IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 86 - Menunggu Hasil


__ADS_3

BAB 86


Beberapa hari berlalu, Dariel tidak pernah menjauh dari Fredella. Mulai dari bangun tidur, mandi sampai sarapan semua dilakukan berdua. Sekalipun lelah, pria berdarah Eropa Asia itu tidak mengeluh sedetikpun, apalagi setelah mendapat banyak wejangan dari para orangtua, membuat matanya semakin terbuka, untuk memiliki seorang anak tidak mudah ditambah kondisi Fredella istimewa.


Dariel tidak pernah kekurangan akal untuk menghibur istrinya, dan Fredella selalu tertawa lepas melihat ulah suaminya, tentu saja Rico menjadi korban dari semua aksi jahil.


Keduanya kerap kali bertengkar, seperti kucing dan tikus. Awalnya Rico ingin menelan adik iparnya bulat-bulat tapi ternyata semua itu hiburan tersendiri bagi adiknya, sekarang Rico pasrah, semua demi Fredella dan calon keponakan.


Saat ini Rico di kamar Fredella, menemani Dariel bermain catur, tetapi siapa yang kalah bersedia mendapat hukuman apapun itu. Tentu saja mereka bermain catur digital dengan ponsel di tangan masing-masing, Fredella bertugas sebagai juri.


Wajah tampan dua pria itu berubah penuh warna, sebab Fredella mendandani keduanya menggunakan alat make up.


“Argh, kenapa aku kalah lagi. Kau pasti curang, benar kan adik ipar? Awas kau ya.” Rico bersiap menjewer telinga adik ipar yang sangat menyebalkan melebihi apapun.


“Brianna? Kenapa kamu bisa menikah dengan pria seperti ini? Kalau saja aku tahu adikku lebih awal pasti aku menentang hubungan kalian.” Ucap Rico hanya bercanda.


“Sayangnya terlambat, kami sudah menikah secara sah dimata hukum, tercatat di negara, susah kalau berpisah. Terima lah Rico, lagipula jarang ada kakak ipar seberuntung dirimu.” Kelakar Dariel mengoleskan pewarna bibir di pipi Rico.


“Hey, apanya yang beruntung? Justru sangat tidak beruntung, kau itu menyusahkan.” Balas Rico cukup sengit, menaburkan bedak di rambut adik iparnya.


“Rico, rambutku. Akh kau ini benar-benar keterlaluan.”


Dariel dan kakak iparnya bertengkar di kamar, disaksikan oleh Fredella yang hanya bisa menggelengkan kepala.


“Bagaimana kalau kita bersaing, siapa yang paling kuat menahan udara dingin, aku yakin kau kalah, cepat kita keluar.” Tantang Rico seperti kedua bocah yang memperebutkan sesuatu.


“Ok, siapa takut. Kau tidak lihat otot ini? Jangan salah Rico, aku itu kuat.” Dariel bahkan membuka kaosnya dan melempar asal. “Sekarang juga kita keluar.”


“Dariel!! Jangan, kamu lupa, nanti aku sendirian di kamar.”

__ADS_1


Dariel adalah pria lemah yang tidak bisa melihat istrinya cemberut, dan akan menuruti semua keinginan Fredella.


“See, adikmu sendiri yang melarangku, dia sangat mencintai suaminya. Terima kasih sayang.” Dariel memeluk Fredella dan menghujani banyak ciuman di wajahnya.


“Kalian benar-benar menjijikan.” Rico berdecak sebal, sebelum keluar kamar menyempatkan memukul kepala Dariel.


“Dasar kakak ipar akhlakless.” Ucap Dariel spontan.


“Apa itu Dariel? Aku baru pertama mendengarnya.” Fredella mendongak melihat wajah Dariel yang sedikit kesal, seketika tersenyum setelah melihat kerlingan mata hazel istrinya.


“Ah itu lupakan sayang, jangan didengar.” Dariel mengulas senyum terbaiknya.


**


Beberapa minggu di lalui Dariel dan Fredella tidak mudah. Rasa mual semakin kuat dan berlebihan, makanan yang telah di takar oleh tim ahli gizi hanya dimakan sangat sedikit, tidak lebih dari lima sendok makan.


