
Pada akhirnya aku percaya bahwa penantian panjang ku bisa membawa Aditya kembali padaku. Hari ini Aku mendapatkan hati suamiku. Ku pikir itu hanya bisa menjadi mimpi, kini mimpi telah menjadi kenyataan ~
"Aku tidak akan melepaskan mu, sekalipun kau menginginkannya"
"Jika suatu saat aku hilang, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku pasti akan menemukanmu ! Apa kau lupa Suamimu ini adalah Aditya, apapun bisa kulakukan jika ku ingin, termasuk mencarimu ke ujung dunia sekalipun".
"Kau selalu memanfaatkan kekuasaan mu.”
"Berhentilah bergurau, kita harus segera tidur sekarang".
"Baiklah, aku akan kembali ke kamar tidurku sekarang".
"Berhenti, aku tidak mengijinkan mu pergi. Suamimu ada disini Bianca. Mulai hari ini kau hanya boleh tidur disini bersamaku".
"Apa itu sebuah juga permohonan".
"Jika itu bisa membuatmu bertahan, tentu saja ini sebuah permohonan dan pemberitahuan. Kemari lah aku akan membuatmu tidur dalam pelukanku".
Malam ini untuk kedua kalinya, aku berada didalam dekapan Suamiku begitu dekat, nyaman, damai dan menghangatkan, hanya saja yang kali ini dia benar-benar dalam keadaan sadar. Aditya terus mencium kening dan kepala ku dengan sayang. Pelukannya yang begitu tenang membuatku terlelap disisinya.
Sementara Aditya masih dengan setia memeluk istri kecilnya yang sudah terlelap itu. Rasa penyesalan kembali datang padanya, kala ia terus menatap wajah Bianca.
Kenapa aku bisa menyakiti wanita sebaik ini? lihat saja begitu mudahnya dia memaafkan ku. jelas-jelas perbuatan ku padanya sangatlah fatal setahun belakangan ini, sekarang aku tahu kenapa dia istimewa, dia memang berbeda dari yang lainnya.
Namun bagaimanapun perasaanku sekarang, aku belum bisa mengatakan aku mencintainya, bukan karena aku tak ingin, hanya saja aku tak benar-benar yakin ini adalah cinta. Dan untuk wanita-wanitaku, aku mungkin bisa meninggalkan mereka semua, lagipula wanita-wanita itu cuma alat untuk menyakiti batin Bianca, bahkan menyentuh mereka saja aku tidak pernah. Tapi Kirana aku tidak bisa berjanji untuk meninggalkannya, bagaimanapun dia adalah kekasihku, wanitaku yang mengisi hidupku bahkan sebelum Bianca hadir, tidak semudah itu bagiku melepaskannya.
Untuk sekarang, ini akan lebih baik untukku, aku bisa menahan istriku dan kekasihku.
Ini hal ter-egosi yang pernah kulakukan, aku sangat serakah menginginkan keduanya.
Aku tidak bisa kehilangan salah satu dari mereka.
Dan untuk mu Istriku, maaf aku masih belum bisa sepenuhnya memberikan hatiku padamu. Namun jika suatu saat aku telah menemukan jawaban tentang perasaanku padamu, pada hari itu juga aku berjanji hanya akan mencintaimu seumur hidupku.
Jadi sekarang kau harus tetap bersamaku, agar aku bisa menemukan arti dirimu di hidupku.
__ADS_1
...----------------...
Pagi yang sejuk...
Ini adalah pagi pertama dimana Aditya adalah orang pertama yang kulihat di pagi hariku. Aku bisa dengan leluasa memperhatikan wajah suamiku yang masih tidur nyenyak, dia memang sangat tampan.
Ku letakan jemariku diwajahnya, menyentuh setiap jengkal wajahnya, kumainkan jariku di bulu mata lentiknya, hidung mancungnya, dan bibirnya, bibir yang sangat jarang sekali tersenyum ini.
"Apa yang sedang kau lakukan Istriku? " Dengan mata yang masih terpejam Aditya mengagetkanku. Aku segera menarik tanganku dari wajahnya.
"Kenapa kau menghentikannya" Aditya kembali bertanya.
"Apa, aku tidak mengerti maksudmu" Ucapku berusaha menutupi perbuatan ku.
Aditya terkekeh mendengar jawabanku, aku semakin yakin bahwa dia sudah terbangun sejak tadi. Aditya membuka matanya perlahan dan meraih tanganku, dan kembali meletakkannya kembali menyentuh wajahnya
"Kenapa kau begitu gugup Bianca? Pegang Lah" Perintahnya padaku.
