
BAB 72
Di ruang makan, Ayu masih saja asing berada di rumah ini. Kendati telah melewati beberapa bulan, tatapan dari ibu mertua sering kali membuatnya tidak nyaman. Manik hitam jernihnya melirik pada Bobby yang tampak acuh, tidak ada kehangatan sama sekali.
Kalau saja ia memiliki kekuatan pasti tidak akan berakhir seperti ini.
Tapi Ayu harus menerima semua, terpaksa demi anak dalam kandungannya. Ia harus kuat mempertahankan semuanya, termasuk rasa cinta untuk Bobby, masih berharap suaminya suatu saat bisa menerima kehadiran Ayu apa adanya, bukan sekadar pengganti belaka.
“Ayu, kamu kenapa makan sedikit?” tanya Mami Kezia selalu memperhatikan menantunya, mungkin lebih tepat mengawasi. Usia kandungan Ayu menginjak enambulan, tetapi dari bentuk tubuh tidak ada perubahan sama sekali kecuali perutnya bertambah besar.
Makanan yang ditelannya masuk ke dalam tubuh dan diserap oleh janin, Ayu terlalu sering terkena tekanan batin. Ia masih bersyukur anaknya dalam keadaan sehat tidak kekurangan apapun.
“Iya mih. Ayu kenyang, sebelumnya banyak makan buah.” Jawab Ayu sungkan.
“Seharusnya kamu jangan egois Ayu, perhatikan juga tubuh kamu. Jangan sampai sakit, mami tidak mau kamu mengeluh sakit dan terjadi sesuatu pada cucu mami.” Tegas Mami Kezia, mengambil makanan dan menyimpannya di atas piring kosong Ayu.
“M-makasih mih.”
“Hem” Sahut Mami Kezia, tatapannya beralih pada Bobby, masih terus menyantap makan malam tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya.
PLAk
“Argh. Kenapa mami? Tidak lihat aku sedang apa?” geram Bobby, ia tidak merasa melakukan kesalahan tapi dipukul menggunakan sendok sayur.
“Istri kamu makannya terlalu sedikit. Lebih perhatikan lagi dia, awas ya kamu jangan macam-macam Bobby. Cukup sekali kepala mami dibuat pusing.” Mami Kezia kesal pada putra keduanya. Ia masih bisa santai, tanpa tahu istrinya memendam sesuatu.
Mendapat peringatan keras, Bobby langsung menoleh dan melihat dari atas sampai ke bawah, tidak ada yang salah dengan istrinya. Baik-baik saja, bahkan sangat sehat, tidak pucat atau lemah. Inilah satu hal yang membuat Bobby dirundung duka mendalam.
Selama Clarissa hamil, kehadirannya tidak ada. Baru di bulan terakhir ia bisa memperhatikan anak dalam kandungan wanita yang ia cintai tapi semua harus berkahir dengan adanya kecelakaan, Greeta meninggal sebelum sempat bisa merasakan kasih sayang dari Bobby.
__ADS_1
“Kamu tidak ada keluhan kan? Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, karena setelah kita menikah kamu adalah tanggung jawabku.” Terang Bobby membelai perut buncit Ayu.
Ayu menggeleng pelan sebagai jawaban. Ibu hamil ini tersenyum merasakan telapak tangan kekar Bobby. “Terima kasih sudah menyayanginya, baby. Semoga setelah anak kita lahir, hatimu juga bisa ku miliki.” Batin Ayu menggantungkan harapan tinggi.
“Kembalilah ke kamar, jangan tunggu aku. Kamu tidak boleh begadang. Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan.” Bobby mengacak rambut Ayu lalu beranjak pergi.
Dalam ruang kerja Bobby membuka laci menyentuh bingkai gambar, rahang tegasnya mengeras, menelan saliva, menghela napas kasar. Menatap gambar wanita cantik diantara ketiga pria, senyum manisnya merekah sangat bahagia.
Foto itu diambil lima tahun lalu, masih hangat dalam kepala Bobby ketika Clarissa menolaknya. Wanita cantik itu berbohong, ingin fokus pada karir tetapi mencintai dan berusaha meraih perhatian sahabatnya.
“Seandainya kamu tidak menolak, pasti hubungan kita bahagia, Ca. Aku, kamu dan anak kita.” Bobby menahan kesedihan, bayang wajah kaku dan pucat Greeta menghantuinya.
