
BAB 104
Dua bulan di lalui oleh sepasang orangtua baru dengan mengurus anak-anak, Fredella beruntung tidak lagi bangun tengah malam. Dua bayi itu hanya bangun sebelum jam dua belas malam dan pukul empat pagi. Hingga dia memiliki waktu tidur lebih lama, tubuhnya yang melebar perlahan mulai mengecil.
Fredella terlalu takut jika Dariel meninggalkannya karena tubuh yang tidak seperti dulu. Ia juga iri melihat beberapa wanita, setelah melahirkan bentuk badan kembali seperti sebelumnya, termasuk Ayu. Tidak perlu susah payah mengatur jadwal makan dan olahraga.
“Sayang jangan melihat mereka semua, setiap perempuan itu berbeda begitu juga dengan bentuk tubuh mereka, hormon dan strukturnya masing-masing.” Setiap hari Dariel mengingatkan, karena Fredella mulai tidak percaya diri ketika keluar rumah menemani Dariel, harus memakai pakaian yang tidak sesuai gayanya.
“Nanti kamu lebih senang melihat perempuan lain, pria kan seperti itu. Mahkluk visual, aku itu tidak bodoh Dariel, hanya takut karena pernah mengalami hadirnya wanita lain di rumah kita.” Gerutu Fredella, menekuk wajah sembari menatap cermin.
Dariel hanya tertawa terbahak-bahak, rasanya kurang kerjaan sekali melihat wanita lain hanya arena bentuk tubuhnya lebih bagus dari istri di rumah.
“Sayang dengar aku mau bilang sesuatu.” Dariel meraih kedua tangan Fredella, digenggam dan melekatkannya di dada.
“Sayang dengar, kamu tahu aku kan? Waktu dan hidupku habis dengan bekerja, kerja dan kerja. Aku memiliki tanggung jawab besar mengelola perusahaan keluarga. Aku hidup untuk para wanita di keluargaku. Kamu, Vale, Mama, juga Dwyne. Tidak ada wanita lain yang masuk ke dalam hidupku, untuk bisa jatuh cinta juga harus menunggu sampai umur dua puluh delapan tahun.” Dariel menatap lekat wajah istrinya, ia ingin Fredella percaya bahwa tidak ada yang mampu menggantikan posisinya di hati.
Apapun akan Dariel beri untuk orang yang disayangi, semua waktu, kesetiaan tersita untuk keluarga.
“Masa lalu kita yang buruk, aku akui karena kesalahanku yang tidak bisa menjaga diri. Tapi kamu kan tahu, apa yang terjadi sebenarnya. Percayalah Fredella, mau seperti apapun kamu, kita tetap bersama sekalipun kamu tidak lagi mencintai suami jahil ini. Izinkan aku yang bertahan untuk rumah tangga kita.” Ucap Dariel penuh kesungguhan.
Memang benar apa yang dikatakan istrinya jika pria itu mahkluk visual, karenanya Dariel menyukai Fredella sejak pertama kali bertemu.
Mengunci hatinya rapat, agar wanita itu tidak lagi bisa keluar. Semua yang ia lakukan demi istrinya, termasuk membeli lebih dari 50% saham perusahaan penerbit atas nama Fredella.
“Aku ingin kita hidup sampai tua, seperti Papa dan Mama melihat anak-anak tumbuh dewasa, menikah dan memiliki cucu. Beruntung sekali seorang Dariel bisa memiliki Fredella, kamu tahu sayang istriku ini tidak hanya cantik parasnya tetapi memiliki hati yang sangat indah. Fredella Matthew mau kah menemani Dariel Janesh Bradley sampai tua dan hanya kematian yang memisahkan kita?” ungkap semua isi hati Dariel. Tersenyum menunggu jawaban istrinya.
Fredella mengangguk cepat, ia juga ingin menjalani hari-harinya bersama Dariel, membesarkan kedua anak mereka.
Dariel berdiri, mengambil ponsel lalu memutar musik romantis, disimpannya benda pipih di atas nakas. Pria ini mengulurkan tangan, “Ayo sayang.” Ajak Dariel, memaksa Fredella beranjak dari tempat, menempatkan satu tangan di pingul istrinya. Menari bersama, menikmati alunan music.
__ADS_1
“Aku mencintai Fredella apa adanya.” Imbuh Dariel, melabuhkan satu ciuman di kening sang istri.
.
.
Pagi ini Dariel dan Fredella membawa putra putri mereka menikmati suasana kota Birmingham, keempatnya berjalan kaki mengelilingi beberapa bangunan tua yang masih tampak kokoh dan kuat.
Setidaknya mengukir kenangan di kota asal Opa Gerry, tempat dimana keluarga besar Bradley tinggal. Dariel menunjukkan salah satu cabang GB Group di Pusat Kota, perusahaan yang dikelola oleh sepupunya.