Aku kembali menarik tanganku, namun tertahan olehnya.
"Adit lepaskan tanganku" Pintaku berusaha melepaskan tahanannya.
"Aditya, berhenti mempermainkan ku seperti ini, lepaskan ! " Ucapku memohon padanya.
"Ingat, Panggil aku Sayang" Titahnya lagi.
"Sayang lepaskan aku" Ucapku kembali memohon.
Perlahan tahanannya melonggar padaku, segera ku tarik tanganku dari wajahnya. Namun kali ini Aditya malah mendekap ku dengan peluknya begitu erat, dan membuat wajahku bersandar di dada bidangnya. Sekejap suasana menjadi hening, hanya ada nafas kami yang terdengar.
"Bianca bolehkah aku? " Tanya Aditya, aku mengerti yang dia inginkan, aku hanya menganggukkan kepalaku tanda bahwa aku menyetujuinya.
Kini tangan Aditya menjalar dileher ku, aku tidak dapat menunjukan reaksi apapun, aku hanya bisa memejamkan mata menikmatinya.
Aditya melahap bibirku, aku bisa merasakan bagaimana bibirnya mendarat di bibirku, sementara tangannya berjalan lincah di kepalaku, rambutku menjadi berantakan oleh jari-jarinya.
Aku mulai terbuai dengan permainan nya sekarang, ku kalung kan tanganku ke lehernya.
__ADS_1
Aditya terus ******* bibirku, aku membuka sedikit mulutku agar lidahnya bisa melakukan keinginannya disana.
Kali ini aku tak tinggal diam aku membalas ciuman Aditya padaku, dan dia memberiku jeda beberapa saat. Aditya membuka mulutnya dan membiarkanku menjelajahi apapun yang ada dalam mulutnya. Aku bisa merasakan betapa bergairahnya dia saat ini.
"Bianca, aku menginginkanmu" Bisik nya, membuatku merinding karena nafas yang dia hembuskan ke telingaku.
Aku terus menikmati perlakuan yang dia berikan, hingga kami sama-sama berhasil melepaskan seluruh pakaian kami bersamaan.
Terjadilah sesuatu yang seharusnya terjadi.
Setelah melakukan pekerjaan yang cukup menguras tenaga, merekapun beristirahat sebentar sampai akhirnya bangkit membersihkan dan merapihkan diri mereka masing-masing.
"Bersiaplah sekarang, aku akan membuatkan mu sarapan" Ucapku yang masih merasa malu setelah kejadian barusan. Aku juga dapat melihat Aditya tampak kaku sekali sekarang, terlihat jelas dari wajahnya.
"Baiklah !" Ucap Aditya singkat.
Kini aku benar-benar merasa menjadi seorang istri seutuhnya untuk Aditya, melewati malam dan pagi bersama, dan kini menyiapkan sarapan untuknya. Tidak pernah ku sangka akhirnya takdir memihak padaku.
Dari arah sana aku melihatnya melangkah dengan langkah pasti kearah ku, tidak ada lagi tatapan kebencian, tidak ada lagi wajah suram. Aditya, dia tersenyum, dan mengarah kemari, senyuman yang begitu hangat dari seorang suami. Hatiku dibuat meleleh olehnya.
Aku tidak pernah bisa berhenti memuji ketampanan Aditya, dia sangat tampan, dengan kemeja hitam dan jas hitam yang dikenakannya sempurna sekali.
"Adit, duduk lah aku sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untukmu" Ucapku menyambut kedatanganya.
"Istriku sangat pintar sekali mengurusku" Pujinya padaku.
"Jangan membual, makanlah segera" Pintaku padanya, Aditya terus saja menggodaku.
"Kau ingin, Aku memakan ini atau memakan mu sayang? " Tanya Aditya dengan tatapan nakal membuatku sedikit takut.
"Aditya! " Seruku.
"Aku hanya bercanda Istriku, duduklah kita makan bersama."
"Baiklah suamiku, aku akan menemanimu sarapan" Ucapku asal. Namun Aditya kembali menatapku dengan tatapan lembut.
"Aku lebih senang kau menyebutku suamimu sekarang. Terus lah memanggilku seperti itu istriku" Pinta Aditya.
__ADS_1
Pagi ini aku dan Aditya makan di satu meja makan yang sama, hanya ada kami berdua disini. Kuharap seterusnya pagi ku akan seperti ini bersamanya.