
BAB 92
Akhirnya Ayu kembali, memutar tubuhnya. Mungkin kalau Bobby telah siap bertemu dan menerimanya, pasti langsung menemui di kamar, bukan diam dalam kegelapan, pikir Ayu.
Tidak lama setelah Ayu naik, samar-samar mendengar nama suaminya disebut. Seketika Ayu menoleh dan menajamkan pendengaran.
Dia berlari pelan menuju pintu kaca yang terbuka, diamati lekat-lekat, rupanya pria yang berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana itu adalah kakak iparnya, Barra Alexander Armend. Suara mereka sangat mirip, untung saja Ayu tidak memeluk kakak iparnya dari belakang.
“Mami, pulang ya. Di rumah ada cucu mami, wajahnya mirip Bobby. Cucu Mami juga belum punya nama, jangan sampai nasibnya seperti aku mih. Aku jemput sekarang juga ya.” Suara lembut Barra membujuk Mami Kezia.
“Kenapa Mami Kezia, apa yang terjadi?” Ayu bertanya dalam hati, ia masih betah mendengarkan setiap untaian kata yang masuk ke dalam telinganya.
“Bobby masih belum siuman mih? Besok pagi aku ke sana bawa pakaian ganti untuk Mami. Ah Brady tidak ada di rumah, biar saja anak itu sudah besar, nanti juga pulang sendiri.” Tutur Barra.
DEG
“Bobby? Siuman? Jadi selama ini Bobby sakit?” Tangis Ayu, membekap mulut dengan kedua tangan. Pikirannya kalut, seberapa kuat usaha Ayu meredam suara tetap saja Barra mendengarnya.
Kakak ipar Ayu langsung menoleh dan menyalakan semua lampu, pasti wanita yang baru saja melahirkan itu mendengar semuanya, tidak mungkin kan Ayu menangis tanpa sebab? Pasti ada pemicunya.
“Hey ... Ayu ada apa? Apa yang kau rasakan? Tidak enak badan? Ayo kembali ke kamar, jangan diam di sini, angin malam tidak baik bagi wanita.” Barra memapah adik iparnya masuk, menaiki tangga dan melangkah menuju kamar.
Kata ‘siuman’ berputar kembali dalam benak Ayu, langkah kakinya terhenti dan menoleh ke samping.
“Kak? Ayu boleh tanya sesuatu?” Ucap Ayu sangat sungkan, sebab usia Barra jauh di atasnya.
Tanpa persetujuan apapun, Ayu langsung bertanya, ia penasaran di mana Bobby. Kalau di rumah sakit, kenapa tidak ada satupun keluarga yang memberitahunya. Apa Ayu tidak ada artinya sama sekali bagi keluarga ini?
“Di mana Bobby kak? Apa yang terjadi, sakit apa? Ayu mohon kakak jawab dengan jujur.” Suara Ayu serak, bergetar dan tidak kuasa menahan kesedihan.
__ADS_1
Tentu saja Barra tidak tega melihat keadaan adik iparnya, bagaimanapun Ayu adalah istri Bobby. Jadi cepat atau lambat, harus tahu kondisi sebenarnya yang menimpa Bobby.
Barra belum menjawab, pria ini menggiring Ayu duduk di sofa. Membuat adiknya senyaman mungkin sebelum menyampaikan kabar menyakitkan.
“Jawab kak, ada apa? Kemana Bobby?” Ayu memohon, mengiba di hadapan Barra.
“Ayu?” Barra duduk di hadapan Ayu, menggenggam kedua tangan adik iparnya.
“Bobby mengalami kecelakaan di hari yang sama dengan kamu melahirkan, dia ada di GB Hospital, operasi sudah dilakukan tapi masih belum bangun. Menurut hasil pemeriksaan, Bobby koma. Dia tidak merespon apapun.” Sulit bagi Barra menjelaskan keadaan Bobby, ia juga mengkhawatirkan Ayu, takut terjadi sesuatu dan berakibat fatal sebab mental ibu muda ini menjadi terganggu.
Ayu bergeming, tatapannya kosong, air mata mengalir deras. Berulang kali Barra memanggil tidak ada tanggapan apapun yang diberikan Ayu.
“Ayu? Maaf. Bukan maksud kami untuk menutupi kebenaran, tapi kamu baru saja melahirkan. Kami tidak mau kamu jatuh sakit karena memikirkan Bobby.” Ucap Barra memberi alasan masuk akal.
