
Wanita cantik itu, terus menangisi pria yang telah dengan tega meninggalkanya.
Kirana Pov
Akhirnya, yangku takuti selama ini terjadi juga, dia jatuh cinta pada Istrinya.
Apakah ini adil bagiku? Aku kira dengan bersabar takdir akan berpihak padaku dan Aditya.
Apa artiku baginya, kenapa begitu mudah untuk Aditya melepaskanku.
Kenapa Tuhan tidak adil? Akulah orang yang menemani Aditya bertahun-tahun, susah payahku korbankan semua perasaanku, merelakan pria yang kucintai dengan sepenuh hati menikahi wanita lain selama setahun terakhir ini.
Apa kau pikir itu hal mudah? Hanya karena Aditya aku mau melakukanya, menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri, kalian pikir aku begitu puas melakukanya?
Kenapa Bianca menghancurkan mimpiku...
Dia mengambil Aditya, dia mengambil hati dan cintanya. Wanita serakah itu, aku sangat membencinya.
Aditya melangkah keluar dari Barington Apartemen
"Tuan apa kita kembali kekantor sekarang?."
"Tidak. Kita ke Garden House saja !."
"Bagaimana dengan nona Kirana tuan?."
"Dia baik-baik saja, hanya saja.... sudah lupakan saja. Aku ingin segera pulang." Ucap Aditya sambil memijat ringan dahinya. Seperti sedang terbeban dengan suatu hal.
Meskipun William tidak mengetahui apa yang terjadi pada Aditya, tapi wajah Aditya sudah bisa mewakili semua pertanyaan yang ada dibenak William.
Drettt... Drettt... Drettt.... suara ponsel Aditya bergetar disana tertera nama Kirana❤ bahkan Aditya masih belum mengubah nama Kirana setelah mengakhiri hubungan mereka.
"Adit, kumohon jangan pergi.... Kau tidak boleh seegois ini. Setelah menahanku untuk tetap bersammu, kenapa kau membuangku begitu saja? Ku mohon jangan pergi, aku tidak ingin berpisah Aditya. Aku tidak apa jika hanya menjadi simpanamu, aku tidak keberatan, jadi bertahanlah..." Mohon Kirana.
"Kirana kumohon jangan seperti ini." Pinta Aditya.
"Tidak. aku akan terus begini sampai kau menarik kembali ucapanmu." Ancam Kirana.
"Kau wanita baik Kirana, aku tidak pernah menyesal memilikimu, kau wanita pertama yang sangat mengerti dan memahamiku. Kau harus mengerti ini juga tidak mudah bagiku, bahkan aku selalu meyakini hatiku bahwa hanya kau milikku satu-satunya."
__ADS_1
"Lantas jika aku adalah wanita satu-satunya, kenapa kau ingin berpisah?."
"Nyatanya kau bukan satu-satunya sekarang. Ada Bianca dan dirimu. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mencintai Bianca.." Ucap Aditya menjelaskan keadaan yang ada saat ini.
"Lalu kau mencintainya sekarang?." Tanya Kirana.
"Maafkan aku. Aku mencintai Bianca." Ucap Aditya mengakui isi hatinya sekarang.
"Bagaimana denganku, kau tidak mencintaiku lagi, tidak ada satupun arti diriku bagi dirimu lagi?."
"Tentu kau berarti, bertahun-tahun bukan waktu yang sebentar. Kau tahu pasti tentang itu ! Tapi aku tidak bisa Kirana. Semakin aku teruskan semakin aku tersiksa dengan rasa bersalah yang besar. Aku ingin menjadi suami yang baik untuknya, sudah cukup mengkhianati Bianca. Jadi mari kita akhir saja, ini yang terbaik."
Tutt. Tutt. Tutt. Tutt. Panggilan diakhir begitu saja oleh Kirana.
"Berpura-puralah kau tidak mendengarkan apapun William !!!." Titah Aditya.
Aditya Pov
Ini keputusan yang tepat Aditya, jika kau teruskan itulah yang akan membuatnya semakin salah.
Aku sudah mengatakan pada diriku sendiri, begitu aku mendapatkan jawaban untuk perasaanku, maka saat itu tidak akan pernah kulepaskan orang itu.
Kini aku mendapatkannya, wanita itu adalah Bianca.
Ya benar aku egois, Kirana benar tentang diriku. Aku tidak masalah jika dia membenciku sekarang. Dia berhak mengtutuk dan memaki pria sepertiku.
Sejujurnya aku tidak menyesal mengakhirnya.
