
📍Garden House
Setelah menemui Ayah dan Ibuku. Aku bisa sedikit bernafas lega. Aditya benar, mereka tampak baik-baik saja. Meskipun masih banyak hal yang harus kami selesaikan, tapi ini tidak bisa mengurangi kebahagiaanku sekarang.
“Sayang.. Terima kasih....” Seruku.
“Terima kasih? Untuk apa Bianca?.” Tanyanya binggung.
“Untuk semuanya, dan untuk ayah dan ibuku.”
“Apa kau lupa, mereka juga orang tuaku sayang. Tapi jika kau ingin beterima kasih, aku tahu hal yang bisa kau lakukan...”
“Apa itu...?.”
“Ayo kita kekamar sekarang... ”Ajak Aditya, bersemangat. kemudian membopong tubuhku menuju kamar.
“Hei hati-hati aku sedang hamil. ” Ucapku ketika Aditya mulai menaiki satu persatu anak tangga.
*****
Ariani sudah menerima kabar dari William. Bahwa Aditya dan Bianca sepakat menolak surat yang telah diberikanya. Bahkan Aditya sendiri yang menyobeknya.
Namun bukan itu hal yang ditakuti wanita paruh baya itu sekarang, tapi Bianca dan cucunya. Bagaimana dia bisa membenci wanita yang sedang mengandung cucunya, bahkan mungkin dialah penerus Herlambang Group setelah putranya kelak.
Dalam hati Ariani, masih sangat terpukul dengan kepergiaan Handoko, namun hari ini entah kenapa, saat mendengar Bianca sedang hamil, hati kecilnya turut bahagia akan hal itu.
Ya Tuhan... Anakku sedang hamil sekarang! Apa ini pertanda darimu, jika memang aku harus menghentikan semua perlawanan sia-sia ini. Apa ini pertanda bahwa aku harus mencintai menantuku itu lagi.
Bagaimana jika dia membenciku sekarang?
Suamiku? Apa kau baik-baik saja sekarang.
Aku masih sangat menyayangi putri kita itu.
Tapi mungkin mereka akan membenciku, setelah apa yang kulakukan untuk memisahkan mereka.
Ucap Ariani dalam hati...
Ditengah melunaknya hati Ariani, maka ada beberapa orang masih masih sedang berusaha mencari celah untuk masuk kedalam hubungan Aditya dan Bianca. Dan itu adalah Kirana.Dia sudah sepakat, dia akan mencari waktu untuk bertemu langsung dengan Bianca, bagaimanapun caranya. “Jika aku tidak bisa bersama Aditya, maka tidak boleh ada satupun yang akan bersamanya.” Begitu janji Kirana.
__ADS_1
Drett... Drett.. Drett... (Ponsel milik Kirana bergetar). Ini adalah ponsel baru yang Eric berikan untuknya, untuk mencegah seseorang melacak keberadaanya. Dia segera meraih benda pipih itu, kemudian menjawabnya.
“Halo, ada apa...? ." Tanya Kirana ketus.
“Apa yang kau lakukan? Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu, coba buka pesan yang ku kirimkan padamu sekarang.” Titah Eric. Kirana segera membukanya tanpa menutup telpon dari Eric.
“Astaga dari mana kau mendapatkan itu?. ” Tanya Kirana terkejut, seusai melihat apa yang Eric kirim untuknya.
“Semua sudahku rencanankan Kirana, malam saat pesta ulang tahun Bianca, diatas gedung Shimao aku sudah merekam semuanya. Kau dan Aditya.... Ini adalah senjata terakhirku, jadi bersiaplah menerima kehancuran Aditya dan Bianca segera.” Ujar Eric.
“Tidakku sangka itulah rencanamu, tapi aku tidak yakin soal itu, bagaimana jika Aditya membenciku.”
“Katakanlah padanya jika kau adalah korban. Kau tidak mungkin melakukanya, itu hanya mempermalukan dirimu sendiri. Media dan orang-orang akan tahu kau adalah wanita Aditya. Apa kau tidak mau itu terjadi? .” Tanya Eric.
“Baiklah. Mari kita lakukan.” Seru Kirana, menyetujui hal yang diinginkan Eric.
Ketika sebuah obsesi menjadi sebuah alasan cinta, maka akal sehat tidak benar-benar berarti lagi, ini hanya masalah hati. Kau harus siap sekalipun ikut hancur bersamanya.
Kembali kepada dua insan yang sedang memadukan cinta mereka diatas tempat tidur.