“Kamu yakin, kita pergi ke rumah sakit lain? Bukannya sama saja ya?” Tanya Fredella memegangi perutnya yang sedikit membesar.


“Iya, Dokter Spesialis Kandungan yang aku cari ternyata membuka praktik di klinik pribadi, dia hanya ada di rumah sabtu dan minggu.


Sekarang kamu ganti baju dan pakai mantel, ah ya juga kaos kaki, di luar dingin, aku tunggu di sini.” Dariel tidak membuang waktu, ia menunggu sembari membuka MacBook-nya, melihat laporan keuangan yang dikirim oleh Asisten Indra.


Sekalipun Papa Ray membantu, tetapi tugasnya tidak ia lepas begitu saja. Bayangkan satu bulan lebih tidak mengunjungi hotel dan cafe, membuat hari-harinya sedikit hampa. Sebab Dariel seorang workaholic, untuk itu dia menyibukkan diri dengan segala keperluan Fredella.


“Dariel aku siap, ayo berangkat.” Fredella meraih tangan Dariel dan bergelayut manja menyandarkan kepala.


“Nyonya manja sekali, bagaimana kalau aku pergi jauh, apa kamu bisa tidur?”


“Memang mau kemana? Kamu mau pergi?” Fredella langsung melepas tangan suaminya. Berjalan mendahului Dariel, seketika suasana hatinya berubah menjadi kesal.

__ADS_1


“Sayang tunggu, ya mungkin satu atau dua bulan lagi, aku harus pulang ke Jakarta, hanya satu minggu. Ini semua juga demi masa depan kita.” Memeluk istri manjanya dari belakang, sebenarnya Dariel berat mengatakan rencana kepulangannya, tapi dari pada mendadak lebih baik dibicarakan dari jauh hari.


“Hanya satu minggu? Itu artinya tujuh hari kan? Dan selama 168 jam kita tidak bertemu, kamu jahat.” Mendadak ibu hamil ini menangis, tidak rela suaminya pergi satu hari pun.


“Iya sayang masih lama, jangan menangis nanti baby kita sedih. Ayo dokter sudah menunggu lama.” Akhirnya Dariel menggendong Fredella turun ke lantai satu dan garasi mobil.


**


Tiba di Klinik


Semua sepi tidak ada satupun pasien, sebab Dariel sengaja membuat tempat ini sepi. Ia ingin leluasa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan sekaligus Fetomaternal.


Semua keluhan mulai disampaikan, meskipun dokter tahu, tetap ingin mendengar secara langsung dari pasien. Fredella sempat tersendat menyampaikan apa yang ia rasakan, karena bibirnya tidak kuasa menyebutkan kata kramat itu.


“Tidak apa Nyonya, kalau memang tidak bisa, jangan dipaksa. Nanti saya periksa semua keluhan Nyonya. Saya minta izin untuk mengambil sampel darah anda.” Izin Dokter, mengeluarkan jarum suntik dari segel dan mengambil sedikit darah, lalu menuangkan dalam tabung kecil.


Fredella mulai berbaring di atas ranjang kecil, tidak di pungkiri kondisi sepasang suami istri itu berubah menjadi tegang karena menunggu hasil pemeriksaan. Dalam hati Dariel memanjatkan doa , begitupun dengan Fredella, karena segala usaha telah dilakukan sekarang tersisa keajaiban yang mereka tunggu.


Seandainya tidak sesuai apa yang mereka harapkan, maka tindakan segera dilakukan, pembersihan rahim dari kehamilan yang gagal berkembang. Namun sebaliknya, jika janin itu tumbuh dan berkembang maka tugas Dariel menjaga anak serta istrinya, bagaimanapun kandungan Fredella lemah membutuhkan pengawasan lebih.


Dokter mengulas senyum berusaha menenangkan pasien, “Tenang Nyonya, jangan tegang.”


Tautan tangan Dariel dan Fredella tidak terlepas, keringat dingin mulai menjalar ke telapak tangan keduanya.


Dokter mulai mengeluarkan gel bening ke atas kulit perut, menggunakan alat khusus USG yang berputar-putar.


Sesekali Dariel melirik dokter, memperhatikan perubahan ekspresi pada wajah wanita paruh baya itu. Hati Dariel semakin tidak tentu rasanya ketika melihat dokter mengerutkan alis, tampak serius melihat layar di depannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2