
-------------------------------------------
Selamat tinggal cintaku,
nafasku
separuh jiwaku
...
Setelah jauh darimu, aku tidak yakin apakah hidupku, akan seperti hidup lagi.
-------------------------------------------
📍Winsle County Town House, Gyeonggi-do, Seoul.
1 minggu kemudian.
“Bagaimana? Aku yakin kau akan betah disini Bianca...”
“Ya ini, tempat yang nyaman, yah... Terima kasih. Maaf membuat kalian susah, demiku. ”
“Hei, kau ini putriku sayang. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan putri kesayanganku... ”
“Ibu tidak masalah pergi kemanapun, asal kau bahagia...” Sahut Larasti.
“Disini kita bisa memulai semuanya dari awal..” Lanjut Larasati lagi.
*Ya disini aku bisa memulai semuanya dari awal, dengan hidup yang lebih baik, bahkan 1000 kali lipat dari kebahagianku sebelumnya. Tanpa bayang-bayangnya lagi.
Aku bisa, aku harus bisa...
Demi Ayah dan Ibu. Aku harus bahagia*.
"Bagaimana dengan pekerjaan ayah disana?.” Tanya Bianca. Tentu saja tidak mungkin bagi Darmawansa harus bolak-balik mengurus semuanya sendiri, pikirnya.
“Jangan khawatirkan itu, aku sudah mengurus semuanya Nak... yang penting kau tenang disini. ” Yakin Darmawansa, kepada putrinya.
__ADS_1
“Baiklah, tapi jika ini membebankanmu. Aku tidak masalah jika kita kembali.. ”
“Ayah lebih suka kau tetap berada disini Bianca. Jangan khawatirkan aku, perhatikan kesehatanmu dan bayi dikandunganmu. Dia membutuhkanmu, jadi bertahanlah deminya.”
~Flashback on~
Malam itu tepat tengah malam.
Malam dimana aku hampir kehilangan buah cintaku dan Aditya. Semua orang mengatakan bahwa anakku sudah tidak bisa diselamatkan. Denyut jantungnya sudah tidak terdengar lagi. Satu-satunya yang harus dilakukan saat itu, adalah kuret, dimana rahimku harus segera dibersihkan.
“Tidak... bayiku tidak, itu tidak mungkin dokter...”
“Aaaarrrrghhhh... tidak jangan bayiku. Kumohon jangan bayiku. Itu tidak mungkin. Ini hanya mimpi...kumohon siapapun bangunkan aku. ”
“Nak bersabarlah... Tenanglah Bianca.” Ucap Ibuku, yang ikut menenangkanku. Sementara Ayahku, dia menunggu diluar. Aku tahu dia tidak akan sanggup melihatku menangis bahkan sudah sangat histeris.
"Anak Bianca bu... Ini semua salah Bianca. Aku ibu yang jahat, aku berdosa. Aku yang membunuhnya... ” Tangisku.
“Tidak jangan seperti itu Bianca. Ini takdir yang kuasa. Bukan salahmu.. ”
“Dokter kumohon, lakukan sekali lagi, aku yakin anakku masih ada, kau salah... di masih ada dokter... ” Aku terus memaksa, meskipun itu hanya sebuah harapan kosong.
“Baiklah kita lakukan sekali lagi. Namun apapun hasilnya, anda harus tetap menerima kenyataanya nyonya...” Seru dokter yang menangganiku, didamping dengan beberapa perawat disana.
Alat itu mulai diletakan diperutku lagi, dia mengesernya hampir mengitari semua daerah perutku, namun tidak ada suara apapun yang didapatkan. Aku benar-benar kehilangan bayiku, itulah kenyataanya.
Deg...Deg... Deg... Deg...
Suara itu tiba-tiba terdengar.
“Dokter katakan bahwa itu suara denyut jantung bayiku? Iyakan dokter..? .” Tanyaku meyakinakan bahwa apa yang kudengar adalah benar.
Deg... Deg... Deg... Deg...
“Mujizat terjadi padamu nyonya... bayimu kembali.”
“Ibu... kau dengar, bayiku selamat. Dia masih ada disini bersama kita...” Aku terus menangis tak henti-hentinya.
__ADS_1
“Suaranya masih terdengar lemah, anda harus disini. Agar kami bisa memantau keadaan janinmu... ” Jelasnya padaku.
“Lakukan apapun, selama itu yang terbaik untuk bayiku dokter... ” Ucapku haru.
~Flashback off~
Hampir saja aku benar-benar gila. Aku sudah kehilangan Aditya, aku tidak mungkin harus kehilangan bayiku juga.
Aku tidak masalah kehilangan apapun, selagi bayiku baik-baik saja, bahkan nyawaku sekalipun akanku pertaruhkan untuknya.
Satu hal yang begitu ku sesali hari itu, hanya karena berlarut-larut dalam kesedihan, aku melupakan bayiku. Bahkan Aditya yang seharusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku, sama sekali tidak menampakan diri, untuk memastikan keadaanku dan bayi kami lagi.
Aku masih sangat ingat, saat Aditya begitu bahagia, saat aku mengatakan tentang kehamilanku. Dia sangat bersemangat sekali saat mengatakan bahwa dia akan menjadi seorang ayah. Namun sekarang aku yakin, dia tidak benar-benar mengatakanya. Aditya sama sekali tidak menginginkan kami...
Bahkan sampai aku meninggalkan kota itu, dia sama sekali tidak pernah datang untuk menahanku lagi.
Sementara itu di Garden House.
Setelah hampir sebulan lebih menjalani pengobatan intensif di rumah sakit, akhirnya Aditya dapat pulang ke Garden House. Tidak ada yang berubah dengan tempat itu, semua masih sama, hanya saja dia kehilangan sosok wanita yang dicintainya disini.
~Aditya Pov~
Jika berpikir kembali kebelakang, seharusnya kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Seandainya saja sejak awal hanya ada aku dan Bianca. Seandainya saja Kirana tidak pernah ada, atau Eric, atau siapapun. Mungkin pernikahanku akan baik-baik saja.
Dan Bianca. Dia juga tidak perlu bersedih karena kehilangan bayi kami.
Apa aku suami dan ayah yang buruk ? Aku kehilangan keduanya.
Sudah hampir beberapa hari, William tidak mendapatkan berita apapun tentangnya. Kemana kau sebenarnya Bianca ?
Apa kau benar-benar tidak mencintaiku lagi. Secepat inikah semuanya berakhir. Aku tidak pernah mengijinkan mu pergi, tidak akan pernah.
Aku sangat ingin memelukmu Bianca, aku tahu kau pasti begitu terluka. Bayi Kita pergi dan aku tidak ada disampingmu. Seandainya malam itu aku tidak mengalami kecelakaan bodoh itu, kita tidak akan kehilangan bayi kita. Aku terlambat...
Maafkan aku sayang...
__ADS_1
Aku begitu menyesal, atas apapun yang terjadi padamu.
______________💔💔💔💔💔______________