
Baru saja Ayu selesai menggosok gigi, mengganti piyama dan membuat susu untuk Ethan. Dia mendengar pagar besar di depan rumah ini terbuka. Ayu acuh saja, mungkin Dariel atau Papa Rayden yang pulang selarut ini. Karena Ayu lihat keduanya belum sampai di rumah.
Namun ada sesuatu yang aneh, tidak mendengar deru mesin mobil padahal kamarnya ada di lantai satu, selain itu jendela dalam keadaan terbuka. Sebenarnya penasaran ingin melihat keluar kamar, tapi daripada melihat kemesraan Papa Ray dan Mama Nayla atau Dariel dan Fredella. Ayu memilih menarik selimut bersama Ethan yang sudah mengantuk.
Ayu benar-benar menutup kedua matanya, beberapa detik .
Suara ketukan kamar menghilangkan rasa kantuk yang menyerang, tidak biasanya ada seseorang mencari malam begini.
Ayu menyalakan lampu utama, menggeser slot kunci dan perlahan membuka pintu. Kedua bola mata hitamnya tidak berkedip menatap seseorang yang satu jam lalu menghubungi melalui panggilan video.
“Bobby?” suara Ayu tercekat di tenggorokan, masih menganggap semua ini halusinasi atau mungkin bunga tidur.
“Hey, Ayu kamu sudah tidur ya? Aku pikir kamu menunggu suamimu.” Paksa Bobby mengukir tawa di bibirnya.
Dia kira istrinya mengerti apa maksud kalimat terakhir sebelum telepon berakhir, tapi Ayu tetaplah Ayu Jelita yang polos. Tidak langsung paham apa maksud tersirat dalam rangkaian kata-kata.
“Kamu bilang pulang minggu depan, tapi sekarang ada di depan kamar. Aku rasa mimpi ini terlalu indah. Ini ketiga kalinya aku mimpi kamu, Bob. Mungkin terlalu kangen.” Jawab Ayu dengan polosnya, tanpa tahu bahwa semua kenyataan.
Bobby mengulum senyum, tak menyangka istri yang beberapa waktu lalu terlihat tegas dan galak sekarang begitu manis, menggoda dan inilah Ayu yang dirindukan oleh Bobby.
“Boleh aku masuk? Suami kamu baru pulang Ayu, perjalanan dari Korea cukup jauh.” Lirih Bobby, sebagai mantan petualang cinta, ia tahu persis bagaimana menggoda wanita atau memohon sesuatu.
Tidak banyak kata, Ayu langsung membuka pintu lebar, masih tetap diam ketika Bobby masuk, menyimpan koper kecil di sudut ruangan. Pria bertubuh tegap itu memandangi putranya yang tidur sembari memeluk botol susu.
“Hi boy, Daddy sudah sampai, besok kita main ya.” Bisik Bobby sangat pelan, khawatir mengganggu lelapnya Ethan.
Sontak Ayu tersadar dan menutup mulutnya dengan satu tangan, kata-kata yang keluar dari bibirnya tadi sangat meresahkan. Ia merapatkan gigi atas dan bawah, dilanda gugup berlebihan. Seharusnya Ayu tahu kalau tadi benar-benar Bobby di dunia nyata bukan alam mimpi.
“Ayu kamu ini bagaimana?” lirihnya dalam hati, merasa malu. Apalagi sekarang Bobby melepas jaketnya dan tersenyum melihat Ayu yang diam mematung.
__ADS_1
Bobby terus mendekat semakin dekat, sampai hangat napasnya bisa Ayu rasakan, dan betapa kuat jantung dalam dada memompa darah.
Kalau bisa Ayu ingin berlari atau sembunyi di dalam lemari, seandainya bisa berubah bentuk pasti ia mengecil dan masuk ke salah satu laci menghindari suaminya yang sekarang menatap penuh damba.
“Aku mandi dulu ya sayang.” Bobby mencium pipi istrinya, berlalu ke kamar mandi.
Seketika Ayu bisa bernapas lega, dan tegangan tinggi dalam diri berkurang. Tapi sekarang dia bingung, antara tidur atau ke dapur mengambil air minum untuk suaminya.
