
BAB 91
Sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Armend, Ayu selalu diam, terlihat murung. Ia ragu, ingin bertanya kepada Brady tetapi adik iparnya itu tampak tidak ramah sama sekali. Terlintas dalam benak Ayu kenapa bukan kakak iparnya yang membawa pulang, lalu apa Bobby ada di rumah?
Bayi kecil dalam pangkuannya pun merengek sedari tadi, Ayu tidak menyadari sama sekali. Berulang kali Brady memanggil namanya pun percuma, seperti ada sesuatu yang menutupi telinga istri dari Bobby Armend.
Akhirnya Brady menghubungi salah satu yayasan penyedia jasa baby sitter untuk membantu kakak ipar yang lebih muda darinya.
Anak bungsu dari keluarga Armend ini tidak mau terjadi sesuatu dengan keponakan dan istri kakaknya, bisa habis dia di tangan Papi Leo dan Barra mungkin juga Bobby.
“Ok Ayu, umm ... maksudku kak. Sekarang kita sudah sampai, kamu dilarang melamun karena keponakanku ada di sana, kamu tidak mau kan kalau dia jatuh? Jadi perhatikan diri sendiri dan bayi itu.” Tutur Brady, menyadarkan Ayu yang hanya mendengar jika putra kecilnya jatuh.
“Anakku d-di mana dia? Brady anakku?” Ayu panik, melirik ke kiri dan kanan.
“Oh God, kenapa bisa pria bren9s3k itu menikahi perempuan lugu seperti dia? Nasi sudah menjadi bubur terimalah nasibmu.” Gumam Brady, lalu merebut bayi kecil dari pangkuan Ayu dan seketika Ayu kembali fokus, bahwa bayinya tidak jauh tetap aman dalam pelukan. Hanya pikiran terlalu melayang ke segala arah tanpa ujung.
“Brady tunggu!” Panggil Ayu menyusul adik ipar minim akhlak itu.
Tanpa basa basi pria berambut lebat ini menidurkan keponakannya di ranjang bayi. Papi Leo, Barra dan Brady sepakat untuk menempatkan Ayu di kamar kakaknya, mereka tidak mendengarkan perintah Mami Kezia.
“Hey Boy, doakan Daddy mu. Ku harap kalian kembali bersama, cepat besar ya aku akan mengajarimu cara berkuda.” Brady mencubit kecil pipi gembul keponakannya.
Sampai di kamar, Ayu tercengang melihat isi kamar Bobby. Semua peralatan bayi cukup lengkap bahkan bisa dibilang bukan kamar orang dewasa. Dinding berhiaskan beberapa tokoh kartun terkenal, serta tulisan dengan kata-kata mampu membuat Ayu meneteskan air mata.
Sekarang jadi pertanyaan besar di mana suaminya itu, Ayu tidak melihat keberadaan Bobby sejak memasuki rumah.
“Brady, apa semua ini Bobby yang melakukannya?” Tanya Ayu menahan langkah adik ipar yang ingin keluar kamar.
“Pikir saja sendiri, kamu kan punya otak. Permisi, aku mau istirahat.” Brady berlalu setelah memberi jawaban ketus kepada kakak iparnya.
Ayu menangis, menyisir sudut demi sudut ruangan luas ini. Membuka lemari kecil, dan terkejut melihat isinya. Pakaian lengkap bayi dengan beragam bentuk. Kemudian menghampiri putra kecilnya di atas ranjang, menciumi pipi dan berbisik sesuatu kepada anaknya.
“Daddy sangat menyayangi kamu nak.”
__ADS_1
Tok ... tok
Suara pintu mampu mengalihkan perhatian Ayu, seribu langkah menuju pintu berharap suaminya datang dan menerima kehadiran dirinya sebagai seorang istri.
“Bobby aku menung ... gumu. Maaf anda siapa ya?” Ayu kecewa, ternyata hanya wanita separuh baya yang mengetuk pintu dan masuk kamar.
Memperkenalkan diri sebagai baby sitter, membantu Ayu menjaga putranya.
“Saya akan mendampingi Nyonya, apapun itu. Kalau memerlukan bantuan, Nyonya bisa panggil saya.” Ujar Baby sitter yang tampak cantik dan terawat.
“Oh, iya terima kasih.” Sejenak Ayu menjadi waspada, ia takut anaknya diambil oleh wanita itu. Pikirannya berisi hal negatif.
