IMPERFECT MARRIAGE

IMPERFECT MARRIAGE
Bab 85 - Tidak Ada Tangisan Lagi


__ADS_3

BAB 85


“Hey sayang, apa yang kamu rasakan?.” Dariel mengulas senyum, membelai puncak kepala istrinya, melabuhkan satu kecupan di kening Fredella.


“Hu’um, apa kita di rumah sakit? kamu mencari rumah sakit lain? Di mana? Anak kita ... anak kita, dia baik-baik saja kan?” Fredella memaksa bangun , menyentuh perut rata dan meneteskan air mata.


Seandainya tahu kalau hasil pemeriksaan hanya membuat sakit hati, lebih baik dia tidak pergi ke rumah sakit dan menunggu satu bulan lagi. Tapi bisa apa? Semua tidak ada yang tahu, bahkan seorang jenius pun tidak bisa menebak apa yang terjadi satu detik kemudian dalam hidupnya.


Fredella menangis sesenggukan di atas ranjang kecil klinik, hatinya sakit, kepalanya berpikir keras bagaimana cara merubah agar kondisinya menjadi lebih baik.


“Aku takut Dariel.” Tangis Fredella, tidak bisa lagi menahan sesak di dada. Dia perempuan normal yang juga bisa menangis saat mendengar kabar buruk tentangnya, apalagi kehamilan ini menjadi hal paling istimewa, diharapkan oleh Fredella.


“Tenang sayang, kita bisa melalui ini. Aku akan menyiapkan tim ahli gizi dan nutrisi untuk membantu menangani asupan makanan, mulai hari ini mohon bekerja sama, semua demi kebaikan kita. Kamu jangan takut, apapun yang terjadi kita selalu bersama.” Pungkas Dariel memeluk wanitanya, memberi ketenangan padahal dia sendiri diliputi kecemasan.


Dariel ingat bahwa Mama Nayla pernah mengalami hal serupa dengan Fredella, calon kakak Dariel dinyatakan tidak tumbuh dan gagal berkembang, sampai mamanya mengalami depresi akibat cukup lama tidak hamil lagi, akhirnya segala upaya dilakukan dan Mama Nayla diberikan dua bayi kembar.


“Aku mohon keajaiban datang, cukup istriku ini menderita, jangan ambil anak kami.” Batin Dariel, ia tidak mau calon anaknya pergi dan Fredella harus mengalami rasa sakit lagi.


“Tenang bagaimana? Aku tidak bisa diam saja Dariel, kamu tahu bagaimana perasaanku ketika dokter mengatakan itu semua? Sakit.” Tunjuk Fredella tepat ke dada.


“Aku tahu, aku juga sama. Jangan berpikir jadi satu-satunya yang paling takut kehilangan dan sakit hati, dia juga anakku Fredella, aku bertanggung jawab atas keselamatan kalian.” Dariel mulai terpancing emosi, tidak bisa mengendalikan apa yang menimpanya. Tanpa basa basi pergi keluar klinik, duduk bersandar di teras.


“Pak, minta tolong perawat untuk menemani istriku.” Memerintahkan sopir mencari perawat yang akan menjaga Fredella.


Dariel perlu menenangkan diri sejenak sebelum kembali masuk ke dalam, ia khawatir lepas kendali dan melakukan hal yang tidak semestinya.


Cukup lama Dariel dan Fredella berdiam diri, Fredella tetap diam dalam kamar, memandangi infus di punggung tangan, setiap satu kedipan mata bulir bening menetes tanpa mau berhenti. Rasanya dunia tidak adil, kenapa hanya ia yang mendapat masalah.

__ADS_1


Fredella iri dengan Ayu, wanita muda itu dapat menjalani kehamilannya tanpa ujian berat seperti dirinya. Merelakan satu saluran tuba falopi diangkat bukan hal mudah, ditambah beberapa dokter memvonis susah memiliki keturunan, dan akhirnya semua penantian berubah menjadi kebahagiaan, tetapi sekarang kehamilannya dikelilingi rasa takut.


Kisah yang harusnya berjalan indah, apa harus tertunda lagi? Atau mungkin berakhir dengan kesedihan?


Fredella melirik ke pintu, tidak ada tanda suaminya masuk, padahal sangat membutuhkan kehadiran Dariel. Kenapa pria itu tidak peka sama sekali, kalau istrinya sedang berada di fase paling rapuh sepanjang perjalanan kisah mereka.


