
BAB 75
Clarissa yang baru saja keluar dari pengadilan, melihat Dariel tampak tertawa bahagia. Memandang pilu dan nyeri hatinya. Semula ia pikir bisa bersama pria yang disayangi tapi takdir menjauhkan mereka.
“Pah, aku mau bicara sebentar dengan Dariel. Bisa tolong tinggal sebentar lagi?” Pinta Clarissa, tidak perlu lama hanya membutuhkan beberapa menit, selain menyampaikan permohonan maaf, ia juga merindukan suami dari adik angkatnya.
Tuan Dominique melarang putrinya menyakiti diri sendiri, mendorong kursi roda ke mobil mereka. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi oleh Clarissa, semua telah berakhir. Sekarang ia harus memulai hidup baru, lembaran baru bukan terpaku pada kenangan masa lalu.
“Pah, aku hanya ....” Clarissa tidak lagi bisa membantah perintah Tuan Dominique.
“Cukup, apa belum puas terluka karena pria itu? Dari jutaan masih banyak pria lain di dunia ini Ca. Jangan jadi pengemis cinta. Papa membesarkan kamu bukan untuk itu.” Telaknya, membantu Clarissa masuk mobil, lalu melipat kursi roda.
Sekilas wanita bermata sipit ini mencuri dengar suara Dariel, bibir Clarissa tersenyum tapi sesak dalam rongga dadanya.
Begitu lantang dan semangat seorang Dariel bicara dengan seseorang, sudah pasti Fredella.
"Maafkan aku Dariel. Maaf tidak bisa menyampaikan secara langsung, berbahagialah dengan Fredella.” Bulir bening menetes membasahi pipi mulus Clarissa.
Bisa menjauh bukan berarti melupakan, selama satu bulan lebih menghilang, tidak pernah sekalipun Clarissa berhenti memikirkan suami adik angkatnya. Hatinya tidak bisa berbohong, masih berharap bisa memiliki pria yang ia cintai.
Rasa yang terlanjur tumbuh tidak bisa menghilang dalam sekejap. Menimbulkan luka dalam karena mengikuti ego diri.
“Ayo pah, kita pulang. Aku tidak mau lagi berada di sini.” Clarissa membekap mulut meredam suara tangis yang mungkin keluar dari bibir.
Kepalanya menoleh ke sisi mobil masih tetap memperhatikan Dariel yang menyandar di badan kendaraan miliknya.
“Selamat tinggal Dariel.” Lirih Clarissa dalam hati.
“Ca, jangan larut dalam kesedihan. Masih ada papa di sini. Papa akan menjaga putri kesayangan papa, kamu harus sembuh papa yakin bisa. Kita kembali ke Liverpool, terapi kamu belum selesai.” Prioritas Tuan Dominique adalah kesembuhan Clarissa, ingin melihat putrinya kembali berjalan di atas kaki sendiri.
Dokter menyatakan, jika terapi tidak menunjukan hasil. Maka pembedahan akan dilakukan, bukan satu atau dua kali, mungkin puluhan sampai kedua kaki Clarissa bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Namun memiliki resiko, banyaknya tanda luka atau jaringan parut di sekitar kulit kaki, akibat adanya bedah berulang kali.
__ADS_1
Kendati masih rencana, tetapi Tuan Dominique akan memaksa putrinya menjalani pengobatan itu.
**
Kediaman Armend
Setelah pulang dari pengadilan, Ayu tampak lebih diam, tidak banyak bicara atau bertanya. Sesuatu yang ia butuhkan, lebih mencari tahu sendiri. Tidak ingin merepotkan siapapun, termasuk Bobby.
Ayu memilih ke dapur membuat susu sendiri, tawaran bantuan dari seorang asisten rumah diabaikan. Merasa tidak pantas, memanfaatkan semua fasilitas di rumah ini.
Tatapan Ayu lurus menghadap jendela, tanaman hijau bergerak ke kiri dan kanan seolah mengajaknya bicara dari hati ke hati. Sampai ia lupa tengah menuang air panas ke dalam gelas.
“Akh panas ... panas. Kenapa ceroboh, Ayu.” Gegas membasuh di bawah air mengalir, cukup lama berdiri, dan rasa terbakar masih belum hilang. Selain itu kulit punggung kakinya terciprat sedikit air mendidih, masih bisa ia tahan.
