IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 89 - Terhalang


__ADS_3

BAB 89


Nasib baik datang tepat waktu ketika Ayu sedang dilanda mulas luar biasa, seorang bidan muda menghampiri mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Minim pengalaman dan pengetahuan membuat Ayu Jelita bingung, kapan harus mendorong kuat dengan tenaga penuh, selain itu asisten rumah yang mendampingi Ayu panik.


 “Ibu tolong lihat saya ya, ikuti perintah saya, dengarkan baik-baik. Jangan tidur ya bu.” Suara lembut tenaga medis ini.


“Tapi saya sakit, sshhh. “Ayu meringis kesakitan kedua tangannya kuat merangkul ke sisi kanan, bahkan asisten rumah merasa tubuhnya remuk akibat dipeluk sangat kuat.


“Sekarang tarik napas panjang, kalau merasa mulas baru dorong kuat ya bu, jangan bersuara biar seluruh tenaga ibu terpusat untuk mengeluarkan bayi.” Terang Bidan, selalu menengok bayi yang terlihat rambut tebal coklat di bagian inti.


“Semangat ya bu, kepalanya sudah terlihat, sedikit lagi dorong ya bu”


Bidan muda tidak henti memberi semangat dan instruksi, agar ibu yang tengah berjuang tetap membuka kedua matanya.


“Akh” Ayu memekik bersamaan dengan suara tangis bayi dalam mobil.


“Selamat Bu, bayinya laki-laki dan sempurna tidak kurang satu apapun.” Bidan ini melekatkan bayi mungil dan merah itu di atas d-4-d4 Ayu.


“Anakku, maafkan mama.” Ayu menangis mendekap putranya.


Suara ambulan sejenak mengalihkan perhatian ibu muda ini, Ayu dan bayinya dipindah ke ambulan. Bagaimanpun dia harus mendapat penanganan medis, tidak bisa didiamkan terlalu lama.


Wajah putra kecil yang sedang mengedipkan mata, sangat mirip sekali dengan Bobby. Bentuk alis, hidung mancung, bibir merah muda dan pipi yang tampak gembil. Ada suka dan duka sekaligus singgah di hati Ayu. Dia senang akhirnya bisa melahirkan walaupun di mobil, yang penting mereka selamat.


Perasaannya sedih tidak didampingi suami, setiap istri melahirkan pasti menginginkan mendapat dukungan dari seseorang spesial, tapi Ayu berbeda. Mungkin takdirnya memang tidak lurus dan memutuskan agar hidupnya tidak kembali bersama Bobby.


.


.


.


Dua ambulan tiba di pelataran GB Hospital, ambulan pertama mengangkut korban kecelakaan akibat pohon tumbang. Mobil kedua pun mulai terbuka, brankar Ayu diturunkan, Dokter Kandungan dan Spesialis Anak menyambut Ayu. Langsung membawa masuk ke dalam IGD.


Brankar Bobby dan Ayu beriringan masuk tetapi keduanya tidak menyadari kehadiran satu sama lain. Pandangan Ayu terhalang oleh beberapa perawat dan dokter.


“Apa pasien di depan itu juga baru melahirkan?” Tanya Ayu kepada salah satu perawat.

__ADS_1


“Oh ... bukan Nyonya, beliau korban kecelakaan tunggal karena pohon runtuh di Jalan XX.” Suster memberi penjelasan singkat, seketika ingatan Ayu terbawa memikirkan Bobby, hatinya tidak tenang.


“Nyonya tunggu di sini sebentar.”


Ayu menunggu di balik tirai, bersama dua dokter spesialis, manik hitam jernihnya menoleh ke sisi kanan, tampak tirai tidak tertutup sempurna. Dia bisa melihat tubuh pria itu meski terhalang lalu lalang tenaga medis.


“Kasihan sekali, semoga dia selamat.” Harapan Ayu dalam hati.


Entah apa yang terjadi, bayi dalam pelukannya menangis, merengek, bergerak gelisah dan kedua tangan kecil berusaha menggapai sesuatu.


“Sayang, tenang. Mama di sini.” Ayu berusaha menenangkan putra kecilnya, menepuk bokong kecil yang terbalut kain selimut.


Sangat jelas ia dengar keriuhan di sisi ranjangnya.


“Cepat hentikan pendarahannya”


“Panggil Dokter Dewa! Hasil EKG pasien tidak sesuai.”


“Dokter, detak jantung pasien kurang dari 60 kali per menit, pasien juga kekurangan oksigen.”


Ayu mendadak cemas mendengar semua perbincangan antara dokter umum dan perawat. Sepertinya kondisi pria di sampingnya ini cukup serius.