Fredella ingat kalau tante Dariel adalah dokter kandungan terbaik, ia mengambil ponsel dan menghubungi Dokter Samantha, cerita segala keluh kesah dan mencari pertolongan.


Setelah hampir tiga puluh menit menumpahkan segala kegundahan hati, sekarang Fredella jauh lebih tenang, sebab semua penjelasan Dokter Samantha seolah menghipnotis agar dirinya tidak panik.


“Sayang? Maaf aku ... aku terbawa emosi.” Dariel masuk, langsung memeluk wanitanya, menepuk pelan punggung Fredella. “Ayo kita pulang, infus kamu habis, maaf sayang aku tidak bermaksud marah ...”


Fredella memotong sebelum Dariel selesai bicara beberapa kata lagi.


“Iya aku tahu, terima kasih Dariel.”  Senyum manis terukir di bibir merah delimanya.


Perawat membantu melepas selang infus dan menutup luka itu dengan sedikit kasa.


“Terima kasih.” Balas Dariel dan Fredella.


Pria jangkung dengan rambut coklat ini tidak mengizinkan istrinya berjalan sendiri, Dariel menggendong Fredella sampai masuk mobil. Apapun itu akan dilakukan, selama istrinya senang dan bisa mengalihkan pikiran Fredella dari hasil pemeriksaan siang tadi.


“Aku ini bukan anak kecil, masih bisa berjalan. Kamu berlebihan Dariel.”


“Tapi Nyonya layak mendapatkannya, kalau begitu aku bisa minta imbalan?” Menyeringai nakal diselingi alis yang sengaja turun naik.


“Apa? Jangan macam-macam ya, kamu tidak dengar dokter bilang apa?” Pungkas Fredella, ia tidak menyangka suaminya masih bisa berpikir untuk meminta sesuatu yang dilarang, sebab kondisinya saat ini tidak memungkinkan.

__ADS_1


TAK


Dariel menyentil kening Fredella, tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa istrinya memiliki pikiran seperti itu, tidak mungkin meminta imbalan dengan suguhan aktifitas panas.


“Sakit, kamu ....” Fredella mendelik tajam sembari mengusap kening yang terasa panas.


“Apa isi kepalamu hanya itu sayang? Ah rupanya Nyonya begitu menginginkan suaminya. Kalau begitu kamu harus tersenyum, tidak boleh sedih apalagi menangis, makan dengan baik dan selalu memberi ciuman untuk suamimu ini setiap hari. Itu yang aku inginkan, jangan ada air mata lagi sayang, Ok.” Dariel merangkul Fredella, sementara satu tangan lainnya membelai perut, ia ingin calon anaknya merasakan bahwa semua orang sangat menyayangi dan mengharapkan kehadirannya.


***


Rumah Keluarga Matthew


Fredella disambut oleh senyum keluarga besar, semuanya saling bertukar tawa satu sama lain, tidak ada seorang pun yang bertanya mengenai keadaan kandungannya. Sebelum pulang, Dariel lebih dulu memberi kabar kepada Mama Nayla dan Mama Mertua, sepakat tidak membebani ibu hamil itu, biarkan semuanya mengalir.


“Terima kasih ma.” Bisik Dariel tepat di telinga mamanya.


Bahkan Rico tidak segan membawa kekasihnya ke rumah, ikut berkumpul, lalu melamar calon istrinya tepat di depan keluarga.


Semua turut bahagia termasuk Fredella, selalu tersenyum dan tertawa melihat tingkah Rico. Kedua tangan memeluk erat lengan kekar suaminya , dan hal ini tidak lepas dari pengamatan seorang Dariel.


Dariel yakin istrinya akan baik-baik saja, tidak hanya mereka berdua yang berjuang tapi keluarga pun membantu, membuat suasana nyaman dan tenang.


TBC


***


Maaf ya kemaleman 🙏

__ADS_1


Hectic sekali hari ini, bolak balik Rumah Sakit🙏😅. Maka jangan heran kalau setting tempatku banyak di Rumah sakit, karena dalam real life mainannya ke RS 🤕🤕🤕


Ditunggu dukungannya, terima kasih 🙏


__ADS_2