
Beberapa hari setelah pertemuan Aditya dan Bianca.
Hari ini keadaan Larasati sudah menunjukan perubahan yang baik, namun perlu beberapa hari lagi untuk dia benar-benar pulih.
Di lobby Rumah Sakit.
“Permisi nenek, kurasa ini milikmu... ” Ucap Minyo, pada seorang wanita tua yang sekilas terlihat seumuran dengan neneknya juga.
“Ya ini milikku sayang... ” Ucap nya, yang lain, dan tak bukan adalah Ariani (Ibu Aditya) yang juga sedang melakukan check up rutin di sana. Sekilas dibisa mengetahui bahwa anak itu terlihat persisi sekali seperti Aditya waktu kecil. “Apa itu hanya kebetulan saja...” Batin Ariani. Namun dia sangat penasaran siapa orang tua anak ini.
“Hei nak. Dimana orang tuamu? Apa kau sendiri... ” Tanya Ariani. Kemudian membelai lembut kepala Minyo.
“Tidak aku bersama daddy dan mamii, nenek.. ” Seru Minyo dengan polos. “Apa nenek sakit? nenekku juga sedang sakit dan itu membuat mamii selalu bersedih.” Ungkapnya begitu lugu.
“Anak pintar. Aku yakin ibu dan nenekmu pasti orang yang sangat baik. Hiburlah ibumu agar dia bersemangat kembali. Apa kau mengerti.. ” Ucap Ariani begitu lembut. Ini pertama kalinya Ariani merasa seakan memiliki cucu, apa lagi anak itu terlihat persis sekali dengan putranya.
“Minyo ayo kemari, mamiii sudah menunggumu.” Panggil Jonathan yang baru saja selesai menerima panggilan dari rekan kerjanya.
“Nenek aku pergi dulu. Semoga kau sehat selalu.” Ucap Minyo kemudian meninggalkan Ariani.
“Aneh sekali... Anak itu sama sekali tidak terlihat mirip dengan ayahnya. Tapi mungkin saja ia mirip dengan ibunya... ” Batin Ariani, kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu.
“ Maaf membuatmu harus kesini karena diriku nak... ” Ucap Larasati kepada Bianca.
“ Ibu... Aku sudah bertemu denganya.. ” Ungkap Bianca.
“Apa itu Aditya? .” Tanya Larasati.
“Ya. Hari dimana aku tiba di sini, saat itu dia sudah menemukanmu bu... Tapi ibu tidak perlu khawatirkan itu, kurasa dia tidak akan berani menampakan dirinya lagi sekarang. Kurasa Aditya sudah tahu, jika aku akan bertunangan dengan Jo.” Jelas Bianca.
__ADS_1
“Bianca. Pertunangan itu belum berlangsung, jika kau masih ragu. Kurasa kau masih bisa membatalkannya sekarang. Minyo mungkin bisa bersama Jo, tapi apa kau bisa? Aditya... Aku tahu dia bersalah nak, tapi kenapa dia datang dan menemui mu, apa kau tidak bertanya-tanya tentang hal itu? Kurasa dia sama sepertimu.” Ungkap Larasati.
“Ibu..... ”
“Mamiiii... ” Panggil Minyo, membuat Bianca tidak meneruskan kata-katanya.
“Hei kemana saja kalian, aku sudah menunggu sejak tadi... ” Seru Bianca.
“Mamii, nenek... tadi aku menemani daddy menerima telpon... Aku bosan berada disini terus.”
“Maafkan membuatmu mengkhawatirkan kami...” Seru Jo.
“Tidak. Aku hanya bertanya-tanya, kupikir kalian sedang menggoda suster-suster cantik diluar sana... ” Ucap Bianca menggoda kedua pria yang ada dihadapannya itu.
“Aku tidak mungkin berani melakukan itu.” Tolak Jonathan menanggapi ucapan Bianca begitu serius.
“Aku hanya becanda Jo... Hei bagaimana jika kita jalan-jalan hari ini. Bukankah kata putra mamiiii dia sangat bosan disini... ” Seru Bianca.
“Baiklah, kita tunggu kakek datang dulu ya sayang... Setelah baru kita berangkat, kau tidak mungkin tegakan membiarkan nenekmu sendirian disini, sementara kita bersenang-senang... ” Ujar ku Bianca agar putranya lebih bersabar lagi.
“Ya tentu saja mamiii... Kita akan menemani nenek sama kakek datang, iyakan daddy... ”
“Iya tentu saja...” Seru Jonathan menanggapi ucapan pria kecil yang manis itu.
\*
__ADS_1
📍The Place mall 世贸天阶
Rasanya jika seperti ini, aku merasa benar-benar telah memiliki keluarga baru sekarang. Ada Minyo, aku dan Jonathan. Apa yang dikatakan ibu tadi... Kurasa tanpa mengatakan apapun dia bisa mengetahuinya.
Sebenarnya untuk apa Aditya datang? Dia bahkan tidak menanyakan apapun tentang Minyo padaku. Lihat saja begitu mudah baginya melupakan darah dagingnya sendiri.
Kurasa kau hanya tidak ingin aku bahagia dalam hidup ini. Aditya! Sebenarnya apa kesalahku padamu...
“Minyo, apa kau ingin bermain... ” Tanya Bianca lembut.
“Iya aku senang bermain. Ayo daddy, mami kita main bersama... ” Teriak Minyo, yang sejak tadi begitu bersemangat.
Di arena bermain, dari jarak beberapa meter Bianca begitu fokus memperhatikan dua pria yang sedang seru-serunya bermain itu.
Apalagi yang yang bisa membuatku bahagia selain melihat putraku bisa tertawa lepas dan bahagia seperti ini.
“Jo... Aku akan ke toilet sebentar tolong jaga minyo ya... ” Ucap Bianca menghampiri Jo.
“Baiklah kami akan menunggumu disini.. ” Seru Jonathan.
“ Hei kau juga suka menggunakan lipstick itu..” Tanya seorang wanita pada Bianca saat, yang sedang memperbaiki penampilannya yang terlihat sedikit pucat.
“Benar. Apa kau juga suka dengan ini... ”Jawab Bianca lembut.
“Tidakku sangka, aku menemukan seseorang yang memiliki selera sama denganku ditempat seperti ini.” Ucapnya sambil terkekeh.
“Dan aku baru menemukan seorang wanita sepertimu, mengajak seorang asing untuk mengobrol ditempat seperti ini, apa kau sering melakukanya.” Seru Bianca dan ikut terkekeh.
__ADS_1
“Tidak selalu. Baiklah, senang bertemu denganmu. Apa pergi sekarang, sampai jumpa. Namaku Viviean...”
“Aku biannnn......caaa... ” Jawan Bianca, namun wanita bernama Viviean itu sudah pergi dan menghilang begitu cepat.