Aku tidak tahu, tapi itu terasa mudah. Mungkin benar saat ini hatiku telah masuk pada tahap mati rasa pada wanita itu.
Mobil Aditya sudah masuk kedalam halaman Garden House, anehnya karena terlalu banyak memikirkan masalahnya Aditya sampai tidak menyadari bahwa mobil itu sudah berhenti tepat dihalaman dalam.
"Tuan. Kita sudah sampai." William kembali menyadarkan Aditya.
Aditya segera turun dan masuk kedalam, meninggalkan William begitu saja, tentu saja itu hal biasa baginya.
Pria itu langsung mencari keberadaan istrinya, hanya dengan melihatnya saja perasaan Aditya bisa lebih baik.
"Bianca." Panggilnya. Namun tidak ada balasan dari seseorang yang dicarinya itu. Kamana dia? Apa dia sedang keluar? sambil betanya dalam hati, Aditya terus mencari keberadaan istrinya itu.
__ADS_1
Tentu saja dia disini! Aditya melihat wanita itu tertidur dikamar lamanya. Ini pertama kalinya Aditya menyadari bahwa tempat yang selama ini diberikannya untuk Bianca tempati sangatlah tidak layak, bahkan ini tidak cocok disebut kamar, ini gudang. Perlahan dia mendekati wanita yang masih terlelap itu.
"Sayang bangunlah." Ucap Aditya pelan agar tidak mengagetkannya.
"Adit..." Ucap Bianca. Membuka mata perlahan.
"Apa yang kau lakukan disini, kamar kita disana sayang. Disana lebih nyaman." Jelas Aditya
"Aku hanya belum terbiasa, kadang aku merasa disini lebih nyaman."
"Jangan lagi Bianca." Ucap Aditya kemudia membopong tubuh Bianca kembali kekamar mereka.
"Aditya turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri."
"Peganglah nanti kau bisa jatuh." Titah Aditya, membuat Bianca melingkarkan kedua tanganya dileher Aditya.
"Disini kau seharusnya." Ucap Aditya merebahkan tubuh kecil istrinya diatas kasur berukuran king size yang berada dikamar mereka. Bianca menatap bingung pada suaminya itu, tidak seperti biasanya dia pulang secepat ini.
"Aku mandi dulu sayang." Ucap Aditya sebelum dia memasuki kamar mandi, dan mencium bibir Bianca sekilas.
Namun firasat Bianca berkata lain, dia bisa dengan jelas melihat bahawa ada sesuatu yang sedang menggangu pikiran suaminya. Apakah sedang ada masalah dikantor sekarang? pikir Bianca menebak yang terjadi pada Aditya, sebelum bertanya langsung pada suaminya itu nanti.
Beberapa menit kemudian Aditya keluar dari kamar mandi, matanya menatap ke arah Bianca. Wanita itu langsung bereaksi duduk dan menatap kearah suaminya yang bertelanjang dada dan masih melilitkan handuk dipinggangnya.
"Aditya tampak seksi sekali lihat saja tubuh atletisnya terlihat dengan jelas, otot-ototnya juga sangat sempurna" Bianca memuji Aditya dalam hatinya.
"Apa yang kau pikirkan Istriku, apa kau ingin memakanku?." Tanya Aditya menggoda Bianca, sehingga membuat pipi Bianca menjadi merah merona karena merasa malu.
"Hah, tidak.. Aku mau memakanmu, apa kau begitu lezat." Elak Bianca.
"Hemmm... benarkah sayang? aku meragu" Aditya terus menggoda istrinya itu
"Capat pakai bajumu ! ." Titah Bianca
Aditya langsung menjatuhkan handuknya begitu saja, sehingga membuat Bianca menutup wajahnya dengan tangan. Sebenarnya Aditya sengaja melakukanya, untuk mengerjai Bianca.
"Adit cepat pakai handuk mu kembali." Ucap Bianca masih menutup wajahnya.
"Bukankah kau menyuruhku, memakai baju, aku sedang melakukanya sayang. Apa kau malu melihat suamimu sendiri telanjang dihadapanmu." Aditya terkekeh dengan reaksi konyol istrinya itu.
__ADS_1
"Bukalah matamu sayang." Aditya menurunkan tangan yang menutupi wajah Bianca. Bianca tidak dapat menolak dan mengikuti kemauan suaminya itu. Tentu saja Aditya sudah megenakan baju sekarang.
Lagi-lagi Aditya terus mengoda istrinya itu.