“Kak boleh Ayu bertemu Bobby? Jadi Bobby sama sekali belum tahu kalau anaknya sudah lahir?.” Tanya Ayu, ia merasa bersalah sempat memiliki pikiran buruk tentang suaminya. Ternyata Bobby bukan pergi bersama wanita lain, melainkan terbaring di rumah sakit.
Barra membantu Ayu bangun, karena keponakannya menangis di dalam kamar, namun tubuh Ayu yang lemah tiba-tiba terjatuh nyaris membentur lantai, seandainya Barra tidak sigap menangkap adiknya.
Barra menatap pilu bayi kecil menangis, ia tidak kuasa melakukan apapun.
“Tangani keponakanku, jaga dia. Jangan sampai keponakanku sakit, mengerti!” perintah Barra kepada baby sitter.
Ayu tidak sadarkan diri sampai dokter datang memeriksa kesehatan ibu muda itu. Diharuskan istirahat selama satu minggu, karena bebahaya jika terjadi pendarahan, akibatnya fatal. Terpaksa Ayu menurut semua anjuran dokter.
**
Tiga minggu kemudian
Setelah sehat dan dinyatakan stabil oleh dokter, akhirnya hari ini Ayu bisa mengunjungi rumah sakit. Dari semalam tidak bisa tidur, selalu memikirkan Bobby.
__ADS_1
Ayu duduk menunggu adik iparnya siap untuk mengantar ke rumah sakit. Awalnya Brady menolak mengantar Ayu tetapi karena tidak tega akhirnya bersedia menjadi pengawal sekaligus sopir kakak iparnya.
“Heh, Ayo cepat. Aku tunggu di mobil satu menit, jangan lama.” Ketus Brady membawa beberapa pakaian ganti Mami Kezia dan Papi Leo. Kedua orangtua itu tidak pulang ke rumah selama tiga minggu ini. Papi Leo setia menemani istrinya di rumah sakit.
“Brady tunggu, aku tidak bisa berjalan cepat. Apa kamu tidak bisa pelan sedikit?” Gerutu Ayu, mengejar adiknya yang sudah masuk mobil.
Brady mulai melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit, dalam perjalanan tidak ada sepatah kata diantara Ayu dan adik iparnya. Bukan karena tidak ingin, tetapi Brady melarang kakak ipar untuk bicara dan berisik di dalam mobilnya
“Brady bisa lebih cepat? Maaf.” Ucap Ayu tanpa sadar. Kemudian menutup mulutnya, melihat ke sisi kiri setelah mendapat tatapan tajam dari adik iparnya.
“Tidak tahu malu, sudah minta tolong sekarang main memberi perintah.” Geram Brady sengaja meninggikan suara.
Akhirnya mobil melaju cepat sesuai keinginan Ayu, sampai ibu muda itu menjerit ketakutan, dan berpegangan.
Hanya memerlukan waktu sepuluh menit sampai keduanya tiba di rumah sakit, Ayu gemetaran akibat ulah adik iparnya.
“Semoga Bobby cepat bangun, aku tidak mau repot menjadi sopir istrinya, kalau tahu seperti ini lebih baik aku kembali ke London.” Ketus Brady membantu Ayu turun, memapah wanita mudah ini berjalan melewati lorong demi lorong sampai tiba di depan ruang ICU.
Ayu menangis, ketika perawat mengizinkannya masuk menjenguk Bobby.
Tapi satu tangan menahan pergerakan kaki ibu satu anak itu, Ayu menoleh dan melihat ibu mertuanya tampak lesu, kurang tidur dan menatap tajam.
“Mami? Mami apa kabar? Ethan di rumah, kangen Mami.” Pungkas Ayu, hanya sekadar basa basi, sebenarnya untuk menutupi keterkejutannya dan rasa canggung, selama tiga minggu tidak bertemu.
“Mau apa kamu ke sini? Sebaiknya kamu pergi, jangan ketemu Bobby, semua ini karena kamu. Seharusnya kamu tidak masuk ke kehidupan Bobby.” Ucap Mami Kezia, sontak dada Ayu merasa nyeri mendengar penolakan ibu mertua.
“Ayu mau lihat Bobby, mih.” Ayu tidak diam, ia masih istrinya Bobby dan berhak menjenguk suaminya.
“Pergi! Pergi sekarang juga Ayu. Bobby tidak membutuhkan perempuan seperti kamu.” Hardik Mami Kezia, mendorong Ayu keluar ruangan.
__ADS_1
TBC