IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 99 - Terus Berusaha


__ADS_3

BAB 99


Satu minggu setelah bangun dari tidur panjang. Bobby Armend bisa pulang ke rumah, bukannya senang ia malah berharap tetap di rumah sakit. Selama di rumah sangat kesepian, dan kamar yang di dekorasi untuk bayi, membuat Bobby sakit, merindukan anaknya. Ia hanya bisa melihat Ethan dari beberapa foto yang diambil oleh Brady.


“Kalian di mana? Ayu maaf kamu tidak pernah bahagia sejak kita menikah.” Monolog Bobby memandang gambar Ayu sedang menggendong Ethan.


Bobby juga merutuki dirinya sendiri, sudah satu minggu lebih tapi dia tidak bisa mencari keberadaan istri dan putranya. Bukan tanpa alasan, semua terjadi karena kaki belum kuat berdiri apalagi berjalan normal.


Putra kedua keluarga Armend masih harus menjalani beberapa terapi pasca siuman, memulihkan saraf yang istirahat panjang.


“Ethan, Daddy kangen … maaf, belum bisa menjadi Daddy yang baik, bahkan aku tidak memberimu nama.” Bobby tertawa miris di atas kursi roda, pandangannya menatap lurus ke luar rumah.


Tok … tok


“Bobby, boleh Mami masuk?” Mami Kezia berjalan tertatih memasuki kamar, melirik sudut ruangan yang begitu dingin dan senyap.


“Kenapa kamu di luar? Ayo masuk nak, jangan sampai sakit lagi. Mami bantu dorong kursi roda kamu ya.” Mami Kezia mulai melepas tuas rem di sisi roda besi.


Tapi Bobby malah menolak, menghempas tangan ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya itu. Dia tidak menyangka Mami Kezia masih menyimpan rasa tidak suka terhadap Ayu. Sampai istrinya pergi membawa Ethan, tidak ada yang tahu keberadaan Ayu.


Bobby sangat berharap istri dan anaknya hidup aman, nyaman serta tidak kesusahan. Dia ingin secepatnya kembali berjalan normal dan bisa menggunakan kedua tangan serta kaki dengan baik, tidak menyusahkan orang lain seperti ini.


“Bobby, maaf … Mami minta maaf, Ayu dan Ethan pergi karena sikap Mami. Saat itu dalam pikiran Mami hanya kesembuhan kamu, dan semua terjadi karena mencari Ayu.” Mami Kezia memeluk putranya sembari menangis, menyesali perbuatan yang dimulainya. Semua bukan berujung mulus malah semakin runyam tak berbentuk.


“Ya Mih, buktikan kalau Mami memang benar menyesal. Jujur aku kecewa, kenapa di saat Bobby sakit tidak ada seorang pun yang menjadi tempat berlindung bagi Ayu dan Ethan. Hanya keluarga kita yang dia punya Mih. Tapi malah menerima perlakuan buruk dari Mami, seharusnya Mami juga berperan sebagai ibu yang baik untuk Ayu.” Ungkap Bobby mengeluarkan segala kekecewaan.


“Maaf Bobby, sekarang kamu istirahat. Besok pagi Brady antar terapi ke rumah sakit.” Mami Kezia mendorong kursi roda itu masuk dan membantu putranya pindah ke atas ranjang.


Bobby harus semangat menjalani serangkaian terapi yang di jadwal oleh dokter.


Waktu terus berjalan hari demi hari tidak terasa hampir satu bulan, dilewati dengan terus berusaha berjalan di atas kaki sendiri. Di rumah pun Bobby berlatih bersama kedua saudaranya, menggerakkan kaki agar lurus berdiri.


Hasilnya tidak main-main dan usahanya menahan ngilu berbuah manis, Bobby bisa berdiri tegak tanpa gemetar atau jatuh. Walaupun masih harus terapi sampai berjalan normal. Ia pastikan hal pertama yang dilakukannya setelah sembuh yaitu mencari Ayu dan Ethan.


 

__ADS_1


**


Birmingham


Di sisi lain, Ayu jelita menggendong putranya yang sangat aktif bergerak bahkan tidak bisa diam, selalu ingin turun dan lepas dari tangannya.


Ethan tumbuh selama lima bulan ini tanpa kasih sayang seorang Ayah tapi dia tidak pernah kekurangan sedikitpun rasa cinta. Semua anggota keluarga di dalam mansion sangat menyayangi Ethan, bahkan ia mendapat figur ayah dari Opa Dave juga Dariel.


Seperti saat ini, bayi gendut itu berusaha meraih tangan Dariel yang sedang memapah Fredella masuk ke dalam mobil.


“Ethan … jaga mama kamu ya. Nanti Daddy kembali ke mansion membawa adik bayi, jadi Ethan jangan rewel, kasihan mama. Ok.” Dariel mencubit pipi Ethan yang menggoda, sampai bayi itu menangis kesakitan. “Maaf Ethan, Daddy sengaja. Pipi kamu terlalu menggoda.” Dariel mencium pipi merah Ethan.


