan berlari ke sana kemari. Daniel menepuk pelan punggung Ethan sampai keponakannya tertidur, bukan hal sulit menjaga anak Bobby, karena cukup menerima siapapun yang mengasuhnya.
Ayu mencari dari cafe, menunggu di depan toilet bahkan pintu masuk tapi masih tidak menemukan Bobby.
“Kamu di mana Bobby? Jangan pergi dulu.” Lirih Ayu hampir menyerah mencari satu orang pria yang membaur bersama pria lain.
Ditelepon pun percuma, ponselnya tidak aktif. Ayu mencoba nomor lain tapi yang menerima asisten pribadi Bobby.
Akhirnya Ayu membalik badan setelah mencari lebih dari tiga puluh menit, kakinya sudah lelah bergerak , berlari dan berdiri. Ia ingin duduk sejenak, mendaratkan bokong di kursi.
“Masih jauh.” Gumam Ayu melihat jarak kursi besi yang terletak di bagian tengah. Ia menghela napas lelah, dan sedikit menunduk melihat kebawah sembari merelakan Bobby pergi selama satu bulan.
Ayu belum sempat duduk, kepalanya membentur dada seseorang sampai tubuhnya sedikit limbung ke belakang.
“Maaf Tuan saya tidak sengaja.” Ayu merutuki diri sendiri yang ceroboh tidak melihat apapun di depannya.
“Ayu?” pria yang dicari kini berdiri tepat di depannya, menggendong tas ransel dan melepas topi.
“Bobby?” Ayu mendongak memastikan telinganya tidak salah mendengar. Bukan tawa atau senyum melihat suaminya tetapi menangis keras, sampai orang-orang di sekitar menatap tajam ke arah Bobby, berbisik satu sama lain, tentu bukan hal baik.
“Ayu, ada apa di sini? Kita duduk dulu.” Bobby melirik jam tangan, masih cukup waktu untuk membawa calon mantan istrinya duduk di cafe.
__ADS_1
Tanpa basa basi lebih dulu meraih jemari Ayu yang terasa pas digenggamnya. Untuk sesaat Bobby senang bisa sedekat ini, mungkin setelah sidang putusan nanti, ia tidak bisa menyentuh atau berharap lebih karena Ayu bukan lagi istrinya.
“Kamu tunggu di sini, aku pesan minum dulu.” Bobby beranjak dari sisi wanita yang telah membuat hatinya porak poranda beberapa bulan ini.
Membawa dua cup orange juice yang disimpan di atas meja.
Bobby tersenyum kecut melihat sekitar, ia mencari keberadaan putranya. Rindu melihat tingkah lucu Ethan karena lebih dari satu bulan tidak melihat dan mencium harum aroma khas bayi.
“Katakan ada apa? Kamu keberatan dengan syarat itu atau ada yang ingin di tambah? Untuk kelimanya tidak bisa dirubah. Maaf.” Imbuh Bobby, karena sampai kapanpun ia tidak mau menyerahkan Ayu kepada pria lain.
Ayu hanya mengangguk pelan, lidahnya terasa kelu menyampaikan maksud isi hati. Tapi jawaban ini justru mengukir senyum di wajah Bobby, biarlah Ayu tidak menyetujui syarat yang dia ajukan, itu artinya status mereka masih suami istri.
Bobby sungguh merindukan wanita lugu yang selalu mencintai dia apa adanya, apalagi ketika malam datang rasa rindu semakin menusuk.
“Kamu marah?” tanya Bobby bingung karena Ayu masih bungkam seribu bahasa.
“Bilang saja jangan sungkan Ayu!” berusaha mengulas senyum selagi wanita di depannya masih sah menjadi milik seorang Bobby Armend. Rasanya tidak adil kalau dia dipaksa berhenti mencintai Ayu, memang lucu hidup itu. Baru merasakan betapa berharganya seseorang ketika dia tidak ada lagi menemani, dan sekarang tersisa hanya penyesalan dalam diri Bobby.