Suara erangan tidak asing di telinga Ayu, pria itu terbangun satu tangannya terulur jatuh dari brankar, hampir mengenai ranjang Ayu dan bayinya.


“Mari nyonya”


Perlahan tapi pasti ranjang milik Ayu mulai maju, keluar dari bilik IGD. Wanita kecil yang baru saja melahirkan hanya bisa menoleh ke belakang, memperhatikan jemari berlumur darah menggantung, bergerak di udara, seakan meraih sesuatu yang pergi dari sisinya.


“Semoga anda baik-baik saja Tuan.” Gumam Ayu, memejamkan kedua mata, bayang-bayang Bobby terus bermunculan, berganti dari kenangan satu ke yang lainnya.


**


Dua jam setelah melahirkan Ayu seorang diri di dalam kamar luas. Bahkan untuk menggendong bayi yang menangis saja ia perlu usaha keras, bangun, duduk dan meraih kotak kaca di sisi ranjangnya.


Tapi kakak iparnya datang menjenguk bersama wanita cantik bermata coklat, kedua pasang mata itu tampak berair seperti menangis.


“Ayu, mungkin Mami hari ini tidak datang, ada sesuatu hal mendesak dan sangat penting.” Ujar Barra, tidak kuasa menyampaikan apapun tentang Bobby, sebab khawatir adik iparnya terkejut dan kondisinya menurun setelah melahirkan.


“Ya, Ayu. Aku akan menginap di sini. Kamu jangan sungkan, anggap saja aku kakak kandungmu.” Dwyne sedikit canggung mengatakannya, karena dia tidak terlalu dekat dengan Ayu, ditambah lagi keadaan sangat mengkhawatirkan.

__ADS_1


“Ya kak terima kasih.” Jawab Ayu seadanya. Hidupnya saat ini memang mengandalkan orang lain, tubuh masih lemas, belum bisa melakukan aktifitas berat.


Barra dan Dwyne, menatap nanar bayi kecil dalam pelukan Ayu.


“Barra, aku ... aku tidak kuat.” Dwyne membuang muka, lalu menempel pada lengan kekar Barra Armend.


“Kemarilah wanita cengeng.” Barra memeluk saudari kembar Dariel yang menangis sesenggukan. “Tenang Dwyne, semua akan baik-baik saja. Jangan menangis.”


Ayu tersenyum simpul melihat keakraban kakak ipar dan teman suaminya, ia iri pada mereka semua, memiliki keluarga lengkap dan kehidupan sempurna.


Setelah tangis Dwyne reda, Barra keluar dari ruangan. Masih ada wanita lemah dan rapuh yang memerlukan bahunya.


Mami Kezia histeris mengetahui Bobby kecelakaan, tapi Dewi Fortuna masih menaungi pria itu. Bobby sempat menghentikan laju mobil tepat sebelum pohon jatuh, namun tergelincir karena gesekan ban dan aspal yang licin.


Keluarga sepakat tidak memberitahu Ayu, lantaran kondisinya masih lemah, belum stabil pasca melahirkan.


“Gemana Ayu? Dia sehat kan? Cucu Mami sehat juga, Bar?” Mami Kezia ingin menemui cucu dan menantunya tetapi belum sanggup melihat bayi kecil yang baru saja lahir, terpaksa diabaikan.


Terlintas dalam benaknya jika ini adalah bentuk hukuman karena Bobby menelantarkan Clarissa, bukannya bertanggung jawab malah mencari wanita lain.


“Sehat mih, bayinya mirip sekali dengan Bobby. Mami harus lihat.” Barra duduk merangkul wanita cantik di usia lebih dari setengah abad.


“Aku dan Papi yang menjaganya di sini. Bagaimanpun Ayu keluarga kita mih, sekarang dia ditemani Dwyne.”


“Terima kasih” Mami Kezia memeluk putra sulungnya yang sangat bisa diandalkan. Wanita paruh baya ini pusing menangani semua masalah yang muncul akibat perilaku Bobby.


Sekarang Bobby masih mendapat penanganan di ruang operasi. Dua jam lamanya menunggu dengan harap-harap cemas, sampai melupakan kesehatan diri sendiri.


Papi Leo, Mami Kezia dan Barra berdiri melihat pintu putih terbuka, satu brankar mulai keluar, namun mereka harus kembali menelan kecewa sebab bukan Bobby melainkan pasien lain.


TBC


***


Maaf ya malem banget 🙏


RL benar-benar menyita waktu 😌


 

__ADS_1


__ADS_2