
Sementara dari kejauhan seseorang sedang mengamati Aditya dan Bianca.
"Ikuti mereka ! " Titah seorang Pria didalam mobil hitam, yang tidak jauh dari keberadaan Aditya dan Bianca sekarang.
"Baik Tuan ! ."
Sesampainya di Halaman dalam Garden House. Aditya menurunkan Bianca, tak lupa dia mencium kening istrinya itu sebelum meninggalkannya pergi.
"Tuan, mengapa kita mengikuti mereka? ."
"Aku hanya penasaran dengan Wanita yang bersama nya! Aditya Putra, ternyata disini dia menyembunyikan wanitanya itu" Ucapnya menyunggingkan senyum.
"Apa kita akan terus menunggu disini Tuan Eric? ."
"Tidak! kita kembali sekarang ! ." Titah Eric pada orang kepercayaannya itu.
Entah alasan apa yang membawa Eric Wijaya Kusuma, semalam ini membuntuti seorang wanita yang masih sedang bersama suaminya. Wanita yang bernama Bianca itu begitu menarik perhatiannya. Kesan pertama bertemu denganya sudah bisa membuat Eric begitu sangat penasaran dengan Istri orang itu.
Ditempat lain Aditya sudah berada tepat didepan pintu Apartemen kekasihnya, dan segera masuk.
Tentu saja kedatanganya langsung disambut bahagia oleh Kirana.
"Adit, sayang aku merindukanmu." Ucap Kirana dan memeluk erat Kekasihnya itu.
"Kirana duduklah sekarang ! ." Aditya melepaskan pelukan Kirana darinya dan mendorong lembut tengkuk Kirana, untuk duduk disampingnya.
"Sayang" Ucap Kiran memanja, kembali memeluk Aditya."
"Aku sudah berada disini, apa kau puas sekarang Kirana? ." Ketus Aditya.
"Kenapa kau begitu ketus padaku Adit! Ada apa denganmu? ." Tanya Kirana, melepaskan pelukannya dari Aditya.
"Justru aku yang harus bertanya, ada apa denganmu sekarang? Apa yang tidakku berikan padamu, aku selalu memenuhi semua keinginanmu, bahkan aku rela datang kemari hanya untuk dirimu " Ucap Aditya dengan nada meninggi. Ini pertama kalinya Aditya menaikan nada bicaranya dihadapan Kirana. Tentu saja itu membuat kekasihnya itu terkejut dan menangis.
"Ada ada denganmu, bahakan kau berani memarahiku sekarang? " Tanya Kirana terisak-isak.
__ADS_1
Astaga apa yang ku lakukan, aku membuat wanitaku menangis, Aditya menyadari perbuatanya pada Kirana dan kembali memberi pengertian padanya.
"Sayang! Maafkan aku, aku sedang banyak pikiran sekarang. Berhentilah menangis okey ! Itu menyiksaku sayang please. Maafkan aku." Bujuk Aditya menenangkan Kirana. Namun usahanya gagal, suara tangisan Kirana semakin menjadi saja.
Sebenarnya Kirana sengaja membuatnya, karena dia tahu Aditya tidak akan tahan jika melihatnya menangis, itu adalah kelemahan Aditya.
Hikss Hikss Hikss. Tangis Kirana.
Tanpa berpikir panjang, Aditya menarik tengkuk Kirana dan mendaratkan ciuman dibibirnya, cukup lama bibir mereka saling saling menaut, pelan dan dalam. Sampai Aditya memastikan tak ada lagi tangisan dari Kirana. Bianca maafkan aku, batin Adit berkata.
Namum sepertinya Kirana tidak ingin berhenti sekarang, dia masih sangat menikmati bibir Aditya beradu dengan bibirnya. Tidak ada cara lain, membuat Kirana tenang sekarang, hanya ini cara satu-satunya, mengikuti kemauannya.
Nafas mereka tersengal-sengal, hingga Aditya memutuskan ciumannya Pada Kirana, menarik nafas panjang bersamaan, karena merasa telah kekurangan oksigen.
"Adit, tidurlah disini. Temani aku malam ini" Pinta Kirana.
Jika aku menginap disini bagaimana cara menjelaskannya pada Bianca. Bagaimana jika sekarang di sedang menungguku ? Apa yang harus ku katakan padanya? Mengatakan bahwa aku tidak akan pulang malam ini. Membohonginya lagi, hanya demi bisa menemani Kirana. Tidak, aku tidak boleh melakukannya. Pikir Aditya dalam hati-hati.