“Aku bisa mengurus anakku sendiri, tidak memerlukan siapapun.” Batin Ayu menolak kehadiran baby sitter.
.
.
.
Asisten rumah dan pelayan panik tidak kunjung mendapat respon dari dalam kamar, akhirnya membuka pintu itu dengan kunci cadangan.
Semua terkejut mendapati Ayu dalam posisi duduk meringkuk, berderai air mata dan ketakutan melihat orang yang masuk ke kamar. Bayinya dibiarkan menangis sedari tadi, bibir kecil berwarna merah muda itu berubah menjadi putih dan mengering.
Melihat betapa mengkhawatirkannya kondisi ibu dan bayi, baby sitter mengambil sosok mungil dan meredakan tangisannya.
“JANGAN AMBIL ANAKKU, JANGAN!” Teriak Ayu, tidak mendekat hanya menatap penuh intimidasi.
“Nyonya, anak anda kehausan. Biar saya bantu caranya menyusui, saya tidak akan mengambil anak anda, di sini untuk membantu.” Berusaha membujuk Ayu dan memberi perhatian.
Ayu pasrah bagian d-4-d-anya terbuka lebar, memang ia akui mengalami kesulitan memberi asupan nutrisi bagi anaknya.
Tangisan semakin kuat menerima kenyataan, tidak ada sesuatu yang keluar dari dalam puncak d@d4.
__ADS_1
“Sabar Nyonya tenang, saya yakin anda pasti bisa.” Baby sitter berusaha memberi semangat dan rangkulan selayaknya kakak kepada adik.
“Tolong jangan ambil anakku, dia satu-satunya yang aku punya.” Tangis Ayu belum juga reda, terbayang dalam kepalanya hidup terpisah dari buah hati, dan melihat suaminya bahagia bersama wanita lain.
Ayu melirik ke dinding, menatap tulisan ‘Daddy & Mommy Love You Baby’
Mungkinkah ‘Mommy’ di sana wanita lain atau Clarissa? Yang jelas pikiran Ayu sedang kacau, dia sendiri bingung kenapa bisa seperti ini.
Setelah beberapa jam Ayu mencoba sampai akhirnya ia bisa menggendong bayi tanpa kesulitan, dan memberikan asupan nutrisi sekalipun tidak yakin kalau anaknya kenyang.
Hati dan pikiran mulai menerima kehadiran orang baru di dekatnya, ia yakin baby sitter ini bukan orang jahat seperti yang ada dalam isi kepalanya.
“Terima kasih ya, sus. Tapi anakku tadi nangis lama, apa tidak masalah?” Tanya Ayu menatap cemas putra kecil yang kini terlelap dalam dekapan.
“Semoga tidak ada masalah apapun Nyonya, sekarang anda istirahat, gunakan sebaik mungkin waktu yang ada untuk tidur karena merawat bayi baru lahir membutuhkan tenaga lebih. Saya menunggu di depan pintu kamar, permisi.”
Ayu mengamati pengasuh anaknya keluar dan tidak menutup pintu dengan rapat, mungkin sengaja agar suara tangis bayi terdengar keluar.
Ayu hanya berbaring miring membelakangi ranjang bayi, ia menatap gambar suaminya yang terpatri di dinding, meneteskan air mata mengingat semua perjalanan hidupnya setelah mengenal Bobby.
Indah tetapi beracun, perlahan apa yang dilihatnya berubah menjadi belati tak kasat mata.
“Kamu di mana Bob? Tidak ingat aku dan anak kita? Apa kamu bisa menerima kehadiranku di sini?” tangis Ayu dalam cahaya temaram.
Ayu turun dari ranjang penasaran akan keberadaan suaminya, ia juga memastikan bayi dan baby sitter terlelap tidur.
Ayu mengendap menuruni anak tangga, suasana rumah minim cahaya membuatnya selalu dekat dinding. Tanpa sengaja mendengar suara pria di dekat kolam berenang.
Wajah Ayu sumringah, ia yakin Bobby pulang setelah perjalanan bisnis. Ayu merapikan rambut dan piyamanya, mengatur degup jantung yang tidak karuan, setelah beberapa bulan tidak bertemu akhirnya bisa melihat wajah tampan Bobby.
Tapi langkah Ayu terhenti sebelum benar-benar keluar rumah, ia takut Bobby menolaknya dan hanya ingin anak mereka.
“Tidak ... tidak Ayu jangan.”
__ADS_1
TBC