
Apa sekarang pendapatku begitu penting bagimu....
"Tidak perduli apapun pendapatku tentang dirimu, bagiku kau orang baik Aditya ! Penolong keluargaku adalah orang baik"
"Apa menurutmu itu sebuah jawaban Bianca?.” Ujar Nya.
"Tentu saja itu sebuah jawaban. Apa itu bukan jawaban?.” Tanya Ku.
"Kau terlalu naif !" Ucap Aditya belum puas dengan jawabanku.
"Apa kau berharap aku mengatakan hal buruk tentangmu? Kau ingin aku mengatakan bahwa aku begitu menderita bersamamu?." Tanyaku menghela nafas panjang, meredam amarah di diriku.
"Sudahlah lupakan saja" Aditya mengakhiri perdebatan kami.
Untuk apa melontarkan pertanyaan yang kau sendiri akan mengetahui jawabannya, Aditya ?
Aditya mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat, ia pasti kesal karena aku tidak memberikan jawaban yang memuaskan padanya. Pandanganya terus menatap tajam ke depan, tanpa berkata sepatah katapun.
Sekarang hujan malah turun begitu deras, rintik suara dari atap mobil terdengar keras. Sementara aku masih terjebak di mobil ini bersamanya. Malam semakin larut dan perjalanan ini terasa sangat panjang.
Beberapa menit kemudian.
Akhirnya kami tiba, Aditya menghentikan mobilnya tepat dihalaman dalam Garden House, Aditya segera turun membanting pintunya dan menerobos hujan, tapi kenapa dia berputar arah, dan membukakan pintu untukku lagi? Bukankah sandiwara sudah berakhir, lalu apa ini ?
"Apa yang kau pikirkan Bianca? Cepat lah turun." Teriak Aditya, membuatku bereaksi untuk segera turun. Dia melindungi kepalaku menutupinya dengan jas miliknya. Dadaku terasa berdetak sangat cepat, ini pertama kalinya dia melindungi ku.
Dia membawaku bersamanya, hingga hujan tidak lagi dapat membasahi tubuh kami.
"Pergilah keringkan dirimu" Suruh Nya, lalu meninggalkanku begitu saja.
Aku berjalan menuju kamar tidurku, dengan menyisakan banyak pertanyaaan di kepalaku tentang Aditya. Sebaiknya aku mengeringkan diriku dahulu, lalu membuat teh hangat untuk Nya.
Bianca lagi-lagi kau membuatku tidak bisa membedakan rasa iba dan perduli ku ! Apa yang salah dengan diriku sekarang. Aditya pun sedang bertanya-tanya pada dirinya, untuk apa ia melakukan semua itu.
...Dret...Dret...Dret...
ponsel Aditya bergetar, dahinya mengerut melihat benda pipih itu, kala matanya melihat nama yang tertera di ponselnya Kirana❤, Aditya segera menerimanya.
"Ada apa?." Jawab Aditya, santai.
__ADS_1
"Bagaimana makan malam mu hari ini Dit?.” Tanya suara dari seberang sana.
"Seperti biasa. Kenapa kau meneleponku Selaru ini ?." Tanya Aditya.
"Apa kau terganggu dengan ku ?." Tanya wanita itu lagi.
"Tidak sayang, bukan itu maksudku !." Seru Aditya agar Kirana tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Sampai kapan kita begini terus?." Tanya Kirana langsung pada intinya.
"Kenapa? Apa kau lelah sekarang?."
"Tidak ! Karena aku tahu kau hanya mencintaiku." Sahut Kirana.
"Baguslah. Aku selalu mengijinkan mu berada di sampingku Kirana, apa yang begitu kau takutkan?."
"Baiklah. Aku mencintaimu Aditya." Seru Kirana.
"Aku akan menutup telfon ini, kau tidurlah sekarang. Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Aditya, mengakhiri panggilan mereka.
Braaakkk. Suara benda yang terjatuh. Aditya segera keluar melihat apa yang terjadi.
...----------------...
Aku melangkahkan kaki menuju kamar Aditya membawa teh hangat, untuk menghangatkan tubuhnya. Namun ku urungkan niatku, mengetuk pintu kamar itu, setelah tanpa sengaja mendengar Adit mengucap nama Kirana, cukup lama aku berdiri disana mendengarkan pembicaraan Aditya, tanpa sengaja aku malah menjatuhkan gelas yang ku bawah tadi, betapa cerobohnya diriku. Tentu saja itu akan mengundang Aditya keluar.
"Apa yang kau lakukan disini?." Tanyanya.
"Tidak aku hanya ingin ke kamarku dan tersandung disini!." Ucap ku gugup dan ketakutan.
"Kau pikir aku bodoh? Kamarmu berada di sebelah kiri, jika kau ke kanan sangat jelas tujuanmu adalah kamarku Bianca" Ucap Aditya mengetahui kebohonganku.
"Aku hanya ingin memberi teh hangat ini padamu" Jawabku jujur, setelah ketahuan berbohong.
"Aku tidak memintanya ! Ada apa denganmu?."
"Baiklah, kembalilah ke kamarmu, aku akan membereskan kekacauan yang ku buat ini." Suaraku bergetar mengatakannya.
"Apa kau mendengar pembicaraanku barusan."
__ADS_1
"Pembicaraan apa maksudmu? ." Elak Ku.
"Kau tidak mungkin tidak mendengarkannya kan. Aku dan Kirana, aku tahu kau mendengar semuanya ?" Aditya mengatakannya dengan nada meninggi.