“Maaf sayang, karena mama ceroboh kamu tidak minum susu, sebentar lagi ya sayang.” Ayu membelai perut buncitnya.
Kemudian memijat pelipis, pening pada kepala, mendadak pusing dan sakit. Lalu mual melanda, asam lambung seolah naik melewati kerongkongan.
Bagaimana tidak asam lambung sejak pagi Ayu hanya menyantap buah-buahan sebagai pereda rasa masam di indra pengecapnya.
Pusing, mual, muntah, rutinitas Ayu sehari-hari, ia tidak pernah mengeluh sekalipun pernah masuk rumah sakit.
Sama seperti saat ini, penglihatannya buram, semua benda berubah menjadi tiga. Ayu ingin memanggil Bobby, tapi sayang belum sempat mengeluarkan suara, ia tersungkur, pipi mulusnya mencium dingin lantai marmer.
Samar-samar Ayu mendengar seseorang memanggil namanya.
“Non Ayu, ya ampun Non.” Teriak seorang asisten rumah. Segera menghubungi rekannya untuk meminta bantuan.
Dilihatnya tangan kiri memerah dan keriput, lalu bagian kaki terdapat luka yang sama. Asisten rumah tangga ini memanggil nama Tuan Muda.
“Panggilkan Tuan Bobby, Non Ayu pingsan.”
__ADS_1
Mengetahui istrinya tidak sadarkan diri. Secepat kilat Bobby membawa Ayu ke rumah sakit, sampai melupakan niatnya turun ke lantai satu untuk kembali ke kantor.
“Ayu kenapa bisa seperti ini?” Bobby memandangi wajah pucat pasi wanita yang terlelap di sisinya. Panik luar bisa, hal pertama yang ia pikirkan adalah bayinya, Bobby trauma kehilangan harta paling berharga.
Tiba di Instalasi Gawat Darurat, Ayu mendapat pertolongan pertama termasuk luka bakar pada tangan dan kakinya. Menunggu sampai lima belas menit akhirnya dokter umum keluar dari bilik pemeriksaan.
“Bob, istri kamu kelaparan. Suami macam apa pelit sekali, lebih perhatian lagi pada Ayu. Nanti setelah siuman tawarkan makanan tapi utamakan teksturnya lembut agar mudah diserap tubuh.” Tutur Dayana.
“Terima kasih Dayana. Lalu apa aku boleh masuk?”
“Oh ya tentu, kamu kan suaminya. Sebentar lagi dokter spesialis kandungan ke sini, sampaikan semua keluhan yang dialami Ayu.” Dayana menepuk bahu kekar Bobby.
Ayu masih belum membuka kedua mata sampai satu jam lamanya, bahkan setelah dipastikan keadaan janin baik-baik saja oleh dokter.
“Ayu, bangun ... anak kita memerlukan kamu, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa bisa kamu tersiram air panas dan pingsan? Dokter bilang kamu terlalu banyak memikirkan sesuatu. “ Bobby bicara seorang diri sembari menggenggam tangan kanan Ayu.
Tidak dipungkiri perasaan takut menyelimuti Bobby, berulang kali mengguncang pelan kedua bahu istrinya sama sekali tidak mendapat respon apapun.
Pihak rumah sakit memindahkan Ayu ke ruang perawatan, kondisinya masih dalam tahap pengawasan dokter.
Bobby tidak sendiri, Mami Kezia meluncur ke rumah sakit usai mendapat kabar dari asisten rumah tangga. Untuk kedua kalinya menantu cantik ini harus menginap di rumah sakit.
Mami Kezia khawatir terjadi sesuatu pada Ayu apalagi kandungannya. Sungguh tidak ingin kehilangan penerus keluarganya.
“Mami dengar dari Dayana, kalau Ayu kelaparan. Apa itu benar? Di mana kamu sebagai suami? Jangan ikuti jejak Papi kamu Bob, kalau sampai Ayu sakit, bagaimana? Otak kamu tidak berpikir sejauh itu, hah? Cucu mami harus lahir selamat tanpa kekurangan apapun, ingat itu Bob.” Ancam Mami Kezia sangat menginginkan kehadiran cucu.
Hari berganti menjadi gelap, Ayu masih enggan membuka kelopak matanya, Bobby setia menemani istrinya di sisi ranjang, ia bisa menangkap jelas kristal bening mengalir melewati pelipis Ayu.
...TBC...
__ADS_1