IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 77 - Terlalu Larut


__ADS_3

BAB 77


Bobby menunggu sampai pesawat benar-benar terbang menghilang di balik gelapnya malam, deru mesin serta lampu yang tak terlihat. Kakinya enggan untuk melangkah, terlalu berat walaupun ia tahu semua ini salah.


Dering pada benda pipih kembali menyadarkan Bobby dari lamunan. Mami Kezia mencoba menghubunginya, untuk memberi kabar tentang Ayu.


Untuk kali ini semua panggilan suara itu diabaikan, Bobby menengadah melihat gelapnya langit tanpa taburan bintang, melenggang pergi menuju salah satu tempat.


Melepas penat dan kegundahan diri pada klub malam, meneguk sesuatu yang dianggap bisa menghilangkan semua kesedihan. Namun berujung pada kekacauan diri, akibat terlalu banyak minum, Bobby kehilangan kesadaran.


"Clarissa? Kamu kembali?" Bobby melihat wanita mirip Clarissa.


Dirinya hampir terjerumus pada lubang kesalahan yang sama, tergoda oleh wanita yang menyentuhnya. Dalam penglihatan Bobby terbayang jelas sosok Clarissa tepat berdiri di hadapannya.


“Ca. Ayo kita bersama, melupakanmu sama saja menyakiti diri sendiri.” Racau Bobby, membelai pipi wanita yang tiba-tiba duduk di samping. Memberi sandaran pada Bobby sebagai seorang pahlawan.


“Kita pulang ke tempatku, tampan.” Wanita ini memapah Bobby, membawa ke salah satu tempat. Beruntung sebelum mereka meninggalkan area bar, Dariel datang mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.


“Hi, boleh lepaskan temanku. Mungkin kamu harus mencari pria lain, ah bagaimana kalau ini?” Dariel memberi sepuluh lembar uang merah, sebagai penebus Bobby. Namun wanita itu urung melepaskan, karena sayang tarifnya terlalu mahal dibayar sedikit.


“Maaf Tuan, ini aku ambil sebagai uang muka. Sisanya aku tunggu, sebelum teman anda masuk perangkapku.”


Naasnya Dariel tidak membawa uang lebih, tersisa satu lembar berwarna biru dalam dompetnya. Tidak pernah membawa uang tunai dalam jumlah banyak.


“Lepaskan temanku atau kau aku laporkan sebagai tindak kejahatan.” Sangar Dariel tidak suka waktu miliknya terbuang percuma.


Bobby sudah cukup mengganggu, padahal ia sedang tersambung video dengan Fredella.Merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya segera mengakhiri kegiatan, terpaksa menyusul Bobby ke bar.


“Laporkan saja Tuan, ini bisnis. Lagipula ini bukan pengalaman pertama, tidak takut, aku janji tidak akan mengusik kalian, asalkan Tuan memberi bayaran sesuai.” Tantang Wanita berpakaian terbuka ini, mendudukkan Bobby dalam mobilnya.


“Ok, berapa yang kau inginkan? Cepat katakan.” Dariel mengeluarkan smartphone bersiap mengirim uang pada wanita penggoda yang kini tepat di depannya, bersikap manja, menyentuh bahu dan dada bidang Dariel.


“Dua puluh empat juta cukup, karena satu jutanya tunai. Ini nomor rekeningku. Tapi jika Tuan bersedia menggantikannya tidak masalah, aku lebih senang melakukan dengan pria sadar bukan mabuk.”

__ADS_1


“Gila.”


Dariel mengumpat dalam hati, ibu jari bergerak lincah di atas layar menekan satu per sat angka sampai transaksi berhasil.


“Terima kasih Tuan, hubungi aku kapanpun, kemana pun aku siap menemani.” Tawanya pecah melihat Dariel membopong raga Bobby.


“Hah, menyusahkan. Pria bodoh, kau mengganggu dan sekarang berhutang dasar tidak tahu diri.” Memaki dan menghempaskan Bobby ke mobil.


Pria itu benar-benar mabuk, tidak tahu apa yang terjadi padanya, sampai kepala terbentur keras pun tidak membuatnya terbangun.


Dariel menghubungi Asisten Indra untuk membawa pulang kendaraan Bobby ke apartemen miliknya.


“Ya sekarang, Om. Tolong rahasiakan ini”


Melirik wajah sahabatnya yang sedang terlelap, sesekali tertawa, lalu bergumam sesuatu. Semua Dariel abaikan, sampai satu panggilan masuk mengalihkan fokusnya.


“Tante Kezia? Pasti khawatir, ok pikirkan alasan yang tepat Dariel.”