Aditya sangat keterlaluan sekali, padahal aku tidak melakukan apapun, aku hanya mendengarnya, apa salahnya.
"Siapa Kirana? Kenapa kau sangat marah padaku? Aku bahkan tidak melakukan apapun sekalipun aku tahu dia adalah kekasihmu." Jawabku
"Ternyata benar, kau mendengarkannya !."
"Lalu kenapa? Apa kau ingin memukulku, ingin menendang ku, menamparku? Aditya!? Aku istrimu. Dan dia, siapa dia? Apa dia kekasihmu? Apa seorang kekasih lebih penting dibanding seorang istri. Aku tahu kau tidak menginginkanku, tapi di banding wanita manapun, aku lebih berhak atas Mu, karena hanya aku wanita satu-satunya yang mengucap janji pernikahan bersamamu."
Plak.
Aditya menampar ku lagi.
"Hentikan Bianca, kau sudah melewati batasan mu." Ucap Aditya kembali menaikan nada bicaranya.
"Batasan apa Aditya? Kaulah yang telah melewati batasan mu. Jika kau begitu menginginkannya, bawalah dia hidup denganmu disini. Untuk apa aku ada disini, kau bahkan tidak menginginkanku kan. Kau begitu tersakiti, kau pikir aku tidak? Kau menyakiti ku hanya demi wanita itu?.” Tangisan ku pecah disana. Setelah bertahun-tahun mencoba tegar, Malam ini Aditya benar-benar sangat menghancurkan hatiku.
"BIANCA!!! " Aditya meneriaki namaku.
"Berhenti meneriaki ku ! Apa ucapan ku itu salah. Kau bebas melakukan apapun sekarang. Kirana atau siapa saja. Kau pilih saja, siapa pun untuk hidup bersamamu disini."
"Kenapa kau menjadi keras kepala seperti ini sekarang? bagaimana aku bisa membawa wanita lain kerumah ini? Rumah ini hanya ditujukan padaku dan istriku. Bagaimana wanita lain bisa masuk kemari. Kau pikir aku akan mengijinkannya. Dia hanya kekasihku, bukan Istriku, apa kau paham?."
"Aku, Istrimu? Kau mengatakan itu sekarang... Sekarang katakan padaku, siapa yang lebih layak berada di hidupmu?.”
"Aku tidak akan memilih. Kau sudah menghancurkan semuanya. Ini salahmu Bianca.” Jawab Aditya
"Baiklah aku mengerti. Kau tidak memilihku, aku hanya istri, istri yang tidak pernah kau inginkan." Ucapku lalu berlari meninggalkannya.
Aku tidak tahu sebenarnya ada apa dengan perasaanku sekarang? alasan apa yang membuatku marah dan menjadi se-emosional ini ! Aditya selalu dikeliling oleh banyak wanita selama ini, tapi yang kali ini berbeda. Aku yakin Kirana berbeda dari wanita-wanita itu, Aditya tidak mencari kesenangan sesaat bersamanya, dia adalah wanita yang mungkin dicintai Aditya.
Itulah yang membuatku marah, aku tidak bisa menerima jika dia mencintai wanita lain. Aku Mencintainya, aku mencintai suamiku itu.
Aku terduduk disudut pintu kamarku, menangis tak bisa menahan diri lagi, aku tidak perduli dengar suara yang keluar karena tangisanku. Biar saja dia mendengar betapa menderitanya aku sekarang.
Aditya berdiri tepat didepan pintu kamar Bianca.
__ADS_1
“Aku dapat dengan jelas mendengar suara tangisan wanita itu. Tapi apa yang harus ku lakukan? Setahun lalu aku menikahi seorang wanita bernama Bianca Christina Darmawansa. Wanita pilihan orang tuaku. Aku begitu membencinya, bagaimana bisa seorang wanita mau menikah dengan pria yang tidak pernah dia temui sebelumnya? Tentu saja alasannya karena keuntungan yang ditawarkan Orang tuaku pada keluarga mereka. Aku tidak menginginkannya, ada wanita lain yang sangat aku cintai, dialah Kirana, aku menyesal tidak mengenalkannya sejak dulu pada orangtuaku. Beruntung setelah menikah dengan Bianca, aku dapat menahan Kirana tetap di sisiku.Setelah setahun menikah dengan Bianca, pandanganku menjadi berubah tentangnya, dia wanita yang berbeda, dia kuat dan tangguh. Tidak terhitung berapa ratus kali aku menyakitinya, tapi entah kenapa dia tetap saja bertahan di sisiku.
Dia juga alih mengambil hati kedua orang tuaku, terlihat jelas dia sangat tulus menyayangi mereka. Tidak ada yang salah dengannya. Masalahnya adalah aku. Aku menyakitinya dan aku lupa bahwa dia bukan malaikat yang akan selalu diam. Hari ini aku akhirnya berhasil membuatnya berteriak, dan menangis di hadapanku. Tapi aku tidak merasa menang ketika berhasil melakukannya, padahal itu adalah hal yang ku inginkan selama ini. Melihatnya menangis dan menderita. Namun setelah melihatnya, rasanya sangat bertolak belakang dengan apa yang kuinginkan selama ini. Aku membuatnya menangis kencang, dan aku tidak berpengalaman menenangkan seorang istri, apakah hal itu sama seperti menenangkan seorang kekasih?.” Suara hati Aditya berkata.