“Aku … aku mencabut gugatan cerai, aku hanya mau memberi kesempatan untuk lelaki jahat itu. Semoga dia mengerti dan bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik.” Pungkas Ayu tatapannya terkunci pada Bobby.
Antara mimpi dan kenyataan, Bobby tidak mengedipkan kedua mata, termenung mendengar penuturan istrinya. Bukankah begitu kuat keinginan Ayu untuk berpisah tapi sekarang berbanding terbalik, jelas inilah yang diinginkan Bobby.
Bisa merajut hubungan yang hampir kandas karena kesalahan besar.
Semula Ayu ingin mengakhiri rasa sakit di hati dengan perpisahan sebagai obat tapi semakin berputarnya jarum jam, bukan semakin baik malah ia dilanda kegelisahan yang berbeda. Akhirnya Ayu mengikuti kata hati, mencoba memaafkan Bobby adalah jalan terbaik menurut Ayu.
__ADS_1
“Kamu serius Ayu? Kamu memaafkan aku?” tanya Bobby begitu menggebu, Bobby nyaris menitikkan air mata, ia merasa ini anugerah besar yang harus disyukuri. Mendapat maaf dari istri yang telah disakiti bukan hal mudah baginya.
“Aku serius.” Jawab Ayu lugas tidak ada keraguan sama sekali.
“Kita merawat Ethan dan hidup satu rumah lagi, benar kan?” tanya Bobby, sekali lagi mengkonfirmasi, mencari kebenaran walaupun jelas maksud pembicaraan Ayu.
“Iya, tapi bisa kamu merubah semua sikap? Aku tidak mau menjadi yang kedua, aku bukan pelarian, bukan pelampiasan, aku itu Ayu bukan Clarissa, aku gadis desa yang terjebak bersama pria jahat seperti kamu.” Ucap Ayu, amarah dalam dada pecah.
“Bisa sayang, bisa. Apapun untuk kamu, aku lakukan. Jangan pergi lagi Ayu. Aku tidak siap hidup dan harus kehilangan kamu juga Ethan, aku tidak akan sanggup ada pria lain yang menggantikan posisiku Ayu. Maaf Ayu, maafkan suamimu ini. Kamu mau kan?” Bobby sangat berterima kasih pada semesta. Mulai detik ini hidupnya hanya untuk keluarga, keluarga dan keluarga.
Ada Ayu dan Ethan yang sangat memerlukan perhatiannya. Bobby akan menebus segala kesalahan sekaligus waktu terbuang dahulu kebahagiaan yang di masa depan mereka.
“Kamu jadi berangkat ke Korea? Aku dengar Nona itu punya rumah di Korea, apa kalian berencana bertemu?” Ayu tidak tahan bertanya hal seperti ini, ia berhak untuk mengungkapkan kecurigaannya.
“Maksudnya Clarissa, demi apapun Ayu, aku tidak ada maksud bertemu dengannya. Perjalanan bisnis kali ini murni untuk menyelesaikan pekerjaan. Tidak Clarissa, tidak ada lagi, dia … dia hanya masa lalu, sekarang hanya kamu, Ayu Jelita untuk selamanya.” Tutur Bobby mengeluarkan jurus Casanova.
Tidak peduli lagi dengan julukan itu, dia tidak mau lagi bermain dan menyakiti hati wanita. Karena menyakitkan ditinggal pergi seseorang yang sangat berharga, apalagi Ayu berbeda dari kebanyakan wanita lain.
“Sayang maaf, pesawatku sebentar lagi lepas landas. Aku pastikan hanya ada kamu tidak ada Clarissa masa lalu atau Clarissa baru.” Bobby berdiri dan mendekati istrinya, memeluk tubuh mungil Ayu, melabuhkan ciuman di puncak kepala.
“Aku berangkat sayang, katakan pada Ethan, kalau Daddy sangat mencintainya.” Ucap Bobby, pria ini sedikit berlari agar tidak tertinggal pesawat.
Ayu menghela napas dan melepas suaminya bekerja, ia berusaha mencoba percaya, ya membangun kepercayaan yang sempat berlubang bahkan hancur.
TBC
__ADS_1