
BAB 119
Tepat di hari keempat Mami Kezia pulang ke rumah, keluarga dan kerabat menyambut. Tatapan pertamanya langsung terkunci pada sosok mungil dan polos di tengah, diapit oleh dua wanita, Dwyne dan Nayla.
Ayu tampak tersenyum, mendekat dan memeluk ibu mertua, meneteskan bulir bening yang jatuh membasahi serat pakaian Mami Kezia.
“Ayu senang Mami pulang. Maaf mih selama di rumah sakit, Ayu belum menjenguk Mami.” Alasan Ayu, ia takut ibu mertuanya memiliki prasangka lain.
“Bukan masalah, nak. Kamu pulang ke rumah jadi hadiah paling baik untuk Mami. Maaf ya atas sikap Mami selama ini, Ayu mau kan kasih Mami kesempatan? Anggap Mami sebagai ibu kandung kamu ya.” Mami Kezia menggenggam kedua tangan menantunya, wanita paruh baya ini juga sama menitikkan air mata.
Menunggu jawaban Ayu, tidak berharap banyak karena yang dilakukannya terdahulu memang salah.
Ayu tersenyum simpul, dia menganggukkan kepala dengan cepat. “Iya Mih. Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. Ayu yakin Mami sebenarnya sayang sama menantu dan cucu Mami.” Istri dari Bobby ini memeluk ibu mertua sangat erat, dengan perasaan hangat menjalar dalam dada.
Dia teringat akan kehilangan kedua orangtua kandungnya, dan berharap bisa mendapatkan keluarga yang benar-benar menyayangi tulus apa adanya. Setelah melalui jalan jauh dan melintasi rintangan, kasih sayang itu akhirnya datang.
“Mami boleh gedong Ethan?” Pinta Mami Kezia dengan tatapan memohon.
Tapi jawaban Ayu tidak sesuai, menantu pertama ini menggeleng kepala. Tidak memberi izin sebab di bagian pergelangan tangan Mami Kezia terdapat luka pasca kateterisasi, akan sedikit berbahaya jika tersenggol oleh tangan atau kaki Ethan.
“Itu Mami. Ayu takut. Maaf Mami.” Ayu melirik dan menunjuk pada pergelangan terbalut perban.
Kedua wanita itu hanya tersenyum dan sama-sama masuk ke dalam.
Selama Mami Kezia dalam masa pemulihan, Ayu mulai turun tangan mengelola butik mertuanya.
__ADS_1
Belajar semua dari nol, dan tentu siapa lagi yang mengajari tata kelola semua kalau bukan Mami Kezia tentunya. Hubungan mereka semakin baik, meskipun terkadang Ayu melakukan sedikit kesalahan, tapi ibu mertua itu tidak marah, hanya Ayu yang ketakutan.
Tidak jarang Bobby menjadi tutor bagi istrinya dalam menangani pelanggan dari beberapa masalah yang ada. Pria itu senang, istrinya bisa lebih terbuka dan mengurangi sifat mudah curiga. Ayu semakin dewasa dalam menghadapi setiap tantangan yang ada, berkat keluarga yang kini mulai menyayangi dan menerima kehadirannya.
“Ayu, besok aku berangkat ke Singapore ada pekerjaan di sana. Dua sampai tiga hari baru selesai dan bisa pulang. Aku pergi dengan asisten pribadi. Kamu mau ikut juga?” tanya Bobby, dia lebih senang istrinya ikut daripada menunggu di rumah.
“Asisten kamu laki-laki kan? Aku mau ikut tapi kasihan Ethan, dia diare. Maaf Bobby, mungkin lain waktu.” Bagaimana pun Ayu seorang ibu mana tega meninggalkan buah hatinya dalam keadaan sakit.
Namun harus menaruh kepercayaan bahwa Bobby hanya bekerja, bukan melakukan hal lain yang membuat hubungan mereka kembali retak.
“Sejak kapan aku ganti asisten? Masih sama laki-laki dan seorang ayah tiga anak, jadi lebih serius dalam bekerja.” Jawab Bobby, sengaja memilih asisten dengan kriteria tertentu.