Kamar tamu ini memang berbeda dari kamar utama, tidak ada stok air mineral atau lemari berisi aneka minuman.
Ayu seperti anak kecil tidak tahu arah, tidur pun rasa kantuknya hilang entah kemana, kalau menunggu Bobby dapat dipastikan seluruh anggota tubuh dalam keadaan tidak aman.
“Aku harus apa?” tanya Ayu sembari melihat cermin besar di dinding.
Cukup lama bagi seseorang mengambil keputusan, bayangkan lima belas menit disia-siakan hanya untuk menentukan pilihan. Bahkan Ayu masih setia berdiri di tempat yang sama.
Bobby yang baru saja keluar dari kamar mandi, ingin tertawa dengan semua tingkah istrinya yang menggemaskan malam ini.
“Ayu jangan, apa yang kamu pikirkan? Hentikan … tidak boleh, jangan.” Tukas Ayu Jelita dalam hati yang kini merasakan getaran berbeda. Jika sebelumnya ia tampak biasa saja, tapi malam ini benar-benar tidak bisa mengendalikan diri.
“Kamu kenapa Ayu? Jangan diam di sana. Ke sini sayang.” Bobby duduk di sisi ranjang sembari mengeringkan rambut.
“Hah? Aku mau ambil minum. Kamu pasti haus.” Ayu hanya menunjukkan deret gigi putih bersihnya.
Secepat kilat membalik tubuh mungilnya dan berusaha meraih handle pintu, tapi sayang Bobby tidak mengizinkan wanitanya keluar kamar.
Putra kedua Leo Armend itu menggiring istrinya untuk duduk di tepi kasur empuk, yang Bobby perlukan bukan air minum tapi kehadiran Ayu. Istrinya yang sangat ia rindukan tiga minggu ini.
“Kamu tahu, aku kangen kamu. Mungkin ini sepele, tapi benar Ayu, tiga minggu berjauhan itu menyiksa. Mungkin lain kali kita bisa pergi berdua ah ya bertiga dengan Ethan.” Ucap Bobby terus menyunggingkan senyum menatap wajah merah merona seorang Ayu Jelita.
__ADS_1
“Hey kamu kenapa? Hari ini terjadi sesuatu?” tanya Bobby, sebab Ayu menegang. Keringat dingin membasahi dua telapak tangannya.
“Oh bukan hal penting.” Gugup Ayu, menelan ludah yang begitu pekat.
Sejenak Bobby tertawa dalam hati, dia tahu istrinya merasakan hal berbeda, sama seperti dirinya. Lagipula mereka sudah sama-sama dewasa.
Bibir Bobby mendekati telinga Ayu. “Aku tahu kamu tegang sayang. Tenang kalau belum siap, bukan masalah. Lagi pula Ethan masih kecil untuk punya adik.” Kata-kata Bobby mengalun indah keluar dari bibir yang sengaja menghembuskan napas di balik daun telinga Ayu.
Sontak wanita muda itu berdesir, semakin menegang merasakan sesuatu.
“Kita tidur?” tanya Ayu begitu polos.
“Ya kita tidur.” Bobby mengangguk.
Sepasang suami istri yang memulai lembaran baru berbaring menatap langit-langit kamar.
Bobby senang, akhirnya hari ini datang, ia bisa menikmati dan menebus waktu yang terbuang bersama istri juga buah hatinya.
Bobby berjanji tidak ada wanita lain yang merusak rumah tangga mereka.
Sebelum terlelap Bobby menarik napas pelan lalu menghembuskan perlahan, ia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Tanpa sengaja bertemu dengan seseorang di masa lalu.
Dia senang melihat Clarissa bisa berjalan lagi dan tidak larut dalam kesedihan. Bahkan memulai karirnya sebagai perancang busana muda berbakat di Paris.
Bobby tidak ragu lagi atau merasakan sesuatu yang berbeda kepada Clarissa, karena sekarang hanya Ayu Jelita di hati Bobby Albern Armend, tapi sayang dia berusaha menutupi pertemuan itu, takut menyakiti hati istrinya atau mungkin Ayu memikirkan hal yang tidak-tidak.
TBC
__ADS_1