Cukup lama Dariel berpikir dan ragu menerima sambungan telepon itu, telinganya sakit mendengar suara teriak seorang ibu, lalu segala caci dan maki memenuhi mobilnya. Namun satu kata berhasil membuat hatinya terenyuh dan terdiam. Sesak napas serta emosi menyesakkan rongga dada.


**


Dariel membaringkan Bobby di atas ranjang, ingin sekali membanting  daksa kekar itu ke bawah. Mengapa bisa sahabatnya bertindak bodoh dan mengabaikan sesuatu yang jelas-jelas harus ia jaga.


“Greeta maafkan Daddy, mommy pergi jauh.” Racau Bobby memeluk bantal, lalu menangis.


Jika seperti ini lebih baik ia jangan pernah merasakan apa itu cinta, karena menyakitkan teramat sangat.


Berjuta kata maaf mungkin percuma, terlanjur membuat dua hati hancur berantakan, akibat ulahnya terlalu buta dan menjadi budak perasaan.


“Hey, bung. Bangunlah, kau harus berlari menuju masa depan bukan terikat pada masa lalu. Hubungan kalian telah usai, ini bukan karena kesalahan satu orang tapi kita semua.” Dariel menepuk bahu Bobby.


Bagaimana pun ia turut serta dalam kekacauan yang terjadi, seandainya sejak dulu menjauh dan tidak memberi perhatian lebih pada Clarissa, mungkin perjalanan mereka tidak akan menyakitkan seperti ini. Terlalu banyak melukai orang yang tidak bersalah.

__ADS_1


Dariel pikir dengan berjalannya waktu mampu menghapus obsesi Clarissa kepadanya, namun wanita itu terlalu kuat ingin memiliki seorang pria yang tidak pernah bisa digapai, sampai ketulusan Bobby tersisihkan tak terlihat.


“Maaf Bro”


Dariel keluar kamar, memasuki kamar utama di lantai dua. Ia harap Bobby tidak bernasib seperti dirinya, ditinggal bahkan dilupakan oleh wanita berharga dalam hidup.


.


.


Pukul enam pagi, Dariel mengintip rekannya tetapi Bobby masih nyenyak dalam tidur. Menghampiri, kemudian berusaha membangunkan putra kedua Papi Leo, dan sayangnya Bobby demam. Suhu tubuh meningkat drastis.


“Ck pria lemah, kau merepotkan Bobby. Hah, lebih baik semalam aku biarkan kalian pergi.” Geram Dariel, ia terkurung bersama sahabat gilanya.


Tidak membuang waktu segera menghubungi dokter, dan meminta salah satu perawat pria menemani Bobby di apartemen sampai benar-benar sembuh.


“Ok Dayana jangan katakan apapun tentang hal ini, kita jangan ikut campur. Masalahnya harus diselesaikan sendiri. Terima kasih sudah datang.”


“Sama-sama, tugasku sebagai dokter. Ah ya seharusnya dia jangan terlalu banyak minum, apalagi tanpa mengisi perut dengan makanan berat lebih dulu. Dariel, aku permisi, jadwal praktik dimulai tiga puluh menit lagi.”


“Ok aku antar, wanita secantik kakakku ini harus dilindungi. Aku rindu Rea dan Ryan, mungkin salah satu dari mereka bisa ku bawa untuk bertemu Fredella, bagaimana kalau aku minta anakmu satu?” Dariel dan Dayana pergi, meninggalkan Bobby sendirian.


Sedangkan dalam apartemen, seorang perawat membantu menyeka tubuh Bobby, bau alkohol begitu menyengat. Karena tidak nyaman, akhirnya pria ini membuka mata, bersiap melayangkan tinju pada pria muda di depannya.


“Siapa dirimu? Katakan! Lancang sekali.” Sangar Bobby Armend.


“Maaf Tuan, saya diperintahkan oleh Bos Dariel untuk merawat dan menjaga Tuan.” Jawab perawat ketakutan.


Mencari uang sangat tidak mudah, menerima bayaran tambahan tetapi dirinya hampir terkena kepalan tangan pasien.


“Oh aku di apartemen Dariel. Terima kasih, pukul berapa sekarang?” tanya Bobby memijat pelipis.


“Jam delapan pagi Tuan.”

__ADS_1


“Apa? S***, semalaman aku tidak ke rumah sakit. Bagaimana dengan Ayu?” Bobby ingat meninggalkan istrinya di ruang perawatan, secepat kilat ia menyambar pakaian dan berlari keluar kamar menuju rumah sakit.


TBC


__ADS_2