“Ayu jaga kesehatan kalian, jangan sungkan minta bantuan Oma dan Opa.” Dariel membuka dompet, mengeluarkan kartu dari dalam, menyerahkan kartu sakti ke tangan Ayu.


“Kak ini berlebihan. Ayu tidak bisa menerimanya.” Ayu tidak mau menjadi beban dengan menghabiskan uang milik suami wanita lain. Ia khawatir ada salah paham dari semua ini.


“Itu punya Bobby, Barra yang memberi kartu itu. Habiskan saja bila perlu kuras isinya.” Dariel pun pergi setelah memberi kartu.


.


.


.


“Pegangan sayang, aku bantu kamu berjalan. Apa rasanya berat membawa dua bayi sekaligus?” Dariel melihat perut besar yang berisi dua anaknya.


“Pertanyaan macam apa itu? Tidak perlu dijawab juga sudah kelihatan. Makanya kamu harus menghargai istri, karena ternyata hamil itu tidak mudah.” Tutur Fredella melangkah masuk ke dalam rumah.


“Iya sayang, kenapa kamu jadi hobi marah-marah? Sekarang kita istirahat, besok harus ke rumah sakit. Mereka semakin besar ya, kira-kira wajahnya mirip siapa?” Dariel menyentuh kulit perut sang istri, benar-benar tidak sabar melihat kedua anaknya terlahir ke dunia. Bahkan semua persiapan telah dilakukan dengan sempurna.


Pria blasteran Asia dan Eropa ini juga tidak meninggalkan istrinya sedetik pun. Menjadi suami siaga adalah kegiatan utama Dariel. Ia sama sekali tidak mau melewati satu momen yang paling berharga dalam hidupnya.


“Tentu saja mirip aku, pasti cantik dan menggemaskan.” Jawab Fredella ingat dokter mengatakan bahwa mereka akan memiliki sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan.


“Mirip aku. Kamu tahu kan, aku ini Daddy-nya” Dariel tidak mau kalah, ia juga ingin wajahnya tercetak jelas di kedua bayi kembar itu.

__ADS_1


Tapi Dariel ingat sesuatu yang membuatnya menelan ludah. “Ini anakku, jangan sampai mirip dengan Rico, kakak ipar sialan itu hanya membantu Fredella selama hamil dan memenuhi keinginan istriku, ya benar jangan cemas pasti keduanya mirip denganku.” Tegas Dariel selalu ketakutan buah hatinya akan memiliki wajah seperti Rico.


“Ck, kamu itu berlebihan.” Fredella menarik selimut, tidur membelakangi suaminya yang masih terus bergumam depan cermin.


 


**


Rumah Sakit


Fredella mendapat jadwal pemeriksaan pukul Sembilan pagi. Dariel sangat antusias melihat dua bayinya bergerak aktif, selain itu kondisi ibu dan dua bayi dalam keadaan sehat tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Hanya tekanan darah Fredella, belakangan mengalami peningkatan tapi masih bisa dikatakan normal tidak mengganggu.


“Sayang tunggu di sini ya, aku ambil vitamin ke farmasi. Kamu jangan kemana-mana. Hubungi aku kalau memerlukan sesuatu.” Pesan Dariel sebelum menjauh ke instalasi farmasi.


Sedangkan Fredella duduk bersandar sembari membaca buku kecil pemberian dokter terkait persiapan melahirkan. Ia membaca sangat serius sampai menghabiskan beberapa halaman. Fredella mulai bergerak gelisah merasa tubuhnya tidak nyaman apalagi bagian pinggul.


Membuka sling bag, mencari ponsel untuk menghubungi suaminya tapi sial benda pipih itu tertinggal dalam mobil, karena dalam perjalanan ke rumah sakit sempat bertukar kabar dengan mertua.


“Aduh gemana ini? Tiba-tiba pegal.” Akhirnya Fredella berdiri, berpegangan pada sandaran kursi, berniat mencari suaminya dengan meminta tolong pada petugas keamanan.


Tapi di tengah jalan, perutnya sedikit mulas apalagi dua bayi di dalam bergerak terus menerus, menambah rasa tidak nyaman.


“Akh” pekik ibu hamil bermata hazel menahan rasa sakit.


“FREDELLA? Hati-hati.” Seseorang membantunya berjalan untuk duduk kembali di kursi tunggu.


TBC


***


Hola mana dukungannya?


part ini gatau ya kenapa bisa panjang sampai 1140 kata 🤭


eh belakangan ini juga gitu

__ADS_1


ngerasa panjang ga?


kalau kepanjangan nanti aku buat aga dikit tapi tetap 1000+ ya 😅😅🤣


__ADS_2