“Greeta maafkan, Daddy ... maaf. Apa yang harus Daddy lakukan untuk menebus semuanya?” casanova ini menangis, luruh sudah bulir bening yang ia tahan.
Mungkin ini salah, dirinya selalu mengingat Clarissa, masih mencintai wanita itu sepenuh hati. Bukan tidak ingin mencintai istrinya, tapi sulit menghapus dan mengganti posisi Clarissa dengan Ayu.
Cinta tak seindah harapan, pernah terlintas dalam benaknya untuk meninggalkan Ayu setelah mengetahui hasil tes DNA bahwa benar anak dalam kandungan Clarissa miliknya.
Tapi hal lain terjadi, dan Bobby mengurungkan niat. Tetap fokus menjaga kesehatan anaknya, ia tidak mau kehilangan buah hati.
Bobby menyayangi Ayu tapi tidak mencintainya, hubungan hanya terikat dalam pernikahan dan anak. Ia juga tidak ingin berpisah dari Ayu, khawatir kelak darah dagingnya pergi bersama sang istri.
“Maaf Ayu” lirih Bobby.
**
Liverpool
Di sisi lain, Dariel tengah sibuk memeriksa laporan dari iklan yang tengah ia kerjakan bersama Bobby. Kapanpun kegiatannya hanya bekerja, Dariel kasihan pada Asisten Indra, usianya tidak lagi muda tetapi mengemban tugas berat.
__ADS_1
Esok hari pria ini harus kembali ke Jakarta, ada beberapa pertemuan penting tidak bisa ditunda. Nasib ratusan ribu karyawan tergantung dari projects yang tengah dijalani.
Terpaksa Dariel meninggalkan Fredella bersama ibu mertuanya. Apalagi sejak melihat kondisi fisik Nyonya Muda Matthew lemah, tidak tega Dariel memaksa istrinya pulang dan menemani kesehariannya.
“Dariel? Kamu selalu sibuk seperti ini?” Fredella melirik tajam memperhatikan Dariel yang beberapa kali mengantuk tetapi jemari masih aktif bergerak di atas keyboard.
“Ya sayang, menjadi pimpinan tidak mudah. Pantas saja dulu papa sering bepergian, semua untuk mempertahankan perusahaan. Aku juga tidak hanya menangani hotel, tapi rumah sakit. Maaf kalau hari ini waktuku tidak sepenuhnya untukmu.” Suara lelah Dariel begitu jelas terdengar.
“Sayang? Aku baru ingat. Apa dua hari yang lalu kalian bertemu maksudku kamu dan Clarissa? Apa dia mengatakan sesuatu?” selidik Dariel, kesibukkan membuatnya lupa akan hal itu.
“Iya, tidak ada hal penting, hanya permintaan maaf. Aku prihatin dengan kondisinya, kakak terlihat lemah dan tidak memperhatikan penampilan seperti dulu.” Pandangan Fredella menerawang langit.
Dariel cemas bila Clarissa menyampaikan hal-hal buruk terkait hubungan mereka, wanita itu lama menghilang dan kembali mengganggu ketenangan Dariel.
Semenjak kepergian Greeta, Dariel memutus kontak dengan sahabatnya. Semua demi Fredella, ia tak mau masuk lubang untuk kedua kali.
“Apa kalian masih bertemu?” tanya Fredella.
“Tidak, aku tidak pernah lagi terlibat dengannya. Jangan percaya semua perkataannya sayang. Aku berani melakukan apapun demi hubungan kita termasuk menjauhi Clarissa selamanya.” Jantung Dariel seakan terhenti mendengar pertanyaan sang istri.
Jangan sampai orang ketiga merusak segalanya dalam pernikahan mereka, susah payah Dariel mempertahankan Fredella.
“Jangan curiga sayang, kamu bisa memasang CCTV atau alat pelacak, bila perlu aku memberikan semua agenda pekerjaanku, selama kita menjalani hubungan jarak jauh. Kamu bisa menyimpan mata-mata di kantor atau rumah.” Tutur Dariel berlebihan.
“Semua itu tidak perlu selama kamu menepati apa yang keluar dari bibir nakal itu. Aku tidak mau hanya kata-kata saja, kalau sampai terjadi jangan harap ada kesempatan terkahir.” Ancam Fredella memegang kuat kerah kemeja suaminya.
...TBC...
__ADS_1