IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
IMPERFECT MARRIAGE Episode.25


__ADS_3

Sebentar lagi acara pemotongan kue, tapi kemana Aditya. Baru saja, aku melihatnya ada disekitar sini, kenapa mendadak menghilang begitu saja.


"Nak kemana suamimu itu." Mamah bertanya padaku.


"Sebentar lagi kue ulang tahunmu akan dipotong, sayang." Ibuku juga ikut berkomentar.


"Pah, Ayah.. sini." Panggil Mamah dan Ibuku, bersamaan.


"Ada Bu? ." Tanya Ayahku bingung.


"Kemana Aditya? Bukankah sebentar lagi Bianca akan memotong kue? ." Sahut Papah lagi.


"Nah justru itu Mamah mau tanya, papah gak tahu Aditya kemana? ." Tanya Mamah.


Kini orang kedua orang tua kami, sedang berpencar mencari keberadaan Aditya. Sebenarnya aku sangat ingin ikut mencari, tapi, mereka memintaku untuk menunggu disini. Setelah 5 menit Ayah, Ibu, Papah dan Mamah tidak muncul. Aku tidak tahan lagi, aku juga harus mencari Aditya.


Sementara itu, Aditya sudah kembali ketengah-tengah pesta. Karena sebentar lagi adalah waktunya Bianca memotong kue, dia begitu yakin potongan pertama akan diberikan padanya. Namun entah kenapa mereka semua menghilang, Bianca, bahkan kedua orang tuanya ikut menghilang.


Dooorrrrr.


Suara tembakan senjata. Meskipun tidak begitu jelas terdengar, Aditya sangat yakin itu adalah suara tembakan dari lantai dua. Dimana itu adalah kamar keluarga besar Aditya berada. Tanpa berpikir panjang Aditya langsung berlari bersama beberapa penjaga yang juga menyadari suara tembakan itu. Mendadak acara yang tadinya berjalan normal, menjadi riuh dan kacau, semua tamu undangan tampak ketakutan, dan berlari keluar dari tempat itu.


"Pah.. Papah.... " Teriak Aditya yang mendapati Ayahnya terbaring kaku dengan luka tembakan tepat dada bagian kirinya. "Apa yang kau lakukan Bianca? ." Aditya meriaki Istrinya itu. Karena pada saat Aditya masuk, Bianca lah satu-satunya orang yang berada bersama ayahnya, gaun putihnya sudah berubah menjadi merah, berlumuran darah.


"Bukan aku Adit. Papah, sudah seperti ini saat aku masuk tadi." Tangisku, menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Tapi sepertinya Aditya tidak perduli.


Mamah, Ayah dan Ibu, menjadi histeris, aku mendengar jeritan dimana-mana.


"Dasar pembunuh, kau pembunuh." Teriak sesorang.


Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, pandanganku mendadak kabur dan gelap. Setelah itu aku tidak tahu apapun lagi.


*****


Aku berada ditempat asing saat aku tersadar. Tempat yang gelap, cahaya yang ada disinipun cukup minim. Aku terbaring diatas lantai yang kotor dan bau. Apa ini mimpi? Rasanya aku sedang berada disebuah acara besar tadi, tapi kenapa aku bisa berada disini sekarang. Aku melihat kesekeliling tempat itu, sangat menakutkan sekali.

__ADS_1


"Tolong... Tolong." Teriakku meminta bantuan.


Aku mendengar hentakan kaki kasar seseorang berjalan mendekat kearahku.


"Hei ada apa denganmu? Diamlah kau bisa menggagetkan yang lain." Titah orang asing itu padaku.


"Siapa kalian, kenapa aku ada disini? ."


"Sudah bersalah masih pura-pura lupa ingatankan sekarang!" Serunya lagi. Membuatku semakin binggung.


"Apa maksud anda pak! ." Tanyaku lagi.


"Astaga. Kau benar-benar gila. Kau adalah tersangka sekarang. Apa kau lupa, telah menghabisi nyawa Ayah martuamu sendiri."