“Sayang, mengapa kau selalu secantik ini. Membuatku selalu ingin terus bersamamu.” Ucap Aditya memeluk tubuh ramping Bianca.
“Ya jika ada yang seperti itu, tentu saja.” Jawab Aditya dengan wajah serius, membuat Bianca tidak percaya dengan apa yang dikatakan suamainya itu.
“Adit. Kau keterlaluan sekali.” Seru Bianca.
“Hei... Aku hanya bercanda, tidak akan ada yang bisa menggantikanmu Bianca. Tidak ada yang secantik dirimu dimataku. Bagiku hanya ada satu wanita yang benar-benar membuatku bertekuk lutut dihadapanya, dan itu dirimu..” Ucap Aditya. Cup. Satu kecupan sayang diberikan Aditya dipucuk kepala Bianca.
“Mulutmu benar-benar manis sekali sayang. Awas saja kau sampai menduakanku, kau akan menyesal seumur hidup jika kehilanganku.” Ancam Bianca, dengan nada bercanda. “Tunggulah aku akan menyiapkan makan malam untukmu, suamiku sayang.” Ucap Bianca.
“Biarkan aku ikut sayang, aku tidak ingin jauh darimu. ” Ucap Aditya segera menyusul Bianca, yang sudah mengambil langkah jauh darinya. Kemudian dengan capat mengangkat tubuh Bianca dalam dekapannya.
“Turunkan Adit, aku bisa jalan sendiri.. ”
“Sttutss... Aku tidak ingin istriku kelelahan. Biarkan aku mengendongmmu sampai ke dapur.” Seru Aditya.
Aneh sekali, apa sekarang Aditya menyesal telah membuatku kelelahan karena ulahnya. Batin Bianca, sembari tersenyum menatap wajah suaminya yang dingin, namun tampan itu.
__ADS_1
Setelah sampai didapur barulah Aditya menurunkan istrinya.
“Kau ingin makan apa malam ini Adit... ” Tanya Bianca lembut, kemudian membuka kulkasnya untuk mencari sesuati didalamnya.
“Bagaimana jika soup, itu juga pasti baik untuk bayi kita sayang.... ”
“Ya baiklah. Duduklah disana aku akan membuat soup ayam spesial untukmu.” Suruh Bianca. Namun sepertinya Aditya tidak ingin melakukanya. Ia kembali mendekati istrinya kemudian memeluknya dari belakang.
“Sudah ku bilang sayang, aku tidak ingin jauh darimu...” Bisik Aditya, membuat Bianca merinding karena hembusan nafas hangatnya.
“Hei lepaskan aku, kau ingin makan atau memakanku? .”Tegur Bianca. “Baiklah karena kau ingin bersamaku, bagaimana jika kita masak ini bersama sayang.” Ajak Bianca, menaiki alisnya.
“Ide yang bagus, katakan apa yang harusku lakukan. ”
“Yang pertama harus kau lakukan adalah melepaskanku. Kemudian kau harus mengupas kentang dan wortel ! Apa kau bisa sayang. ” Tanya Bianca meragu.
“Jangan meremehkan ku...” Ucap Aditya kemudian mengambil kentang dan wortel.
Bianca hanya tersenyum melihat tingkah lucu suaminya itu, terlihat jelas bahwa dia sama sekali tidak dapat melakukannya. Tapi Aditya sudah berusah menjadi suami dan calon ayah yang baik sekarang.
🌺
🌺
🌺
Makan malam sudah jadi sekarang, Bianca menyiapkan soup dan Aditya menata piring diatas meja.
“Sayang, tuangkan soupnya untuk ku. ” Pinta Aditya, yang sudah duduk menanti soup yang terlihat lezat itu.
“Ini sayangku... ” Ucap Bianca kemudian menaruh semangkuk soup dihadapan suaminya. Kemudian duduk berdoa dan menyantapnya bersama.
“Sruuppss...”
“Mmmmh...” Gumam keduanya. Kemudian saling menatap. Dan tersenyum. Sepertinya mereka sama-sama terkejut dengan rasanya, yang enak dan lezat. Entah karena lapar, atau karen soup itu dibuat dengan bumbu cinta oleh keduanya.
Yang pasti mereka sama-sama sangat menikmatinya. ❤
___________________________________________
__ADS_1
“One cannot think well, love well and sleep well if one has not dined well.”
Seseorang tidak bisa berpikir dengan baik, mencintai dengan baik, dan tidur nyenyak jika belum makan dengan baik. Virginia Woolf.