
BAB 105
Ayu tidak kuasa memandang pria yang sangat ingin dihindari sekaligus dirindukan dalam hati. Bobby Albern Armend mencari keberadaan istrinya, setelah bisa berjalan dan tangan patahnya sembuh. Ia mencari Ayu ke sudut negeri, tapi dia mencurigai istrinya benar-benar pergi jauh.
Bobby memaksa kakaknya memberitahu dimana keberadaan Ayu, sampai akhirnya memutuskan menjemput istri dan anaknya pulang.
“Lama tidak ketemu, benar kan?” tanya Bobby, tatapannya tidak berpaling sedikitpun dari paras cantik dan manis Ayu Jelita. Apalagi wanita ini merubah penampilannya, semenjak kerja di rumah mode, Ayu tidak lagi terlihat seperti gadis desa, ditambah sentuhan Fredella membuat Ayu semakin berbeda.
“Ya” jawab Ayu setengah hati. Pikirannya selalu dipenuhi kejadian-kejadian buruk, seperti saat ini. Ayu takut Bobby mengambil Ethan, demi apapun tidak mau sampai berpisah dengan putra kesayangannya.
“Dia Ethan, putra kita benar kan sayang?” Bobby semakin mendekat, ciri khas senyum memikatnya terukir jelas di bibir putra kedua Leo Armend ini.
“Ya” jawab Ayu satu kata. Mungkin Bobby dan siapapun itu pasti menyangka Ayu marah , tapi dalam hati berusaha menahan rasa sedih dan takut. Bayang-bayang sikap Bobby yang hanya menjadikannya pelampiasan sangat membekas di kepala Ayu.
“Boleh aku gendong Ethan? Dia sudah besar ya, selama ini juga aku tidak ada di kehidupan kalian berdua, maaf.” Tutur Bobby, membuka kedua tangan, berharap istrinya ini memberi izin.
Namun yang terjadi sebaliknya, Ayu semakin erat menggendong putranya. Dia menggeleng kepala cepat, menolak permintaan suaminya.
Ayu memang lemah tapi untuk masalah anak, dia tidak mau mengalah sama sekali. Dia ibunya, dia hamil dan melahirkan tanpa Bobby, merawat Ethan seorang diri.
Ditambah bayang-bayang Clarissa yang kini telah kembali sempurna memenuhi benak Ayu, ia tidak mau anaknya hidup bersama orang lain. Ayu takut berlebihan, apalagi Mami Kezia tidak menerima sebagai menantu. Pasti akan ada seorang wanita yang menggantikan statusnya.
Bobby tersenyum kecut menerima tanggapan Ayu. Dia akui tidak mudah mendapat kepercayaan seorang Ayu Jelita. Hatinya yang tulus terlanjur karam, tidak bisa lagi kembali seperti semula.
__ADS_1
“Kalau begitu, boleh kita bicara berdua? Mau kan?” Bobby berusaha memelankan suaranya, ia tidak ingin terdengar memaksa Ayu meskipun sedang melakukannya.
Cukup lama Bobby menunggu, istrinya hanya diam membisu. Menatap mata pun tidak, lebih memilih menghindari dari sorot mata yang mungkin akan menggoyahkan seorang Ayu Jelita.
“Oma, Bobby mau titip Ethan, bisa Oma?” sungguh pria ini sangat merindukan istrinya, tidak tahan mengabaikan Ayu. Ingin memeluk raga yang selalu disakiti sampai pergi sejauh ini.
Oma Anggi membawa Ethan masuk ke dalam, meninggalkan sepasang suami istri yang tengah dilanda masalah.
Memastikan hanya mereka berdua di ruangan ini, tak membuang waktu, Bobby memeluk istrinya. Begitu erat, berharap waktu terhenti sebentar saja.
“Aku kangen kamu Ayu, maaf … maafkan suami bodohmu ini, aku baru sadar hanya kamu di hati, bukan yang lain. Aku tidak menyadari sejak awal sudah mencintai ibu dari anakku.” Ungkap Bobby, merasakan begitu sakitnya kehilangan sosok wanita yang selalu ada di sampingnya.
Boleh Ayu menjadi istri yang jahat?
Dia mendorong Bobby sampai pelukan terlepas, menguatkan hati, berani melihat wajah suaminya. Ayu mengulas senyum tipis, meraih kedua tangan Bobby kemudian melepaskan sesuatu dari jari manisnya, benda itu di simpan di atas telapak tangan Bobby.
Tapi Ayu tidak bisa hidup bersama Bobby sekalipun masih memendam perasaan sayang.
Ayu mengeluarkan kartu dari dala. dompet, benda berharga berisi uang yang mungkin cukup sampai Ethan besar tapi sepeserpun tidak pernah Ayu gunakan. Rasanya tidak pantas mengambil apa yang bukan haknya.
“Ini, aku kembalikan. Terima kasih, tapi kamu jangan khawatir, aku tidak mengambil atau menguras isinya.” Ayu memutar tubuh dan berjalan cepat meninggalkan Bobby dalam kebingungan.
Ayu masuk kamar, ia menangis, menumpahkan apa yang ditahannya sejak tadi. Ingin dituruti semua permintaan Bobby tapi kepalanya menolak keras.
__ADS_1
Ayu tidak mau lagi hidup bersama suami yang masih terikat dengan masa lalu dan hanya menganggap pernikahan sebagai bentuk tanggung jawab karena hadirnya Ethan.
“Aku menyerah, lebih baik mengalah. Jangan datang lagi, pergilah Bobby.” Lirih Ayu dalam kamar, meringkuk di atas ranjang.
Sementara di ruang tamu, Bobby masih melihat cincin pernikahan dan black card di telapak tangannya. Apa ini rasanya, sesakit ini mendapat penolakan dari wanita yang dia cintai?
“Aku belum menyerah Ayu, aku tidak kalah. Tidak ada perpisahan, kita akan merawat Ethan sampai besar.” Ucap Bobby, mencari keberadaan Ethan dalam mansion utama. Memohon izin kepada Oma untuk sekedar mencium putranya.
“Jagoan, maafkan Daddy. Sekarang, jaga Mama ya, hidup dengan baik di sini. Daddy menyayangimu Ethan. Aku akan pastikan kita bertiga hidup dalam satu atap.” Bobby membelai kepala Ethan, merutuki diri sendiri, tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik.
Semua salahnya bermain hati, sampai harus kehilangan tiga orang yang disayangi.
Bobby tidak akan berlari menjauh, apalagi menghapus jejak Ayu sebagai istrinya. Semua akan dibenahi satu per satu.
“Oma, maaf. Bobby titip Ayu dan Ethan. Makasih sudah menjaga istri dan anak Bobby.” Bobby meneteskan air mata, seharusnya Mami Kezia dan Papi Leo yang merawat Ayu serta Ethan bukan orang lain.
“Iya, selesaikan masalah kamu. Apapun itu oma yakin hasilnya yang terbaik untuk kalian berdua.” Tutur Oma Anggi.
Bobby mengangguk pelan dan pamit undur diri.
Di luar mansion, dia menatap ke arah jendela yang dapat dipastikan salah satunya kamar Ayu.
“Aku pulang sayang.” Lirih Bobby kemudian membawa kendaraannya keluar dari pagar yang menjulang tinggi.
__ADS_1
TBC