Itu membuat memoriku kembali pada saat itu lagi...


Flashback on.


Doorrr, aku mendengar suara tembakan dari arah kamar Papah malam itu, tanpa berpikir panjang aku langsung datang kesana. Aku melihat darah bercucuran dilantai. Papah sudah terbaring lemah saatku menghampirinya.


Aku ingat Aditya sepertinya menyalahkanku atas kejadian itu, dan Mamah...


Dia mengatakan aku adalah pembunuh.


Setelah itu semua gelap dan saat aku kembali sadar aku sudah berada ditempat ini.


Flashback off.


Bianca Pov


Bahkan aku belum sempat menyampaikan kabar baik pada Papah, jika aku telah menggandung anak Aditya sekarang.


Papah... Maafin Bianca.


Kenapa Papah harus pergi dengan cara seperti itu, Tuhan? Itu tidak adil, Papah adalah orang baik. Kenapa tidak aku saja? Ambil saja nyawaku, dan kembalikan Papah bersama Mamah dan Aditya lagi. Ku mohon.

__ADS_1


"Hei, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Ucap seorang penjaga tahanan itu padaku.


Aku yakin itu pasti Aditya, dia pasti datang kesini untuk membebaskan, aku yakin dia percaya bukan aku pelakunya. Aku segera menemuinya, tapi itu Aditya, dia adalah William. Kemana Aditya?


"Pagi Nyonya." Sapa William padaku.


"Kemana Aditya, Wil?."Tanyaku langsung pada intinya.


"Tuan belum bisa kesini Nyonya, ada beberapa hal yang harus ditangani sekarang."


"Lalu, bagaimana dengan Papah? ."


"Tuan Besar, akan dikuburkan sore nanti Nyonya! ."


"Apa Adit, tidak mempercayaiku?" Tanyaku lagi. William terdiam, tidak dapat menjawab pertanyaanku. Itu hanya berarti satu hal, Aditya memang mengangapku pembunuh. Sama seperti yang lainnya. "Baiklah, aku mengerti. Sampaikan kepada Adit, bukan aku pelakunya. Dia harus mempercayaiku. Kumohon Will, katakan itu padanya." Pintahku, menangis dihadapanya.


"Nyonya kau tidak perlu takut. Tuan hanya sedang kacau saat ini, mohon anda bisa mengerti itu. Saya sangat yakin bukan anda orangnya." Ucap William mengguatkanku.


"Boleh aku pinjam ponselmu, aku ingin menghubungi Adit" Pintahku lagi. William kemudian memberikanya. Aku mencobanya.


"Halo." Jawab Aditya.


"Sayang apa kau mendengarkanku" Ucapku. Namun tidak ada jawaban dari Aditya. "Dengarkan aku Adit, bukan aku pelakunya. Kau harus mempercayaiku, seperti aku mempercayaimu" Tambahku lagi. Namun Aditya memutuskan telponku begitu saja.


"Ini kukembalikan ponselmu" Ucapku dan memberikan ponsel itu pada William lagi. "Kembalilah, aku akan baik-baik saja disini" Aku mengusir William dengan halus. Karena aku benar-benar sudah tidak dapat menahan air mataku lebih lama lagi.


Penjaga tahanan itu kembali membawaku ke dalam sel milikku.


Aku benar-benar dijadikan seorang tersangka, untuk kejadian yang tidak pernahku lakukan. Aku tidak masalah jika orang lainnya yang mengatakan itu, tapi faktanya, bahkan Aditya pun, tidak mempercayaiku lagi.


Seharusnya ditempat itu, akan ada banyak cctv, tapi kenapa tidak ada satupun yang datang membawa bukti itu dan membebaskanku? Seharusnya Aditya lah yang datang kesini, bukan William.


Kenapa rasanya sakit sekali, tidak dipercaya oleh orang yang dicintai.


Tubuhku serasa tak bergerak, dan bodohnya airmata ini mengalir begitu deras.

__ADS_1


__ADS_2