"Sayang aku sangat ingin menemanimu, tapi aku harus pulang Kirana. Kita harus berhati-hati sekarang paparazi ada dimana-mana, aku tidak ingin mereka membawa-bawa namamu" Ucap Aditya.
Setidaknya alasan ini cukup masuk akal, karena bagaimanapun Aditya adalah Suami orang. Kirana pasti tidak ingin dicap sebagai perebut suami orang. Beruntung Kirana memahami alasan Aditya kali ini, sehingga dia mengijinkan kekasihnya untuk pulang.
Setelah mendapat persetujuan dari Kirana Aditya langsung mengambil kunci mobil dan jas yang diletakakannya dimeja tadi, lalu segera beranjak dari tempat itu.
Matanya melihat kearah jarum jam yang ada ditangannya, pukul 01:30, sudah hampir 3 jam Aditya meninggalkan Istrinya.
Aditya segera naik kemobil hitam miliknya, meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan pria itu terus berbicara dalam hatinya. Aku tidak bisa seperti ini terus, ini bisa menyakiti Bianca maupun Kirana. Siapa mereka dihatiku, kenapa sulit sekali ! Banjingan. Aku memang ********.
Di lain waktu aku bersama Istriku, diwaktu lainnya aku menemui kekasih ku.
Setibanya di Garden House.
Bianca sudah tertidur pulas, dia menyelimuti dirinya dengan selimut tebal diatas ranjang besar itu. Amarah Aditya meredah seketika saat melihat Bianca, meskipun itu tidak dapat menghilangkan rasa bersalahnya. Ia mendekat kearah istrinya itu
"Maafkan aku sayang" Ucap Aditya, mengecup kening Istrinya yang sedang tertidur pulas itu.
__ADS_1
*****
Kirana Pov
Pagi ini suasana hatiku sedang tidak begitu baik. Kenapa aku begitu takut kehilangan Aditya sekarang ? Apakah aku salah? Kenapa rasanya aku sedang melakukan dosa besar, jelas-jelas sejak awal Aditya adalah milikku, Bianca lah yang merebutnya, bukan aku ! Meski pada akhirnya Aditya tetap menikahinya, itu bukan karena cinta. Cinta Aditya hanya untukku.
Bianca, aku benar-benar membencimu, kau mematahkan impian dua orang yang saling mencintai. Cepat atau lambat kau akan mengetahui bahwa akulah satu-satunya wanita yang dicintai suamimu itu.
Di Garden House
Pagi-pagi sekali Bianca sudah berada didapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sementara Aditya masih tidur dikamar mereka.
Kira-kira jam berapa Aditya pulang semalam, aku bahkan tidak mengetahui kedatanganya, pikir Bianca.
Segera di kuburnya dalam-dalam keingintahuannya itu, dan kembali fokus ke roti yang sedang dipanggang olehnya.
Bianca memang sangat telaten dalam urusan mengurus rumah dan dapur , meskipun dia bukan wanita dari kalangan biasa. Keluarga Darmawansa tidak akan mungkin membuatnya melakukan hal seperti ini. Namun saat menikah dengan Aditya, dia berubah menjadi wanita yang mandiri, dia belajar segala hal tentang kehidupan berumah tangga, terbukti selama setahun ini apapun dilakukanya dengan usahanya sendiri.
Tiba-tiba sepasang tangan memeluk Bianca dari belakang.
"Pagi Istriku." Ucap Aditya, aku membiarkannya memelukku dari belakang, sambil mengoles selai diatas roti yang telahku panggang. Karena merasa pergerakan ku semakin terbatas, aku mencoba melepaskan pelukannya, tapi Aditya semakin mengeratkan lingkaran tangganya di pinggangku.
"Biarkan seperti ini sebentar istriku, aku sangat suka mencium aroma tubuhmu" Ucapnya, aku bisa merasakan hembusan nafas hangat Aditya dileherku.
"Sayang lepaskan aku, roti sudah jadi." Pintaku, Aditya lalu melepaskan pelukannya dan berjalan kemeja makan yang berada di dapur.
"Makan dan minumlah ini." Ucapku singkat. Anehnya Aditya hanya menatap dan tersenyum padaku.
"Ada apa denganmu." Sahutku lagi, menatap kearah Aditya.
"Kau sangat perhatian sekali padaku." Ujarnya.
"Tentu saja, karena aku adalah Istrimu, sayang! ." Jawabku. Aditya ini selalu saja berbicara hal-hal aneh, pikirku.
__ADS_1
"Iya kau memang Istriku, sayangku, cintaku... " Ucap Aditya.
Lagi-lagi Aditya membuat pagiku jadi semanis ini.