Pria itu pun meniru sahabatnya, hampir setiap jam bertukar kabar dengan Ayu. Bahkan dilengkapi GPS, jadi Ayu bisa tahu ketika Bobby bergerak meniggalkan tempat. Bangun tidur, sampai di lokasi projects, bertemu klien siapa saja, apapun kegiatannya pasti dia kirim ke Ayu.
Melelahkan memang, tapi bukan masalah demi rumah tangga yang nyaman dan jauh dari masalah, cukup sudah mereka merasakan pahitnya perpisahan karena permainan hati.
Rasa cemburu tetap ada, sekarang Bobby lebih mengawasi istrinya. Karena Ayu sering bertemu klien pria dan banyak diantaranya eksekutif muda. Tapi Ayu ingat statusnya bukan perempuan lajang, lagipula dia menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran, tidak mudah terjerat dalam mulut manis kaum pria di luar sana.
Tiga bulan belum cukup bagi Ayu untuk mempelajari semua seluk beluk butik mertua, dia selalu berusaha menjadi yang terbaik dan membuktikan diri bahwa seorang Ayu Jelita mampu.
Meskipun siang hari Ayu lebih sibuk di butik, tidak ada di rumah, tetapi Bobby selalu menyempatkan mengisi waktu luang. Mengirim makan siang atau menjemput Ayu untuk makan bersama, dan tentu saja membawa Ethan dengan keduanya.
Sepasang orangtua itu berusaha menjadi figur ayah dan ibu yang baik, menjadikan keluarga apalagi anak prioritas nomor satu.
Ayu tidak sendiri dalam merawat Ethan, dia menerima saran dari mertua dan suami. Menggunakan jasa pengasuh lebih tepatnya. Setidaknya ibu muda ini tidak kesulitan membagi waktu, bisa memiliki jadwal untuk dirinya sendiri, tidak sibuk akan pekerjaan atau anak walau hanya satu atau dua jam.
__ADS_1
.
.
Enam bulan pasca Mami Kezia pemasangan ring yang ketiga, keluarga ini kembali sibuk dengan acara pernikahan Barra. Sesuai janjinya, putra sulung keluarga Armend itu ingin memenuhi permintaan Mami dan Papinya.
Barra terima saja calon istri yang dipilihkan keluarga, dia percaya siapapun itu pasti seorang wanita yang baik budi pekertinya, bisa mejalani hari-hari bersama sampai tua.
“Kak jangan tegang, masa gemetaran. Malu sama calon istri.” Kelakar Dariel mendampingin Barra di ruang khusus mempelai pria.
“Berisik kamu Dariel. Bukan tegang, tapi ini pengalaman pertama.” Sahut Barra tidak jelas, dan berbeda dengan apa yang hati rasakan.
“Oh, kita semua juga pertama, santai ka. Tadi aku lihat calon istrimu cantik juga ya.” Lanjut Dariel menggoda Barra, karena dia tahu pasangan ini tidak saling kenal dan berselang dua bulan langsung menikah.
“Iya dia perempuan, dan wajar sebagai aktris harus cantik.” Jawab Barra dengan santai. Mau secantik apapun atau biasa saja Barra tetap menerima, tujuan dia menikah demi menuruti keinginan Mami dan Papinya.
Dariel setia menemani Barra sampai waktunya tiba, dia senang pria yang dianggap kakak ini menikah dan berharap semua lancar tanpa ada gangguan apapun.
Barra dan istrinya resmi mengikat ikrar suci di salah satu taman hotel, banyak tamu yang hadir, bahkan hampir semua kolega bisnis.
Setelah selesai dengan urusannya, Dariel menghampiri Fredella, ibu dua anak itu repot menangani dua batita yang sedang aktif.
Theo selalu lincah dan penasaran akan sesuatu, tidak menyukai keramaian dan bising. Sedangkan Valerie gemar menjadi pusat perhatian, dan menangis jika suasana mendadak sepi.
Akhirnya Dariel memilih menemani putranya yang melihat pepohonan. Sekaligus mengamati sang istri dari jarak jauh, karena ada beberapa pria yang mendekat, padahal sudah jelas wanita itu menggendong batita, pasti sudah menikah dan memiliki suami.
__ADS_1
TBC