“Kamu mau masuk ke dalam? Kita beri kejutan untuk Stefan. Belakangan ini dia stress menghadapi pekerjaan yang sangat banyak.” Tawar Dariel, sudah tentu memiliki maksud lain yaitu menjahili kakak sepupu.
“Tidak mau, tujuan kita jalan-jalan bukan bekerja.” Ketus Fredella mengetahui maksud suaminya, ibu muda ini memilih mendorong stroller buah hatinya lebih cepat.
“Tunggu sayang, jangan tinggalkan suami kamu.” Dariel berlari kecil mengejar Fredella.
Sekarang tujuan utama mereka pergi ke taman, menjemput Ayu dan Oma Anggi yang memilih tetap tinggal di taman kota.
Fredella tersenyum sekaligus geli, seorang terpelajar seperti Dariel bisa juga mempercayai hal yang dianggap mitos.
“Aku bingung mau membeli apa, semua yang berkilau kamu punya. Jadi maafkan suamimu hanya bisa beli ini, jangan lihat dari harganya yang murah. Gelang pasangan ini jangan kamu lepas apalagi sampai hilang.” Dariel menunjukan pergelangan tangan kanannya.
“Siap Tuan, aku akan mengingat semua pesan anda.” Tawa Fredella merangkul suaminya. Ia senang semakin hari, sikap Dariel selalu bertambah manis. Dia bukan hanya menjadi ayah hebat bagi Theo dan Vale tetapi berusaha untuk membuat istrinya selalu tersenyum juga bahagia.
“Jangan sungkan Nyonya. Sekarang kita ke taman, pasti dua perempuan di sana mengomel.” Gurau Dariel membayangkan wajah Oma Anggi dan Ayu yang terlalu lama menunggu.
Keempatnya tiba di taman kota, Dariel membeli cemilan ringan untuk ketiga wanita. Sementara ia menjaga Theo, Vale dan Ethan. Membaringkan ketiganya di atas karpet, melihat gerakan aktif anak-anak.
“Kau Theo dan Ethan, kalian harus tumbuh menjadi pria yang kuat, jangan tiru ayah kalian ya, ambil semua yang baik dan buang buruknya. Untuk Princess, kamu memiliki kekuatan yang mengalir dari darahku, jangan mudah ditindas, jadilah wanita tangguh tapi tetap memiliki hati lembut seperti Mommy.” Dariel menggendong putri kecilnya, menghindari Valerie dari gerakan aktif Theo dan Ethan.
__ADS_1
Celotehan ketiganya saling bersahutan, tiga wanita yang menikmati kudapan hanya tertawa melihat Dariel menjaga anak-anak.
“Oma senang bisa melihat semua cicit lahir dan tumbuh sehat, semoga cicit oma tahun depan bertambah ya. Kalian jangan mau kalah dengan Dwyne, kalau bisa melebihi dia.” Kelakar Oma Anggi tertawa seorang diri, sementara Fredella hanya menunjukkan deret gigi putih bersih.
Berbeda dengan Dariel begitu bersemangat, kalau takdir mengizinkan memiliki anak banyak kenapa tidak. Semua anugerah yang titipkan, akan Dariel terima.
Oma Anggi dan Ayu pulang lebih dulu menggunakan mobil, begitu pun Dariel dan Fredella menyusul di belakang. Walaupun berangkat jalan kaki tetapi dua mobil selalu setia mengikuti kemana tuannya pergi.
“Ayu kamu yakin mau menetap di sini? Tidak kangen keluarga di Jakarta?” tanya Oma Anggi menggendong Ethan, menyayangi putra Ayu sama seperti kelima cicitnya yang lain.
“Yakin Oma, maaf Ayu merepotkan. Setelah Ayu punya cukup uang, pasti menyewa rumah di dekat tempat kerja.” Tutur Ayu merasa sungkan, harus menumpang hidup di rumah orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan kerabat.
Minggu depan Dariel akan membawa istri dan anak-anaknya pulang ke Jakarta. Sementara Ayu memilih menetap.
“Jangan keluar mansion sayang, temani Oma ya.” Oma Anggi memeluk Ayu, tulus menyayangi gadis desa ini.
Sampai di mansion utama, Ayu membantu Oma turun dari mobil, berjalan bersama masuk ke dalam rumah, tertawa dan berbagi cerita lucu.
“Pa da da” celoteh Ethan Adrian.
“Apa sayang, Daddy Dariel belum sampai mungkin sebentar lagi.” Jawab Ayu polos, masih terus tertawa, sampai sosok di depannya membuat raga wanita ini menegang dan berhenti berjalan.
TBC
***
Kira-kira siapa yang diliat Bu Ayu?
Huaaa 1150 kata untuk bab ini
__ADS_1
Ditunggu dukungannya, terimakasih banyak 🤗😍